Kasih yang Sempurna

Dua orang muda baru saja bertemu. Seorang berkata kepada temannya, “Cinta itu rumit ya, love is complicated.” Spontan temannya menjawab, “Bukan rumit, tapi kompleks, love is complex.” Dua kata tersebut mungkin menjelaskan situasi yang kurang lebih serupa. Akan tetapi ada dua nuansa yang berbeda dari kedua istilah tersebut.

Kompleksitas cinta adalah sesuatu yang nyata. Kendati demikian, hal tersebut bukanlah sesuatu yang rumit. Seorang bijaksana pernah berkata, tidak ada definisi dari cinta kasih selain dari pengalaman cinta itu sendiri. Kita tidak akan pernah bisa memberikan pemahaman akan cinta. Akan tetapi, setiap dari kita dapat memahami cinta melalui pengalaman yang nyata, yaitu pengalaman mencintai dan pengalaman dicintai.

Mari kita sekarang bersama-sama menguraikan kompleksitas cinta dalam kehidupan kita. Setiap pengalaman cinta membutuhkan satu orang yang memberikan cinta itu. Kita menyebutnya sebagai pribadi yang mencintai. Ternyata, cinta tidak pernah dapat terjadi hanya seorang diri. Pribadi tersebut membutuhkan orang lain yang menerima cintanya. Kita menyebutnya sebagai pribadi yang dicintai. Tidak cukup di situ, kedua pribadi tersebut tidak dapat melupakan satu hal yang menyatukan mereka berdua, yaitu sang cinta. Karenanya, kompleksitas cinta, dalam bentuknya yang paling sederhana, dapat diuraikan menjadi tiga pribadi, yaitu pribadi yang mencintai, pribadi yang dicintai, dan sang cinta itu sendiri.

Pada hari Minggu ini, kita bersama-sama bersyukur atas Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Banyak orang kudus berusaha untuk menjelaskan misteri kesatuan Allah dalam tiga pribadi, Bapa-Putera-Roh Kudus. Dari segala penjelasan itu, hampir semua sepakat bahwa misteri Tritunggal Mahakudus hadir dalam kesempurnaan kasih, yaitu pribadi yang mencintai, pribadi yang dicintai, dan sang cinta itu sendiri. Di dalam kasih itu, misteri Allah menjadi dapat dipahami oleh kita, karena setiap dari kita dapat turut merasakan kasih itu. Kita adalah pribadi yang mencintai, kita adalah pribadi yang dicintai, dan kita adalah sang cinta itu sendiri.

Dalam kasih, kita membuat hidup kita dipimpin oleh Roh Allah. Dalam kasih, kita menjadi anak-anak Allah. Dalam kasih itu pula, setiap penderitaan yang terjadi dalam hidup kita turut dipermuliakan bersama Kristus yang bangkit. (lih. Rm 8:14-17) Melalui pemahaman kita, kasih akan selalu menjadi sesuatu yang kompleks. Akan tetapi, dalam kehidupan yang nyata, kasih menjadi semakin nyata dan sempurna.

Pada akhirnya, kasih menjadi tanda kehadiran Allah Tritunggal di dalam hidup kita. Setiap kali kita mampu mengasihi sesama, di situ pula Allah semakin berkuasa atas hidup kita. Melalui kasih yang sama, kita turut memancarkan wajah Allah Tritunggal bagi sesama. Setiap kali kita mampu mengasihi sesama, di situ pula semakin banyak orang mengenal Allah yang mengasihi
semua orang. Itulah kuasa Allah yang diberikan Yesus kepada kita, yaitu kuasa untuk saling mengasihi satu sama lain. (lih Mat 28:18). Semoga kita semakin mampu untuk saling mengasihi satu sama lain. Tuhan memberkati.

Penulis : Rm. Albertus Bondika Widyaputra, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments