Iman adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya. Ada 558 kali kata iman disebutkan dalam Perjanjian Baru, yang menunjukkan penekanan iman dalam kehidupan orang percaya. Iman yang kita miliki pasti akan tumbuh menjadi besar bila kita mau menaati perintah Tuhan.
Yang menjadi pertanyaan dalam firman Tuhan minggu ini adalah : mengapa Tuhan Yesus mengambil perumpamaan biji sesawi ? Mari kita renungkan beberapa pembelajaran dari biji sesawi tersebut.
Pertama, kita telah dibangun dengan iman sebesar biji sesawi, yang artinya iman kepada Yesus sang pencipta. Dengan lain perkataan siapapun yang percaya kepada Yesus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat berarti ia telah memiliki iman sebesar biji sesawi. Berbeda dengan iman kepada diri sendiri, dimana kita terlalu percaya bawa hanya kita yang mampu mengerjakan dan mampu mengubah situasi.
Kedua, kita menemukan bahwa diri manusia penuh dengan kesombongan, keangkuhan dan selalu menyatakan dirinya benar dan paling hebat. Keangkuhan ini membuat kita kadang meninggalkan Tuhan sebagai Pencipta dunia dan segala isinya.
Ketiga, manusia lebih menggunakan kepandaiannya dan berpikir secara rasional daripada iman kepada Tuhan.
Keempat, manusia bersifat tidak sabar, mau cepat atau instan. Kenyataannya biji sesawi memerlukan waktu yang lama untuk bertumbuh menjadi pohon yang besar dan menghasilkan. Paulus dalam Roma 12 : 3 mengatakan bahwa iman adalah anugerah Allah yang diberikan kepada semua orang. Setiap orang memiliki iman, tetapi hanya mereka yang mau menyirami dan memeliharanya, yang akan bertumbuh besar imannya.
Hidup ini penuh misteri. Banyak hal didalam dunia ini yang tidak bisa kita jawab dengan pengetahuan, pengalaman dan material. Dan semuanya itu hanya dapat dijawab oleh iman. Oleh sebab itu dalam menjalani kehidupan kita, kita tidak hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan manusia, tetapi kita juga harus mengandalkan iman kita. Iman harus menjadi dasar dari kehidupan kita, untuk kita mengenal dan belajar tentang segala sesuatu sebagai perbuatan Allah atas manusia.
Iman yang bagaimana? Iman dalam bahasa Yunani adalah pistis, yang berarti mempercayakan diri atau menggantungkan hidup kepada siapa yang kita percayai. Ketika kita beriman, kita mempercayakan diri dan menggantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Hal yang kita perlukan adalah senantiasa bergumul, bertanya dan menjalani iman itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari sambil berserah pada Tuhan kita. Kita menjalani kehidupan ini dengan ketaatan dan ketundukan penuh pada perintah Tuhan yang memberi kehidupan. Beriman bukan berarti bertindak seenaknya, mengimani sesuatu menurut ego dan keinginan kita saja. Iman yang kita miliki pasti akan tumbuh menjadi besar bila kita mau mentaati perintah Tuhan. Iman kita tidak akan pernah terlalu kecil atau terlalu lemah, bila kita melekatkan diri kepada-Nya karena dari sanalah sumber pertumbuhan iman kita.
Janganlah takut untuk beriman. Berimanlah sebesar mungkin. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.
Penulis : Br. Paulus, FIC
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa