Saudari saudara yang terkasih, minggu ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Dogma ini dikeluarkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 yang berjudul Munificentissimus Deus. Pengangkatan Bunda Maria ke surga memberikan pengharapan bagi penggenapan janji Allah kepada semua umat beriman yang setia.
Seperti tema kita hari ini “Jiwaku Memuliakan Tuhan”, Maria tidak semata-mata langsung memuliakan Allah, tetapi melalui pergumulan hidup yang terjadi atas dirinya. Sewaktu mendapat kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan melahirkan Juruselamat, dalam percakapannya kita dapat melihat ketakutannya sehingga malaikat berkata “Jangan takut hai Maria” dan kebimbangannya “bagaimana mungkin hal itu terjadi karena aku belum bersuami” tetapi semua itu Maria percayakan seluruhnya kepada Allah dan berkata “sesungguhnya aku ini hamba Allah terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Dan melalui perjumpaannya dengan Elisabet dan mendengar apa yang dikatakan Elisabet, Maria mengidungkan Pujian bagi Tuhan yang juga disebut kidung Maria/Magnificat.
Ada seorang pemuda yang kurang percaya akan Tuhan, ia mengenal Tuhan hanya pada masa kecilnya yang dibimbing ibunya, tetapi sayang ibunya terlalu cepat meninggalkan dia. Hari berganti hari ia semakin melupakan siapa Tuhan dan hidup dengan moral yang tidak baik, bermain judi, hidup foya-foya dll. Pada suatu hari ia melakukan pelayaran di tengah laut. Tiba-tiba datang ombak yang besar dan menerpa kapal itu. Ia mulai ketakutan dan dalam ketakutannya ia mulai berdoa “Ya Tuhan jika Engkau benar, Engkau pasti menepati janji-Mu,ampuni aku dan selamatkan aku”. Setelah ia berdoa keajaiban terjadi. Badai mereda dan ombak pun menjadi tenang, ia begitu bersyukur kepada Tuhan karena kebaikan-Nya.
Dalam ketakutan ketika mempercayakannya kepada Tuhan, akan ada kekuatan yang memberikan keajaiban. Dalam keajaiban akan ada syukur. Dalam syukur terdapat nada kekaguman, keindahan dan penghormatan kepada Tuhan yang berkarya atas hidup kita. Setiap orang yang percaya tentu akan terus memuji Tuhan atas kebaikan dan kebesaran-Nya. Saudari-saudara yang terkasih, seperti dalam injil Lukas ayat 46 Maria yang memuji karya Tuhan yang besar atas hidup dan bangsanya dan merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya sehingga beroleh kasih karunia dari Tuhan. Bagaimana dengan kita? Memang benar ketika dalam sukacita kita dengan mudah memuji Tuhan, tetapi mampukah kita memuji Tuhan saat kita kehilangan orang yang sangat kita kasihi, saat kita ketakutan, saat kita sedih, saat kita terpapar karena sakit, atau saat-saat yang begitu sulit sehingga membuat kita putus asa dan tidak memiliki harapan?
Saudari-saudara yang terkasih, jangan menghitung masalah yang kita hadapi, tetapi marilah kita menghitung rahmat yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita setiap hari agar kita dapat memuji-Nya setiap waktu. Bunda Maria adalah teladan Iman yang setia pada karya dan rencana Tuhan dan senantiasa memuji Tuhan. Dengan pengangkatan Bunda Maria, kita juga berharap dengan iman dan kepercayaan kelak akan diangkat ke surga.
Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa