Hikmat Imani Hidup Mulia

Refleksi Rabu Abu di Tahun Persatuan 2019

Rabu, tanggal 6 Maret 2019 menjadi hari istimewa dalam lingkaran hidup gerejawi kita. Hari ini, Rabu Abu, gereja sejagat memasuki masa berahmat, Pra Paskah. Gereja Keuskupan Agung Jakarta mengajak segenap umatnya mengawali masa penuh rahmat ini dengan tema ”Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat”. Tema ini dirangkai dalam aneka kegiatan refleksif dan aksi nyata sepanjang 40 hari masa puasa dan sekaligus mewarnai Tahun Berhikmat 2019 dengan semboyan, “Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat”.

Tema  “Hikmat imani Hidup Mulia” menjadi refleksi di balik ritual perayaan Rabu Abu 2019 sekaligus membedah tema “Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat” yang telah ditetapkan sebagai tema Aksi Puasa Pembangunan (APP 2019) untuk Gereja lokal Keuskupan Agung Jakarta di tahun Persatuan 2019. 

Hikmat Imani.

Bapak Uskup KAJ mengangkat kata “hikmat” dan menambahkan awalan ‘ber- menjadi ‘Ber-hikmat’. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi  padanan kata  ‘hikmat’  dengan: 1 kebijakan; kearifan; 2 kesaktian (kekuatan gaib). Awalan ‘ber’ pada kata benda ‘hikmat’ berarti ‘memiliki, mempunyai’. Maka bagi kita menjadi jelas bahwa, ‘Berhikmat’ adalah memiliki atau mempunyai kebijakan, kearifan. Kearifan dan kebijakan ini sekaligus menjadi ‘kesaktian atau kekuatan gaib’ dari sang pemiliknya, “Kita Berhikmat”. Betapa tidak! Hikmat, kebijakan, keraifan merupakan keutamaan dalam hidup. Keutamaan merupakan “sebuah disposisi yang sudah menjadi kebiasaan (habitus) dan teguh/kuat/kokoh dalam diri orang kristiani ketika melakukan per- buatan baik” (KGK). “Iman, Harapan dan Kasih” merupakan ketiga keutamaan teologal (dari Tuhan), dari padanya muncullah keutamaan-keutamaan hidup seperti diajarkan Gereja. Kearifan atau kebijaksanaan (prudence) atau hidup berhikmat diajarkan sebagai salah satu keutamaan pokok (virtus principal, cardinal) di samping keutamaan pokok lainnya seperti keadilan, keberanian dan pengendalian diri. Kekuatan diri yang ‘hikmat, arif’ menjadi dasar untuk berlaku adil, bersikap berani dan mawas diri kepada diri sendiri maupun dalam interaksi dengan orang lain.

Hidup berhikmat adalah ‘imani’ karena menjadi bagian dari keyakinan kita (alkitabiah dan gerejawi). Beberapa teks Kitab Suci: “Tetapi pada Allah-lah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (Ayub 12 : 13); “Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian”(Amsal 4 : 1); “Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan dari pada sepuluh penguasa dalam kota” (Pengkhotbah 7 : 19); “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia” (1 Korintus 1 : 25); “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya (Amsal 3 : 11-15). Semoga Rabu Abu 2019 membangun kembali pertobatan (metanoia) dan rekonsiliasi diri  dan berbuah “Kita berhikmat”. 

Hidup Mulia.

“Bangsa bermartabat” merupakan frase kedua yang ditambahkan Bapak Uskup KAJ sebagai pelengkap semangat dan praktik hidup sepanjang tahun 2019. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) memberi arti ‘martabat’ sebagai ‘tingkat harkat kemanusiaan, harga diri’; ‘bermartabat’ berarti mempunyai harga diri. ‘Harga diri’ menunjuk pada kualitas dan nilai diri dari yang dimiliki. Tingkat harkat kemanusiaan, harga diri atau martabat diri tidak ditentukan oleh kedudukan, pangkat, dan kepemilikan seseorang. Gereja katolik menegaskan keluhuran martabat manusia adalah “citra Allah” (Imago Dei). “Baiklah kita menjadikan manusia itu menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak di atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi “ (Kej. 1 : 26). Kitab Suci dan ajaran gereja menjadi sumber sah ajaran bahwa manusia adalah ciptaan Allah, diangkat sebagai Anak Allah (Gal. 3 : 25-26) dan memiliki martabat diri sebagai Pribadi Sosial.

Kitab Kejadian (Kej. 1 : 26-28, Kej. 2 : 7-8, 15-18, 21-25) mencatat bahwa manusia diciptakan oleh Allah Sang Pencipta pada hari ke-6 sebagai puncak atau akhir dari dari seluruh proses penciptaan langit dan bumi beserta seluruh isinya. Artinya, manusia diciptakan sebagai puncak ciptaan Allah. Sebagai ‘Gambar Allah’ manusia dikaruniai akal budi, hati/perasaan, dan kehendak bebas. Karunia-karunia ini mengangkat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang ‘termulia’. “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? ….namun Engkau telah membuatnya hampir seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau menjadikannya berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mazmur 8 : 5-7). Sementara itu, Gereja melalui Konstitusi Dogmatis Gaudium et Spes, menulis “Allah menempatkan martabat manusia di atas ciptaan yang lain. Hanya manusia yang secitra dengan Allah. Dari segala ciptaan yang kelihatan, hanya manusia ‘mampu mengenal dan mencintai Penciptanya dan oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini, untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah” (GS 12 : 3). Lebih tegas lagi para Bapa Konsili menyatakan bahwa “Allah sebagai Bapa memelihara semua orang, menghendaki agar mereka merupakan satu keluarga, dan saling menghargai dengan sikap persaudaraan. Sebab mereka semua diciptakan menurut gam- bar Allah, yang menghendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami muka bumi (Kis. 17 : 26). Mereka semua dipanggil untuk satu tujuan, yakni Allah sendiri” (GS. 24 : 3). Tuhan Yesus sendiri meringkaskan ajaran-Nya dengan suatu perintah yang mengejutkan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (Mat 5 : 48). Perintah Tuhan ini ditegaskan kembali oleh Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium, Konstitusi ten- tang Gereja, yang mengutip ayat tadi serta menambahkan, “Dia sendiri (Tuhan) adalah Pengambil-Inisiatif dan Pelaksana kekudusan hidup ini. Karena Dia telah mengutus Roh Kudus ke atas semua manusia supaya Dia dapat mengilhami mereka dari dalam untuk mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (bdk. Mrk 12 : 30) dan agar supaya mereka dapat saling mengasihi sama seperti Yesus telah mengasihi mereka (bdk. Yoh 13 : 34; 15 : 12).

Semoga praktik dan semangat Rabu Abu membangun pertobatan dan re- konsiliasi diri untuk semakin mengakui bahwa martabat diri-hidup kita adalah mulai karena dari (baca: serupa dengan) Tuhan, oleh (baca: dibimbing) Tuhan dan untuk (baca: tujuan dan cita-cita hidup) di tengah masyarakat konkrit menuju hidup kekal bersama Tuhan sendiri.

Sumber: Bruno Rumyaru

Sumber gambar: www.pendalamanimankatolik.com


Post Terkait

Comments