Hati-hatilah Supaya Jangan Jatuh

“Kapan kita (aku) jatuh?”. Mungkin pertanyaan reflektif pembuka yang bisa dilayangkan pada pribadi masing-masing. Jatuh bukan dalam artian fisik; terpeleset, naik sepeda “gedebuk” jatuh, atau jatuh cinta (berjuta rasanya). Jatuh yang dimaksudkan di sini adalah tindakan yang menjauhkan diri kita dari kasih Allah, alias dosa. Bila kembali pada pertanyaan awal; “kapan aku “jatuh” atau menjauhkan diri dari kasih Allah?

Mari kita berefleksi dari situasi akhirakhir ini di media sosial (medsos). Ramai crazy richatau juga sering dikatakan “Sultan”. Seseorang (muda) yang menampilkan diri dengan kekayaan seabrek atau tindakan sosial membagi-bagikan uang. Sungguh luar biasa. Tidak hanya satu orang saja. Muncul juga di berbagai daerah. Mereka tidak hanya pamer kekayaan tapi juga pamer bahwa uang didapat dengan mudah; instan. Rumah mewah, mobil dan motor mahal, makan di tempat yang fantastis, bagi-bagi uang di jalan atau di tempat-tempat umum dipertontonkan… ck ck ck. Bahkan tidak jarang para crazy richitu memandang rendah orang lain dengan mengatakan “gaez kalo orang kaya makannya ini (sambil menunjukan makanannya) kalo elu orang miskin pasti ga makan kaya gua!”. Pernyataan ini menurut saya sangat tidak elok. Tapi mendapatkan banyak juga likejuga.

Apakah azab? Pamer itu sekarang berakhir. Beberapa crazy richharus mempertanggungjawabkan perbuatannya; gegara investasi bodong. Banyak orang dikibulin bukan recehan tapi milyaran. Salah satu “crazy rich” bahkan bisa bisa menghasilkan 532 M – yang diblokir oleh PPATK dari rekeningnya. Edan tenan.

Belum lagi rumah mewah, mobil dan motor super canggih juga ikut disita. Sekarang mereka dimiskinkan. Banyak orang yang menerima gelontoran uang dari mereka (ada juga artis-artis) sudah mulai was-was; dan ada juga yang telah dipanggil pihak yang berwajib untuk dimintai keterangan.

Ironis lagi, seorang crazy richyang tertangkap – dengan menggunakan rompi orange – tak tampak wajah bersalah. Tentunya membuat orang geram melihatnya.

Apa yang bisa kita petik dari para crazy richdan “sultan-sultanan” itu? Yang terkait dengan judul refleksi kita kali ini; “Hati-hatilah Supaya Jangan Jatuh”. Jelas, bahwa dua hal yang membuat kita jatuh; kesombongan (pamer) dan ingin cepat kaya (budaya instan). Dua sikap dan tindakan inilah yang membuat kita jatuh. Jatuh dalam dosa; yang menjauhkan kita dari kasih Allah. Bila kita mengingat dosa awal; Adam dan Hawa adalah kesombongan; tidak mau taat pada Allah sebagai Sang Pencipta. Kesombongan menjadi pintu masuk roh jahat agar kita tidak lagi dalam dekapan kasih Allah. Begitu pula dengan budaya instan; mau berhasil tanpa usah dan kerja keras. Hukum alam rasanya mengatakan tidak mungkin kita berhasil tanpa usaha keras. Bila itu terjadi maka pasti ada pihak-pihak yang dirugikan. Ada pihak yang dikibulin. Kedua ini; kesombongan dan budaya instan juga menjadi halangan bagi kedalaman hidup iman kita.

Secara khusus dalam masa Prapaskah ini kita diajak untuk membongkar kecenderungan sombong (pamer) dan tindakan instan. Kita merenungkan bagaimana Allah dengan cara yang radikal mengasihi kita. Dia mencintai kita dengan menjadi manusia seperti kita. Dia tidak pamer (sombong) bahwa diri-Nya Anak Allah. Dia menderita dan akhirnya wafat di kayu salib. Bisa saja hal itu tidak terjadi karena dia adalah Anak Allah.

Allah kita tidak instan. Ingat syahadat panjang Nicea-Konstantinopel, “Ia dilahirkan bukan dijadikan …”. Artinya bahwa Yesus tidak hadir begitu saja. Sebuah keniscayaan bahwa Yesus dilahirkan oleh Perawan Maria. Peristiwa tersebut tentunya memperlihatkan pada kita sebuah proses yang panjang, bahkan melewati jalan yang berliku untuk lahir. Kembali pada “Hati-hatilah Supaya Jangan Jatuh”; pada intinya jangan sombong (pamer) dan jangan ingin hidup instan agar kita merasakan kasih Allah dalam hidup kita. Ketika kita bisa merasakan bahwa aku dikasihi oleh Allah maka kita menjadi RICH. Tidak perlu menjadi Crazy Richkarena Allah telah membuat kita RICH.

“Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal…” (1 Kor 1:5).

Penulis : Rm Ch. Kristiono Puspo, SJ

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments