Pada tanggal 6-7 Juli 2024, kakakkakak perwakilan pendamping BIA-BIR PCGIT mengikuti kegiatan Jambore yang diselenggarakan oleh KAJ di Soekapi Camping Ground, Bogor Jawa Barat. Pendamping BIA-BIR dari PCGIT yang mengikuti Jambore ini ada Kak Tere, Kak Rosa, Kak Lenti dan Kak Lisma. Berangkat dari Cikarang pada pukul 09.45 perjalanan kami diiringi hujan deras, puji Tuhan kami sampai di Lokasi camping pada Pukul 14.30 dengan aman.
Sesampainya di lokasi, kami melakukan registrasi dan diberikan topi, welcome snack dan minuman hangat. Ternyata sudah banyak yang hadir kakak-kakak pendamping BIA-BIR dari berbagai dekenat yang ada di KAJ. Walau hujan deras dan semakin sore semakin dingin, tetapi kami tetap bisa menciptakan suasana suka cita dan gembira dengan saling sapa, berkenalan, tertawa, bernyanyi bersama, sampai menari tobelo bersama sambil panitia membagi tenda untuk tempat kami istirahat. Sembari asyik menari bersama, hujan pun mulai reda dan kami mulai bergegas menuju tenda masing-masing. Pendamping BIA-BIR dari Paroki Cikarang tidak berada di satu tenda tetapi digabung dengan paroki lain dari dekenat Bekasi tetapi tendanya berdekatan sehingga kami tetap bisa saling berbagi cerita sesama pendamping BIA-BIR seDekenat Bekasi.
Kami diberi waktu untuk istirahat dan mandi sebelum lanjut kegiatan malam. Pada pukul 18.30 kegiatan dibuka dengan sesi bersama Pak Frans Widiyanto, S.Ag.,M.Hum dari Komisi Kateketik KAJ. Pada sesi ini Pak Frans menyampaikan bahwa menjadi pendamping iman BIA-BIR sama dengan menjadi seperti garam pada masakan, secukupnya, melezatkan rasa masakan dan menjadi seperti lilin yang menerangi seluruh ruangan. Who am I?? begitu pertanyaan refleksi bagi para pendamping BIA-BIR, saya ini siapa? Apakah saya layak melayani? Apakah saya bisa turut serta dalam proses perkembangan iman para BIA-BIR??. Apakah saya bisa merubah cara mengajar saya untuk BIA-BIR? Mampukah saya menjadi terang dan garam dunia? Kita harus berani mengantar teraang untuk membangun BIA-BIR menjadi terang juga bagi sesama. Life is too short, ada 4 (empat) hal yang tidak bisa diambil kembali yaitu:
1. Batu yang dilempar2. Kata-kata yang diucapkan3. Kesempatan4. Waktu yang telah berlalu
Kita harus mengajar dengan kejujuran dan keterbukaan, mendampingi anak BIA-BIR dengan kesungguhan dan mencintai pelayanan yang nantinya akan berubah baik. Setelah sesi bersama pak Frans, pada pukul 20.00 kita makan malam bersama.
Setelah makan malam kita lanjutkan sesi bersama Romo Uut dengan topik “Alasan Perutusan”. Apa yang dibutuhkan adalah kemampuan memupuk ruang batin yang dapat memberi makna Kristiani pada komitmen dan kegiatan (Evangelii Gaudium 262) begitu Romo Uut membuka sesi. Kita diingat kan akan sakramen inisiasi penuh dan pentingnya Ekaristi. Menjadi pendamping iman BIA-BIR tentu harus memahami bahwa proses pertumbuhan iman anak dibarengi dengan penerimaan sakramen inisiasi. St. Agustinus menggambarkan sakramen-sakramen inisiasi dengan proses pembuatan roti. Dalam membuat roti dibutuhkan bahan-bahan seperti tepung, gula, susu, dan ragi. Bahan tersebut harus digabung menjadi adonan dan dimasukkan ke dalam pemanggang sehingga menjadi roti yang bisa dimakan. Proses ini sama dengan penerimaan sakramen-sakramen inisiasi pada BIA-BIR. Iman terbentuk tidak dengan cara yang instan tetapi ada tahapan-tahapan yang harus diikuti. Jaman sekarang ini, hidup kita tidak luput dari teknologi khususnya perkembangan sosial media yang memudahkan kita mendapatkan informasi. Dalam proses pendampingan iman BIA-BIR, sebaiknya tetap menjadikan kitab suci sebagai bahan acuan dalam pembinaan. Tidak ada BIA tanpa kitab suci.
Romo Uut menyampaikan materi dengan gaya yang ceria dan tentu saja lucu yang membuat kita semua tetap merasakan suasana hangat walau suhu udara dingin di dalam tenda yang terbuka. Nampak sekali semangat dan senyuman manis dari kakak-kakak pembina BIA-BIR yang berasal dari berbagai generasi dan usia. Setelah selasai sesi Bersama Romo Uut, dilanjutkan dengan sesi Bersama Kak Vivin dari Komisi Kateketik KAJ. Sebelum masuk ke sesi, kak Vivin mengajak kami semua bernyanyi “satu satu” lagu dari idgitaf. Lagu yang bercerita tentang proses memaafkan dan mengingatkan diri sendiri bahwa masa depan masih ada. Kami dengan kompak bernyanyi bersama dan ternyata lagu ini tidak hanya disenangi oleh anak-anak muda tetapi juga orang tua. Kak Vivin menyampaikan banyak hal terkait pendampingan iman supaya BIA-BIR itu lebih mencintai Ekaristi.
Kegiatan BIA-BIR biasanya diisi dengan bernyanyi, menggambar, mewarnai, berdoa dan membaca kitab suci. Untuk memahami suatu benda, anak butuh stimulasi indrawi (sensori). Misalnya untuk mengenali buah semangka, dibutuhkan indra penglihatan untuk melihat langsung buah semangka, untuk merasakan rasa buah semangka anak menggunakan indra pengecap. Jadi agar anak mendapat pengertian/pemahaman/memori terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya, kita perlu mengupayakan CARA ANAK yaitu memperkenalkan segala sesuatunya dengan penginderaan (sensori) dan gerakan (motorik).
Kebiasaan apa saja yang perlu dibangun agar ANAK KATOLIK bertumbuh dan memiliki MEMORI dan KERINDUAN IMAN KATOLIK?? Dalam sesi Bersama Kak Vivin disampaikan sudah seharusnya anak BIA-BIR mendapat lebih banyak pengalaman mengikuti perayaan Ekaristi di gereja. Tentu saja bukan hanya pendamping BIA-BIR yang terlibat tetapi yang lebih utama ada keluarga. Ketika ikut serta dalam perayaan Ekaristi, anak akan mengetahui urutan Misa dan segala rangkaian kegiatan selama perayaan Ekaristi. Membuat tanda salib, berlutut, bernyanyi, menerima berkat, berdoa, menghirup aroma dupa di sekitar altar dan bertemu wajah ramah di gereja. Pengalaman ini harapannya akan membuat anak merindukan perayaan Ekaristi setiap minggunya. “Children Learn What They Live” begitu kata Dorothy Law Nolte + Maria Finetta. Anak akan meniru apa yang mereka lihat. Apa yang dilakukan orang lain, anak akan melakukannya juga. Kak Vivin menambahkan “Jika anak dibesarkan dengan Kitab Suci, ia belajar memandang kehidupan dengan kaca mata ilahi Jika anak dibesarkan dengan Teladan Kisah Injili, ia mewarisi cara hidup Tuhan Yesus Jika anak dibesarkan dengan Ekaristi, ia belajar hidup suci”.
Sesi berikutnya dibawakan oleh Kak Kristiandi Yuniarto (Kak Kris) dari Paroki Cilincing. Pada sesi ini juga ditegaskan mengenai formation iman berkelanjutan anak yang dimulai dari kelas baptis bayi, dilanjut kelas persiapan Komuni (BIA), kelas persiapan Krisma (BIR), lalu menjadi OMK. Untuk BIA itu sendiri mulai dari usia 6-10 tahun.
Untuk kelompok Remaja Katolik mulai dari usia 10-15 tahun. Visi BIA-BIR yaitu “Anak dan Remaja katolik mengalami persaudaraan dan kasih sayang yang mencerminkan kehadiran Kristus, sehingga mereka dapat merasakan Gereja sebagai rumah kedua mereka”. Tetapi untuk misi BIA dibedakan dengan BIR. Inti dari misi BIA adalah memperkenalkan anak pada pribadi Kristus dan mempersiapkan anak mengenal kebiasaan/tradisi Katolik. Sementara inti dari misi BIR adalah membangun persaudaraan remaja Katolik dan mempersiapkan remaja untuk menjadi orang muda Katolik (OMK) yang berkarakter peduli dan mencerminkan nilai-nilai kasih.
Bagaimana pembinaan iman BIA-BIR di Paroki saat ini? Pertanyakan refleksi bagi kita semua umat bukan hanya pembina BIA-BIR. Karena sejatinya perkembangan iman anak itu fondasinya ada di keluarga, lalu dikembangkan di lingkungan gereja dan masyarakat. Remaja Katolik adalah anak berusia 10-15 tahun dan ada banyak kegiatan di gereja yang saat ini sudah banyak diminati oleh remaja seperti menjadi Misdinar, Lektor /lektris, Pemazmur, Paduan suara, Legio Maria, olah raga, kesenian, dan lain-lain. Jika anak remaja Katolik sudah banyak aktif dalam kegiata-kegiatan di atas, harapannya imannya semakin hari semakin dewasa dan siap menjadi orang muda katolik yang berkarakter. Informasi yang sangat penting juga disampaikan pada Jambore pendamping imana BIA-BIR tahun ini, yaitu penggantian nama BIA (Bina Iman Anak) menjadi PIKAT (Pendampingan Iman Anak Katolik) dan BIR (Bina Iman Remaja) menjadi REKAT (Remaja Katolik).
Sesi malam selesai pada Pukul 23.15 dan kami menuju tenda masing-masing untuk beristirahat. Kegiatan besok paginya dimulai dengan sarapan Bersama dari Pukul 07.00 - 08.00. Setelah sarapan, kami mengikuti kegiatan yang sangat seru yaitu penampilan dari setiap dekenat. Untuk dekenat Bekasi, kami menampilkan pantun, nyanyi, tari dan gerak. Lalu pada Pukul 09.40, sambil menikmati snack, kami berkumpul setiap dekenat untuk membuat program BIA-BIR di paroki, dekenat dan keuskupan. Program yang dibuat dikumpulkan ke panitia dan dilakukan sedikit diskusi mengenai program-program yang disampaikan. Pada Pukul 11.00 - 12.08 kami mengikuti Misa penutupan Jambore yang dipimpin oleh Romo Uut dilanjut acara penutupan dan makan siang. Setelah makan siang kami saling berpamitan untuk meninggalkan lokasi camping dan pulang ke paroki masing-masing. Puji Tuhan kami tiba di Cikarang pada Pukul 19.30 dengan aman.
AXIS MUNDI. Hebat… Kuat… Terlibat menjadi berkat… begitulah kata-kata refleksi bagi para pendamping iman BIA dan BIR yang disampaikan oleh Pak Frans dari Komisi Kateketik KAJ dan kami ingat sepanjang kegiatan Jambore ditambah penguatan yang disampaikan dalam sesi bersama Romo RD. Carolus Putranto Tri Hidayat.
Sekian cerita dari kami pendamping BIA-BIR yang mengikuti Jambore mewakili Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa. Semoga program yang akan disahkan oleh Komisi Kateketik nantinya akan sangat bermanfaat pada pendampingan iman anak dan remaja Katolik. MENYATUKAN VISI UNTUK SEBUAH MISI. Terima kasih. Berkah Dalem.
Foto danb Liputan : Lisma