Hari Raya Penampakan Tuhan

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan dikisahkan kedatangan orang-orang bijak dari jauh untuk menyatakan penghormatan mereka kepada raja yang baru dilahirkan. Siapakah mereka ini? Mereka adalah orang majus berasal dari wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak & Iran utara. Kedatangan mereka dari Timur membawa persembahan dalam tiga bentuk untuk Dia yang lahir di Betlehem. Persembahan itu merupakan lambang penghormatan terhadap yang dilahirkan. Orang-orang majus mempersembahkan emas, kemenyan dan mur kepada Sang Bayi yang baru lahir itu. Para pujangga Gereja meng- artikan persembahan itu sebagai pengakuan akan identitas Sang Bayi.

Emas melambangkan martabat dan kemuliaan raja karena hanya rajalah yang memiliki secara berkelimpahan.

Kemenyan menyimbolkan keilahian karena kemenyan dipergunakan dalam ibadat kebaktian kepada Allah.

Mur melambangkan kemanusiaan karena mur dipakai antara lain untuk meminyaki jenasah. Sesudah wafat di salib, jenasah Yesus diminyaki dengan mur oleh Maria Magdalena.

Dengan demikian persembahan para majus itu merupakan ungkapan iman mereka bahwa Sang Bayi yang lemah dan sederhana ini sesungguhnya adalah seorang raja agung, Dia sungguh Allah dan sungguh manusia.

Kedatangan para majus dibimbing oleh bintang. Bintang memang bisa menjadi landasan pelbagai pertimbangan bagi orang yang sedang mencari arah. Para majus dari timur merupakan orang-orang pintar yang memahami benar tentang ilmu perbintangan. Orang-orang majus adalah “kasta imam” di negeri Persia yang sangat dihormati sebagai para ahli astrologi dan penafsir mimpi. Mereka menilai, bintang terang yang muncul di atas kota Betlehem merupakan tanda. Tanda itu mereka yakini sebagai kedatangan Mesias. Itulah yang mendasari mereka melakukan pencarian bintang terang tersebut.

Para majus diperingatkan “dalam mimpi” supaya jangan kembali ke Herodes. Para majus kini sudah akrab dengan isyarat-isyarat dari atas. Mereka kini sudah berada di pihak raja yang baru lahir. Karena itu mereka juga menyadari muslihat Herodes yang ingin melacak di mana persisnya tokoh yang dianggapnya bakal menjadi saingannya itu. Kebijaksanaan kini menuntun para majus kembali ke negeri mereka. Mereka pulang membawa kegembiraan yang akan mereka bagikan kepada orang-orang lain.

Kita diharapkan seperti para majus dari timur, yang mau merendahkan hati, dengan hati terbuka mencari tanda kehadiran Allah. Mereka terus mencari sampai mereka mendapati-Nya. Mereka bersorak gembira dan menyembah-Nya ketika berhasil me- nemukan-Nya, memberikan persembahan dalam rupa emas, kemenyan dan mur. Setelah itu, mereka pun pergi dengan sukacita mengabarkan damai sukacita kepada yang berkenan.

Kita juga diajak untuk peka dan jeli pada setiap tanda yang Allah berikan dalam hidup kita. kita harus peka dan jeli akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan kita, teruslah mencari-Nya, karena damai sukacita dan sorak gembira akan kita rasakan ketika berhasil menemukan-Nya.

Marilah kita selalu mengarahkan hati kepada Yesus, Sang Bintang-Terang Dunia. Dengan meneladan semangat dan ketekunan para majus dari Timur yang meninggalkan segala kenya- manan demi berjumpa denganNya.

Kita temukan Yesus di balik kesederhanaan hosti kudus, dalam setiap pribadi yang kita jumpai maupun dalam peristiwa yang kita alami. Perjumpaan denganNya akan memberikan sukacita sejati.

Pada perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan kita mensyukuri saat-saat Dia membiarkan diri terlihat oleh orang-orang yang tidak atau belum melihat-Nya. Para majus bersuka cita karena dapat melihat Tuhan sungguh ada di dalam kehidupan manusia. Dan sukacita seperti ini boleh juga kita alami.

Tuhan memberkati kita semua. Amin

Dari: Br. Paulus FIC

Gambar: Dokumentasi Pribadi Warta Teresa

 


Post Terkait

Comments