Hidup dalam Damai Sejahtera dengan Allah

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada hari Minggu sesudah Hari Raya Pentakosta, kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Pada hari ini kita merayakan pokok utama iman kepercayaan kita. Kita mengimani Allah sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kita percaya akan satu Allah dalam tiga pribadi. Iman akan Allah Tritunggal bukan pertama-tama mau menjawab dan menjelaskan secara rasional bagaimana kesatuan dan ketigaan dalam diri Allah bisa dimengerti dan dipahami tetapi mau membagikan pengalaman perjumpaan manusia dengan Allah yang mempribadi.

Iman akan Allah Tritunggal hendak membagikan kepada kita pengalaman orang beriman bahwa Allah itu sungguh hidup dan Allah itu adalah kasih, Deus caritas est, yang berelasi dan mencinta. Umat beriman mengalami Allah sebagai Dia yang membebaskan, menuntun dalam perjalanan, yang memberi arahan untuk dijalankan dan Dia yang menyelamatkan. Karena perhatian, perlindungan dan kasih-Nya, Dia dialami sebagai pribadi yang hidup, yang mencinta dan yang berelasi, maka Allah itu dipersonifikasi.

Dengan personifikasi Allah itu berarti kita semakin mengenal, dekat, dan akrab dengan Allah. Kita mengalami bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang sangat dekat dengan kita. Allah itu hadir sebagai Bapa. Gambaran Allah sebagai Bapa kita temukan banyak dalam Kitab Suci. Yesus sering memperkenalkan Allah itu sebagai Bapa kepada manusia. Dia yang tersembunyi ini dialami oleh Yesus sebagai Bapa dan seluruh kehidupannya ditujukan untuk memperkenalkan Allah yang Mahakuasa sebagai Bapa.

Yesus menegaskan tak ada orang yang pernah melihat Bapa. Hanya sang Putra sajalah yang melihat-Nya. Maka siapa saja yang melihat Putra akan melihat Bapa sendiri. Dalam hubungan inilah Yang Ilahi tidak lagi melulu dialami sebagai yang tersembunyi melainkan yang telah terwahyukan dalam seluruh kehidupan Yesus. Allah membuat diri-Nya terbatas agar  manusia yang terbatas dapat mengenal Dia yang tidak terbatas.

Allah yang terbatas ini membatasi diri dalam pribadi Yesus. Dia tidak jauh, tapi sebagai Bapa mengunjungi anak-anak-Nya, yang mencari yang hilang, yang peduli, mengampuni, yang menunggu anak kembali ke rumah. Kemudian setelah Yesus tidak lagi berada di tengah-tengah manusia, datanglah penerus daya-daya ilahi, yakni Roh Kebenaran. Roh inilah yang terus mempersaksikan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kemanusiaan. Roh yang diutus oleh Anak dan Bapa mempunyai misi untuk mengajarkan segala sesuatu yang dilakukan oleh Yesus dan mengingatkan segala sesuatu yang dikatakan oleh Yesus.

Roh inilah yang membuat kehadiran Yang Ilahi dapat dialami dalam macam-macam ujudnya di dunia kehidupan manusia: dalam perbuatan adil, dalam rekonsiliasi, dalam perbuatan baik, dalam kepedulian terhadap sesame, dan lain-lain perbuatan baik.

Orang Kristiani mengimani Allah sebagai Bapa dan hadir dalam diri Putra dan Roh Kudus. Merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus berarti merayakan kebesaran Allah yang membuat diri-Nya kecil agar dapat menyentuh dan terlibat langsung dalam kehidupan manusia, merayakan kesediaan Allah menjalin relasi dengan manusia, merayakan kepedulian, pengampunan dan merayakan pemberian diri Allah. Intinya merayakan Tritunggal Mahakudus berarti merayakan bahwa Allah kita sungguh hidup dan benar.

Saudari-saudara yang terkasih, hari ini Yesus memberikan jaminan abadi kepada kita, “segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanNya dari padaKu” Apakah kita bisa menerima sabda ini sebagai
jaminan sabda yang hidup dari Tuhan, yang hanya ada kata “Ya dan Amin” untuk kita? Yesus meminta kita untuk menyerahkan diri kita dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengalami kebenaran sabda itu sendiri. Pertanyaan refleksi untuk kita, bersediakah kita? Tuhan, jaminanMu adalah kekal abadi, semoga kami tidak berpaling dariMu dan tuntunlah kami di jalanMu.

Penulis : Rm. Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments