Kamu akan Kujadikan Penjala Manusia

Dalam kesempatan saya bisa mencicipi kehidupan para calon imam Keuskupan Agung Makassar, saya bersyukur bisa mendapat kesempatan belajar dari mereka. Pengalaman yang menarik adalah saat untuk mereka misa harian, dua dari mereka mendapat kesempatan dari romo untuk membaginya bersama kami yang hadir dalam misa. Dua calon imam mengangkat refleksi mereka dari keadaan di sekitar mereka seperti pengamatan obyek yang mereka temukan sehingga bisa dijadikan bagian refleksi

Pohon Pisang
Calon imam pertama mengamati pohon pisang dengan memahami dari kegunaan pohon pisang yang berguna dari batang pohon, daun, buah, sampai pada jantungnya. Calon imam ini kemudian memahami bahwa hidupnya hendaknya seperti pohon pisang yaitu pemberian diri secara utuh dan ditujukan pada pemberi kehidupan yaitu Tuhan. Calon imam ini memahami bahwa dirinya adalah alat yang dipakai Tuhan maka biarkan Tuhan menggunakan menurut kehendak-Nya. Hidup manusia bukan dilihat dari kegunaan akan satu aspek saja tapi juga dari aspek-aspek lainnya memiliki nilai guna masing-masing. Pengamatan akan pohon pisang dari susut pandang calon imam mendorongnya pada pemberian diri secara  utuh. Sedangkan untuk kitapun diajak kembali merenung tentang nilai diri kita yang Tuhan lihat dan bagaimana untuk rencana-Nya dalam hidup kita.

Kabut
Calon imam kedua mengajak saya merenung tentang kabut pagi hari di area Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani Keuskupan Agung Makassar. Calon imam ini merenungkan bahwa kabut menghalangi jarak pandang sehingga membuat kita untuk lebih waspada dalam melangkah. Calon imam menghubungkan kabut sebagai dosa-dosa kita yang membuat kita memiliki batasan dalam melihat atau mengaburkan pandangan kita. Calon imam dalam permenungannya menyadarkan saya untuk tidak terlena akan dosa-dosa kita seperti membiarkan kabut berada di sekeliling kita sehingga pada akhirnya membuat gerakan kita menjadi terbatas. Renungan calon imam tentang kabut mengajak kita meninggalkan kabut untuk bisa mendapat pandangan jelas dalam berelasi baik dengan Tuhan, sesama, sampai pada diri sendiri.

Penjala Manusia
Dengan dua analogi dari pohon pisang dan kabut mengajak untuk kita memaknai arti hidup kita. Calon imam pertama merenungkan tentang pemberian diri sementara calon imam kedua merenungkan tentang kesadaran diri. Dalam bacaan Injil yang kita dengar pada Minggu Biasa ke III tentang panggilan dari murid-murid Yesus yang pertama. Saat Yesus menyusur danau Galilea melihat dua orang bersaudara, Simon dan Andreas. Yesus berkata kepada mereka, “Mari ikutlah aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia” (bdk. Matius 4:18-19). Gambaran dari panggilan kedua murid dari penjala ikan menjadi manusia memberi arti seturut dari refleksi calon imam sebelumnya. Simon dan Andrea memahami bahwa kemauan mereka meninggalkan perahu mereka untuk mengikut Yesus dengan sadar dan juga pernyataan akan penyerahan diri mereka pada kehendak Tuhan.

Bruder, Suster, ibu, bapak, dan saudara terkasih.
Permenungan pada Yesus yang memanggil murid-murid-Nya, mengajak untuk kita menyadari arti panggilan hidup kita dan memaknainya. Kisah refleksi dari dua calon imam yang melihat keadaan sekitar untuk memaknai hidup adalah juga cara Tuhan mengajak kita memahami dari hal-hal kecil begitu bermakna. Selain itu juga untuk kita bersyukur bahwa hidup kita memiliki arti sebagaimana pohon pisang dan perlu diperjuangkan agar kabut dosa kita lenyap sehingga pandangan kita pada Tuhan semakin jelas.

Penulis : Rm. Camellus Delelis da Cunha, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments