Hidup adalah Rahmat dan Tugas

Retret agung di masa puasa dan pantang telah menghantar kita sampai pada tema hidup penuh sukacita. Betapa tidak! Kita mati karena dosa, tetapi diselamatkan oleh rahmat, yang sekaligus menjadi tugas hidup kita untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (bdk. Ef. 2:10). Inilah Minggu Laetare, yang mewartakan ‘hidup sebagai rahmat’, dan sekaligus hidup adalah perjuangan dan tugas kepada pemenuhannya.

Minggu Laetare – Minggu Sukacita
“Minggu Laetare”, nama yang diambil dari Proprium Introit (Antifon Pembuka) pada perayaan hari Minggu Prapaskah IV. Laetare Ierusalem, Bersukacitalah Yerusalem. Introit ini diambil dari Kitab Yesaya 66:10,11, yang berbunyi, “Bersukacitalah Bersama Yerusalem dan bersorak-sorailah karenanya, hai semua para pencintanya. Bergiranglah riang-ria bersama dia, kalian yang dahulu berkabung karenanya. Puaskanlah hatimu dan nikmatilah hiburan berlimpah”. Nuansa kabung seperti tak berpengharapan segera berubah jadi nuansa kegembiraan dan kepastian. Suka-ria ini didukung dengan dekorasi bunga kemerahan (Kongregasi Ibadat Ilahi, 1988, No.25). Warna liturgi merah muda hanya berlaku pada Misa Minggu Prapaskah IV saja, sementara di hari-hari biasa pekan IV Pra Paskah tetap menggunakan warna ungu. Kita perlu tahu juga bahwa sepanjang tahun, warna liturgi merah muda hanya digunakan 2 x yaitu pada
Minggu Prapaskah IV (Minggu Laetare) dan Minggu Adven III (Minggu Gaudete).

Sukacita sebagai Rahmat
Rahmat atau karunia merupakan pemberian cuma-cuma dari Sang Pemberi. Demikian ‘hidup sukacita merupakan rahmat, sukacita yang dihayati sebagai pemberian cuma-cuma atau gratis dari Sang Pemberi, yakni Tuhan sendiri. Kita memperoleh pembenaran berkat rahmat Allah. Tuhan dalam kerahimanNya, mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya (bdk.Rom.8:14-17), dan memberikan pertolongan sukarela agar kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi (bdk. 2 Ptr 1:35) sejak hidup di dunia ini dan kelak dalam kehidupan abadi (bdk. Yoh.17:3). Rahmat Tuhan kepada kita akan membantu kita untuk menjawab panggilan-Nya untuk menjadi anak-Nya (bdk. KGK, 2021).

Rahmat Pengudusan
Merupakan hakekat diri dan hidup kita. Diri kita dikuduskan dan berkenan kepada Allah. Kita
menerima Sakramen Baptis, sebagai rahmat pengudusan, membersihkan, memurnikan jiwa kita yang sebelumnya ternoda dan kotor oleh dosa, sehingga pada akhirnya jiwa kita menjadi bersih dan berkenan kepada Allah. Rahmat pengudusan yang telah hilang karena dosa asal didapatkan kembali oleh manusia ketika kita dibaptis. Tuhan juga melengkapi kita dengan Rahmat yang membantu menerangi akal budi dan menggerakkan keinginan kita untuk menolak kejahatan dan melakukan kebaikan. Gereja mengajarkan juga kepada kita tentang “Rahmat tak tercipta” dan “Rahmat tercipta”. Tuhan sendiri sebagai Sumber segala Rahmat, maka Tuhan dan kedimanan Tri Tunggal Maha Kudus menjadi bagi kita “Rahmat tak tercipta”; sementara rahmat adi kodrati seperti ketiga keutamaan kristiani, iman, harapan dan kasih (bdk. 1Kor.13:13), ataupun karunia-karunia Roh Kudus (bdk. Kis. 2:1-13) dan segala kebajikan dalam hidup merupakan “Rahmat Tercipta” yang diberikan kepada kita untuk memampukan kita menjalankan tugas di dunia ini seturut kehendak-Nya menuju kediaman
abadi di Surga.

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments