IBU, kata yang penuh dengan kesempurnaan, mampu dan mumpuni. Itu dulu saat saya belum menjadi seorang IBU.
Setelah menjadi seorang IBU apakah saya merasa sesempurna apa yang menjadi imajinasi saya? Tentu saya ingin menjadi sempurna.
Sebagai IBU, saya ingin mengajarkan semua hal kepada anak saya. Namun saya temukan, tidak semua hal saya bisa.
Sebagai IBU, saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya. Namun bagaimana saya bisa memberi bila saya tidak punya.
Sebagai IBU, saya ingin meluangkan semua fokus dan perhatian saya untuk anak. Namun energi yang saya punya ternyata terbatas.
Sebagai IBU, sering saya merasa lemah, letih, marah, terkadang tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dari mana harus melakukan, merasa putus asa bagaimana bisa memberi yang terbaik dari yang ada, merasa kurang dan kurang, tidak berdaya dan merasa sendiri.
Ternyata.... menjadi IBU memiliki banyak KETIDAKSEMPURNAAN, banyak KELEMAHAN
Apakah kemudian saya memilih untuk berhenti menjadi IBU?
Tuhan tidak pernah mengijinkan kita mengundurkan diri dari jabatan sebagai IBU, karena untuk menjadi IBU tidak perlu SEMPURNA, hanya perlu KASIH KETULUSAN.
Kasih dan tulus untuk mendengar anakKasih dan tulus untuk melayani anakKasih dan tulus untuk merawat keluargaKasih dan tulus itulah yang akan menyempurnakan seorang IBU.
Karena dengan KASIH dan KETULUSAN, maka seorang IBU akan berjuang melawan apapun untuk yang dikasihinya.
Selamat hari IBU untuk semua IBU... jangan pernah merasa terpuruk hanya karena belum bisa memberi yang terbaik...karena memilih menjadi seorang IBU adalah pemberian yang terbaik.
Senyum IBUOleh : Sara