Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini kita telah memasuki Pekan Paskah VI. Tidak terasa sebentar lagi kita akan sampai pada Hari Raya Kenaikan Tuhan. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, bacaan Injil hari Minggu ini, berbicara perihal peran Roh Kudus dalam hidup kita semua. Sebagaimana ditegaskan dalam kitab Kisah Para Rasul, bahwa Para Rasul menjadi sangat berani setelah kebangkitan karena dihembusi Roh Kudus oleh Yesus saat menampakkan diri. Roh itulah yang membuat Petrus dan para murid lain begitu berani mewartakan kebangkitan Kristus kepada segala bangsa. Padahal kita ingat saat Yesus di hadapan Pilatus, Petrus begitu tidak berdaya di hadapan seorang perempuan penjaga istana.
Bahkan pasca kebangkitan. Para Rasul hidup dalam tekanan ketakutan dengan pintu-pintu selalu terkunci. Roh Kudus itu menjiwai para rasul dan tua-tua yang mengambil keputusan penting memilih dan mengutus Yudas dan Silas menyertai Paulus dan Barnabas di Antiokhia untuk mewartakan Injil. Roh Kudus adalah kekuatan batin yang menggerakkan siapa pun untuk berbuat baik. Melalui pengalaman Para Rasul inilah kita semua diajak untuk dapat meneladani sikap yang harus kita terapkan dalam hidup kita semua sebagai pengikut Kristus: "Janganlah gelisah dan gentar hatimu". Sebab Roh Kudus akan selalu menerangi hati dan pikiran kita dalam menjalani kehidupan yang dianugerahkan Tuhan dalam hidup kita semua.
Demikian juga dalam Injil Yohanes, Yesus mengingatkan kita semua bahwa Ia telah mewariskan Roh Kudus yaitu “penghibur yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh 14:26). Roh itu berdiam di dalam nurani kita. Gereja mengajarkan bahwa hati nurani menggerakkan dan mendorong kita untuk berbuat baik dan hidup sebagai manusia yang benar di tengah dunia. Suara itu kadang menyiksa kita ketika kita dikuasai oleh keinginan-keinginan buruk dan jahat. Suara itu akan mengingatkan kita akan kata dan ajaran Yesus sebagaimana yang Yesus sampaikan dalam Injil. Suara itu mendorong kita untuk lebih berani hidup sederhana tapi, tulus jujur dan benar. Orang yang hidup tulus dan jujur mengalami kegembiraan dan sukacita tanpa beban pikiran. Sehingga kegelisahan dan ketakutan takkan menggeluti kita lagi dalam mengarungi kehidupan sehari-hari yang kita jalani.
Selain itu, Yesus menjanjikan kepada manusia damai. Damai yang tidak berasal dari dunia ini, melainkan damai yang didasarkan pada hubungan ilahi. Damai yang adalah suatu situasi penyelamatan, yang timbul dari kerahiman Allah yang mau menyelamatkan manusia. Damai ini adalah pemberian tetapi sekaligus tugas. Pemberian karena datang dari karya Allah, tetapi juga tugas karena masih menjadi sebuah tawaran bagi manusia. Manusia harus mampu menawarkan kepada sesama damai ilahi itu. Yesus meminta kita semua pengikut-Nya untuk tidak gelisah dan gentar hati, ketika Yesus pergi kepada Bapa. Kita hanya menjadi gelisah dan gentar bila kita tidak hidup dalam damai, dalam kasihNya, bila kita tidak mengasihi-Nya, tidak mengikuti perintah-Nya
Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, melalui Sabda Tuhan yang telah kita dengarkan hari ini, kita diajak untuk semakin mendengarkan bimbingan Roh Kudus dalam hati kita semua. Dengan mau menjadi pribadi yang hidup dalam damai dan kasihNya, sehingga rasa gelisah dan gentar tidak akan menggeluti hati kita. Semoga dengan renungan hari ini semakin memampukan kita untuk lebih mendengarkan suara hati dalam mewujudkan kasih yang dari Kristus terhadap semua orang yang ada di sekitar kita.
Penulis : Sr. Imelda Sianipar, SFMA.
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa