Hidup Saling Mengasihi

Bapak/ibu dan saudara/i yang terkasih,

Dalam Injil hari ini Yesus bicara tentang Kasih. Setiap makhluk hidup pasti memiliki identitas yang membuatnya mudah dikenal. Salah satunya adalah nama. Identitas atau jatidiri itu juga yang ditekankan Yesus kepada murid-murid-Nya. Setelah Yudas pergi, Yesus tahu bahwa peristiwa sengsara akan segera dialami-Nya. Jika kita melihat sengsara yang kita alami sebagai sesuatu yang tidak punya arti positif, tidak bagi Yesus. Yesus dan Bapa dimuliakan karena sengsara yang dialami-Nya merupakan wujud nyata kasih-Nya kepada kita manusia yang berdosa.

Kasih itu yang ditekankan Yesus ketika la menyadari kebersamaan-Nya dengan para murid akan segera berakhir. Yesus memberi perintah baru : "kamu harus saling mengasihi". Penekanan “baru” lebih ditujukan pada tindakan kasih yang dicontohkan Yesus. Menjadi dasar dari tindakan kita yang saling mengasihi. Sebagai perintah, saling mengasihi menjadi suatu kewajiban bahkan identitas bagi kita yang percaya.

Gereja Katolik  adalah gereja yang hidup dalam kasih. Yesus meng- hendaki agar kasih-Nya selalu ada dan tersedia dalam hidup orang percaya. Kasih yang berakar dari penyangkalan diri dan rasa syukur terhadap Kristus. Saling mengasihi adalah identitas diri setiap orang yang percaya kepada-Nya. Mari kita bangun hidup persekutuan dengan semangat saling mengasihi, sebagai kesaksian Yesus itu Tuhan dan Juruselamat. 

Kasih harus dipraktekkan, bukan sekedar teori. Harus melekat dalam gaya hidup kita, menjadi ciri khas setiap murid. Yesus memberi pengajaran dan sekaligus teladan. Hidup Yesus adalah teladan bagaimana mengasihi yang sesungguhnya. 

Salib di bukit Golgota adalah bukti kasih yang tiada tara. Kasih Agape harus menjadi identitas orang percaya, murid Kristus. Orang meng- enal kita sebagai murid Tuhan, bukan karena pakaian kita, atau ibadah Minggu yang setia kita hadiri. Bukan sekedar kata-kata berbau agama yang kita lontarkan, atau banyaknya ayat Alkitab yang dikutip dan dihafalkan. Bukan pula jabatan yang kita sandang dalam gereja. 

Identitas murid Kristus diukur dari relasi penuh kasih mesra dengan Tuhan dan sesama. Apakah kita mau mengulurkan tangan kepada yang tersisih? Apakah kita rela memberi dan berbagi dengan mereka yang menderita? Apakah kita mau menyapa mereka yang tak dipandang dunia? Apakah kita mau mengampuni yang bersalah kepada kita? Apakah kita mau terbuka menerima orang apa adanya? 

Kasih Tuhan Yesus terlalu tinggi, dalam dan luas untuk dibicarakan. Hanya dengan mempraktekkan kasih Agape, kita dapat menjadi saksi Tuhan yang berguna. Semoga kita bertanggungjawab atas iman yang kita ucapkan, melalui perbuatan kasih yang nyata. Amin.

Sumber: Sr. Teresa SFMA

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments