Hidup Manusia Tidak Tergantung dari Kekayaannya

Saudara-saudari yang terkasih, dalam minggu biasa yang ke XVIII ini kita diajak untuk merenungkan bahwa hidup ini tidak tergantung dengan kekayaan yang kita miliki di dunia ini, karena segala sesuatu itu adalah sia-sia, kata pengkhotbah dalam bacaan pertama dan mempertanyakan apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah dibawah matahari dan dari keinginan hatinya?

Saudara-saudari yang terkasih, tidak ada manusia di dunia ini yang bercita-cita menjadi miskin dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan semua pasti ingin menjadi sukses dan kaya. Tetapi apakah salah menjadi orang kaya, kenapa selalu Yesus mengecam orang kaya? Menurut saya tidak ada yang salah menjadi orang kaya. Bahkan kekayaan itu anugerah dan berkat yang diterima dari Tuhan. Dengan usaha dan kerja keras yang kita lakukan dan dengan kekayaan memberi kemudahan dan kenyamanan hidup di dunia ini dan apa yang diinginkan dengan mudah tercapai dan terpenuhi.

Yesus mengecam orang kaya karena kebanyakan orang kaya hanya peduli dengan dirinya sendiri dan menjadi sombong. Ia menutup mata dengan apa yang dilihat dan bahkan menghina orang yang lebih rendah, dia merasa kekayaan yang diperolehnya hanya dengan kekuatan dan kerja kerasnya sendiri. Seperti Injil hari ini, orang kaya itu hanya menimbun kekayaannya dengan merombak lumbung-lumbungnya menjadi lebih besar dan merencanakan apa yang baik untuk dirinya dengan beristirahat dan bersenang-senang. Namun dia melupakan satu hal bahwa Tuhan dapat mengambilnya kapan saja sebelum dia menikmati semuanya.

Saudara-saudari yang terkasih, begitu juga dengan kita untuk mengejar cita-cita dan impian banyak hal yang dikorbankan dan kita lelah bekerja siang malam, tidak ada waktu yang  cukup untuk istirahat dan hanya sedikit waktu yang diluangkan dengan orang-orang yang kita sayangi.

Ada sebuah cerita, ada seorang gadis yang berkomitmen dalam hidupnya, 'sebelum saya tamat sekolah saya tidak akan tertawa', dia belajar keras dan terus belajar. Setelah tamat dia berkata lagi 'saya tidak akan tertawa sebelum saya kuliah'. Selesai kuliah dia berkata 'saya tidak akan tertawa sebelum saya mendapat pekerjaan' dan setelah mendapat pekerjaan yang baik dia berkata 'saya tidak akan tertawa sebelum saya menikah', namun hal yang tidak terduga sebelum dia menikah dia sudah meninggal.

Saudara-saudari yang terkasih, dari cerita diatas kita dapat melihat betapa kasihannya hidup gadis itu yang melewatkan hari-hari bahagia yang dapat dinikmati setiap hari. Begitu juga dengan kekayaan ini kita tidak akan pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang kita miliki, kita ingin selalu lebih, setelah mendapatkan ini, kita ingin mengejar yang lain lagi dan bahkan kita sering keliru bahwa apa yang kita lakukan semua itu untuk keluarga dengan memenuhi segala fasilitas dalam kemewahan namun semua itu tidak cukup yang mencukupi itu adalah kasih dan sukacita.

Saudara-saudari yang terkasih, mari kita hargai apa yang kita miliki saat ini, harta kekayaan ini hanya titipan ketika Tuhan memanggil kita. Maka semuanya akan kita tinggalkan. Jadi mari
mengelolanya sebaik mungkin dan mengembalikannya kepada pemilik-Nya dengan peduli dan berbagi kepada sesama, menikmati setiap anugerah yang Tuhan berikan dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Karena segala sesuatu adalah sia-sia tanpa Tuhan. Jadi mari menggunakan waktu didunia ini untuk mengumpulkan “Harta Surgawi” Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan bagimu. Tidak perlu ada rasa takut atau kuatir tentang kehidupan ini karena Tuhan telah menyediakan apa yang kita perlukan dan Dia tidak akan membiarkan kita kekurangan sebab kita sangat berharga di mata Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih, hidup ini tidak tergantung dengan kekayaan yang kita miliki namun tergantung pada Tuhan yang menciptakan. Mari mencintai semua ciptaan Tuhan agar
hidup yang singkat ini memberikan kebahagiaan dalam hari-hari yang kita lalui setiap hari. Tuhan memberkati.

Penulis : Sr Sisnawati Ginting, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments