Inspirasi Bapa Uskup Mgr. Ignatius Suharyo

Bapa Uskup Ignatius Suharyo dalam kesempatan Tepas 2018 berbicara tentang kepemimpinan yang transformatif yang bersumber pada pengalaman dikasihi oleh Allah (merujuk pada kepemimpinan Paus Fransiskus). Bapa Uskup membagi 4 elemen dasar dari sila ke-4 Pancasila : Pemimpin, Musyawarah mufakat, Hikmat kebijaksanaan, Rakyat.

Tentang Pemimpin Terdapat 3 jenis kepemimpinan yang dikenal secara umum :

• Transaksional (tawar menawar kekuasaan)

• Konformitas (menyesuaikan kemauan yang dipimpin)

• Transformatif (merubah ke arah yang lebih baik)

Jenis pertama dan kedua jelas tidak sejalan dengan ide sila ke-4 Pancasila. Kepemimpinan transformatif me- nyangkut kepemimpinan yang partisipatif. Pemimpin yang memberdayakan pihak-pihak yang dipimpin. 

Bapa Uskup mengangkat figur Paus Fransiskus sebagai contoh pemimpin yang banyak menginspirasi baik dalam lingkup Gereja Katolik maupun dalam lingkup dunia. Dipaparkan 3 langkah kepemimpinan transformatif Paus Fransiskus :

a. Pengalaman dasar dikasihi oleh Allah

Dalam konteks hidup Paus Fransiskus pengalaman dasar beliau dimulai saat ia berusia 17 tahun. Paus mengalami pengalaman dikasihi oleh Allah yang Maha Rahim. Semangat dan kesadaran inilah yang ingin dibagikan oleh Paus kepada semua orang.

b. Transformasi pribadi

Pengalaman pribadi di atas merubah pandangannya tentang Allah seba- gaimana tertuang dalam Evangeli Gaudium 47, yaitu GEMBALA BERBAU DOMBA. Inilah yang disebut pengalaman dasar akan kasih Allah membawa pada transformasi pribadi Paus Fransiskus.

c. Transformasi institusi

Paus memilih tinggal di Domus Santa Marta bukan di istana kepausan. Paus bertransformasi dari kepemimpinan monarkis menjadi kepemimpinan yang melayani. Maka tidak heran corak pelayanan yang dilakukan oleh Paus sejak sebelum diangkat menjadi Paus adlaah menjadi gembala yang berbau domba, mencari umat-umat yang terpinggirkan dan tidak pernah disapa.

Tentang Musyawarah dan Bermufakat

Gereja KAJ mencoba menerapkan musyawarah dan bermufakat dalam menentukan sasaran strategis Gereja KAJ. Dalam Temu Pastoral 2018, para imam telah menerapkan kepemim- pinan partisipatif di tempat mereka berkarya dengan mengadakan survei umat dan Focus Group Discussion (FGD). Para imam mendengarkan dan memperhatikan suara umat yang dipimpinnya.

Tentang Hikmat

Pemimpin yang berhikmat dan bijaksana mengajak para imam dan umat untuk bertransformasi, mengubah cara pandang yang selama ini menekankan Klerikalisme. Gereja KAJ diajak untuk semakin menampilkan diri seba- gai persekutuan dan gerakan.

Tentang Rakyat

Hal yang perlu disadari adalah umat Keuskupan Agung Jakarta adalah bagian dari rakyat Indonesia, yang juga mempunyai hak dan tanggung jawab sebagai warga negara. Gereja terpanggil untuk menjadi garam dan terang yang mampu mewarnai bahkan mentransformasi kehidupan berbangsa.

Sumber:  Pedoman Karya dan Inspirasi Gerakan Pastoral Evangelisasi KAJ 2019 Tahun Berhikmat

Sumber gambar: Dokumen Pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments