Kevin… besok jangan lupa datang ya… ada hadiah loh Ada hadiah yang Kevin mau…Kevin datang yaaaaa
Suara itu terdengar samar-samar di telingaku, dalam kamar yang masih sunyi, gelap dan belum masuk cahaya sama sekali.
“Vin… Kevin… bangun nak, udah pagi, ayo… nanti kamu telat”
Setelah mendengar suara ini, akhirnya aku tersadar. Bahwa yang kudengar tadi tidaklah nyata. Tapi mengapa bisa aku memimpikannya. Dengan lekas aku beranjak dari kasurku, melaksanakan perintah dari mama yang sudah memanggilku sejak 5 menit yang lalu. Setelah berdoa dan merapikan Kasur, aku pun berbenah diri. Lalu masuk ke ruang makan keluarga. Ada Ayah, mama dan Adik yang sedang menyantap roti selai buatan mama.
“Kevin udah siapin semua perlengkapan buat pergi?” tanya Papa “ Udah, Pa, aku bawa Alkitab, kolekte, dan tumbler”
“Alat Tulis, gak di bawa?” tanya Mama “Buat apa, Ma?”
"Kan ada games? Gak perlu ya?” tanya mama kembali
“Yeyyyyy nanti Kak Kevin dapat hadiah” seru Adikku
Mendengar seruan adikku, aku teringat dengan mimpi aneh pagi tadi, yang masih terngiang di kepalaku. Apa benar ini pertanda aku akan dapat hadiah nanti. Penerkaanku memang sungguh aneh, tapi memang dalam sedikit mengharapkan bahwa mimpi itu benarbenar menjadi kenyataan.
“Kevin… ayo cepat habiskan rotinya, pagi-pagi jangan banyak mengkhayal” seru Mama
Setelah menyantap roti, aku mengambil tas dan menuju mobil. Kali ini Mama yang mengantarku pergi ke tempat berkumpul kegiatan Bina Iman Remaja Sektor Taman Sentosa. Kegiatan kali ini adalah berkumpul menggelar kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional. Kegiatan ini biasanya diadakan dibulan September disetiap tahunnya dalam penanggalan liturgi Katolik. Kali ini akan ada banyak teman lagi yang ku temui dari berbagai lingkungan yang ada di Sektor Taman Sentosa. Aku berasal dari Lingkungan Yohannes Bosco, dan di lingkunganku hanya ada 6 orang anak Bina Iman Remaja.
Kegiatan kami dalam BIR biasanya adalah ibadah singkat, membaca dan memahami injil bersama dengan kakak Pembina, agar kegiatan kami tidak terlalu monoton selalu diselingi dengan beberapa permainan yang sesuai dengan bacaan injil dalam materi setiap pertemuan. Aku sangat penasaran dengan kegiatan kali ini. Apa yang spesial, yang akan kudapatkan nantinya.
Di tengah perjalanan, masih saja aku memikirkan hal yang kumimpikan tadi pagi. Tak habis pikir, akhirnya aku mencoba bertanya pada mama.
“Ma, Gimana ya, kalau Kevin dapat hadiah?” ucapku
“Bagus dong kalau dapat hadiah..” jawab Mama
Aku senang mendengarkan jawaban Mama yang singkat itu. Walaupun bukan itu targetku untuk mengikuti kegiatan BKSN kali ini. bertemu dengan teman seiman adalah hal yang lebih bermakna. Saat sudah sampai di lokasi kegiatan aku bertemu dengan teman-teman BIR satu lingkungan dan lingkungan lainnya. Ada Adrian dari Lingkungan Paulus II, ada Lintang dari Lingkungan Gregorius. Walau belum semua yang aku kenal, namun mereka sangat ramah dan saling bertukar sapa.
Kegiatan dimulai dari pukul 08.00 WIB, dihadiri oleh anak-anak Bina Iman remaja dan para Pembina dari 4 lingkungan, yaitu Yohannes Bosco, Gregorius, Yohannes Paulus II dan Benediktus. Penutupan BKSN kali ini dihadiri oleh Frater Marcellino Mario. Kegiatan dimulai dengan doa, dan bernyanyi, Ice breaking. Kini tiba waktunya mimpi itu akan kuwujudkan, kembali ingatan itu muncul di kepalaku.
Setelah mendengarkan Bacaan Alkitab yang dibawakan oleh Frater, kini saatnya kami membahas dan merenungkan isi Kitab suci dengan bimbingan Frater. Pertanyaan pertamapun dimulai, dengan syarat yang menjawab harus mengangkat tangan terlebih dahulu. Ketika mengangkat tangan, aku baru menyadari bahwa lengan ku terasa sakit. Karena tergelincir di kamar mandi. Walau sudah dua minggu lamanya, tapi masih terasa sakit. Yang akhirnya aku tak bisa mengangkat tangan terlalu tinggi.
Alhasil, untuk pertanyaan pertama, aku gagal. Teman-teman yang lain sudah mendahuluiku untuk menjawab pertanyaan itu. Aku tak mau putus asa karena hal ini, ini baru pertanyaan pertama. Aku pasti bisa, bisik hatiku. Pertanyaan kedua dimulai, frater kembali menyebutkan pertanyaan “Bab apa yang terpanjang dan terpendek dalam injil Mazmur?”. Semua dengan cekatan membuka alkitab, dan aku semakin kebingungan karena hampir tidak fokus membuka lembar demi lebar isi alkitab tersebut. Tepat sudah kutemukan ayat tersebut dan saat untuk mengangkat tangan.
Perasaanku sudah berdebar-debar, seketika terasa berhenti karena rencana kedua gagal kembali, ada yang lebih cepat dariku, Dionisius menjawab pertanyaan itu dengan sangat cepat. Rasanya lelah, berkeluh kesah bukan waktu yang tepat saat ini. aku mengambil napas sejenak, agar bisa tetap fokus kembali. Pertanyaan ke 3 aku tak boleh mengalah lagi. Tenyata, bukan hanya semangatku yang terlalu membara. Temantemanku juga merasakan hal itu. ini yang membuat games menjadi semakin sengit, kerena tidak ada satu kesempatan untuk menjawab dengan santai. Begitu pertanyaan ke tiga diucapkan, sama hal lagi bukan aku lagi yang menjawabnya.
Aku menghela napas dengan kesal, bisa-bisanya aku melewatkan hal ini pikirku. Hati ini mulai pasrah, tak berharap lagi untuk mewujudkan mimpi aneh tadi pagi. Jalani saja sesuai dengan jalurnya, batinku. Pertanyaan ke empat di mulai. Aku menarik napas kembali, fokus dengan pertanyaan yang dilanturkan. Kali ini aku berhasil mengangkat tangan. Senang sekali akhirnya berkesempatan untuk menjawab.
“Injil apa yang menjelaskan tentang patah hati dari pembahasan kita tadi?”
Seketika pikiranku kosong dan termangu menatap teman-temanku yang sedang memperhatikanku. Kemudian jawaban asal-asalan kulontarkan begitu saja “Matius 3 : 24” jawabku. Perasaan bersalah muncul dalam batinku. “Maaf sekali, masih kurang tepat, ada yang lain?” tanya Frater. Aku kembali ke tempat dudukku, aku sangat bersedih, walau berpura-pura memasang wajah yang tegar. Aku memperhatikan teman-temanku yang sangat antusias dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tampak dari wajah mereka yang sangat berseri-seri dan sangat bergembira dalam kegiatan itu. Batinku berkata bahwa untuk apa mempercayai mimpi yang tak akan pernah terjadi. Walau aku sedang berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah yang menurutku sudah sangat kesal, karena dengan gampang mempercayai mimpi.
Pertanyaan ke lima dan merupakan pertanyaan terakhir. Frater meminta semua anak-anak agar tetap fokus mendengarkan pertanyaan terakhir.“ Berapa Pasal/Bab yang terdapat dalam Kitab Mazmur?” tanya Frater. Mendegar pertanyaan itu, semua sangat sibuk dan antusias untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu. aku hanya memperhatikan kegiatan mereka. Namun, anehnya dengan spontan aku mengangkat tangan. Aku dipersilakan ke depan dan langsung menjawab “ Perkenalkan Saya Amadeus Kevin Prakoso dari lingkungan Yohannes Bosco dan jawabannya adalah 150 Pasal”. Mendengar aku menjawab pertanyaan itu, semua menghentikan aktivitas pencarian mereka.
Jawabanku kali ini benar, hal yang sudah kupasrahkan, tak menyangka bisa kulakukan dari kegagalan-kegagalan yang terjadi sebelumnya. Hadiah itu sudah kuterima, dengan hati yang sangat bangga dan aku menerimanya dari Frater. Games itu berakhir, lalu Frater memberikan sebuah pesan yang menurutku sangat mengena untuk hal yang ku alami saat ini.
“Hadiah yang kalian terima tadi, itu bukanlah semata tentang materi dan apa isi hadiahnya. Tapi ini merupakan perjuangan kalian dalam meraih sesuatu yang bermakna dalam hidup Adik-adik sekalian, yaitu kebahagiaan. Frater berharap, adik-adik sekalian harus menerapkan ini di kehidupan”.
Aku menyadari bahwa pesan yang disampaikan oleh Frater yang tadi, berhubungan dengan mimpi yang ku alami pagi hari tadi. Sebelum aku datang bergabung kegiatan BKSN, ada yang ingin disampaikan oleh Tuhan kepadaku. Namun, aku masih menerkanerka sampai saat ini.
Saat pulang dari kegiatan, aku dijemput kembali oleh mama. Di dalam mobil aku menceritakan bagaimana serunya kegiatan BKSN BIR Sektor Taman Sentosa. Lalu mama mengingatkan ku tentang mimpi tadi.
“Gimana Mimpinya? Kenyataan gak?” “hmmmmm bisa di bilang Ma.” Kataku sambil menunjukkan hadiah itu.
“Tapi aku masih penasaran, kenapa mewujudkan mimpi itu harus se effort itu ya, Ma?” tanyaku kembali. “maksudnya bagaimana?” tanya Mama kebingungan.
“Tadi saat games, aku mengalami beberapa kegagalan, selama menjawab pertanyaan yang di ajukan Frater. Aku hampir tak percaya kalo mimpi itu bisa jadi kenyataan, dan aku hanya berpasrah saja. Aku kesal dan juga marah sama diri sendiri. Aku dapat hadiah ini di pertanyaan terakhir. Dengan hal yang tidak kuduga” jelasku pada Mama
“Oke sekarang mama tanya sama kamu, untuk mewujudkan yang kamu mimpikan tadi, awalnya kamu masih gagal kan?”
“Iya Ma”
“Gimana cara kamu menghadapi kegagalan itu?”
“Awalnya sihhhh sedih, gak bisa jawab, tapi setelah itu aku mengubah cara/ tips aku dari cara yang sebelumnya” “berarti kamu butuh perjuangan kan?” “Betul banget, Ma”
"Nah, jadi sebenarnya Hadiah yang dimaksud dari mimpi Kevin tadi pagi itu adalah pengalaman kamu pagi ini, kamu bisa berjuang melawan rintangan, walau sedang panik, dan bingung Kamu bisa menyelesaikannya dengan tuntas dan pantang menyerah. Urusan kamu dapat Hadiah atau tidak, itu hanya bonus saja”
“Wah, iya juga ya Ma. Ternyata hadiah itu bukan tentang Wujud barang atau materi. Benar juga yang dibilang Frater tadi. Makasih banyak Mama udah kasih penjelasan ini. aku senang dapat pengalaman berharga ini” Aku bakalan rajin ikut kegiatan BIR lainnya.
Aku akhirnya menyadari, bahwa mimpi diwujudkan tanpa adanya proses perjuangan hasilnya akan sia-sia. Pantang menyerah adalah kuncinya, dan tidak lupa menyertakannya dalam doa. Pengalaman ini aku sebut sebagai Kado BKSN untuk diriku.
Liputan dan Foto : Dear Purba