Hari Minggu Panggilan

Sebagai umat Kristiani hari ini kita diingatkan kembali akan baptis kita. Atas dasar baptis kita disadarkan, bahwa semua orang Kristiani dipanggil untuk hidup menuju kesucian dan pelayanan

Kita sebagai orang beriman tahu dan harus sadar, bahwa semua panggilan kita harus bersumber dari baptis. Panggilan itu dapat kita hayati secara sendirian, baik sebagai laki-laki ataupun perempuan; atau dengan hidup berkeluarga; atau dengan hidup membiara ataupun ditahbiskan sebagai imam.

Orang yang hidup sendirian seperti imam, bruder dan suster ingin makin memusatkan pelayanan hidupnya sebagai orang Kristiani dengan komitmen yang lebih utuh agar dapat hidup
tetap setia, dan berkembang dalam iman menuju kepada kesucian Kristiani sejati. Orang-orang yang menikah dan berkeluarga, ingin menanggapi panggilan mereka oleh Allah sebagai laki-laki dan perempuan, untuk selalu saling mengasihi sebagai suami isteri dan anak-anaknya.

Panggilan menjadi imam, bruder, suster, biarawan-biarawati adalah hidup penuh sukacita dalam kesederhanaan kemurnian cinta akan Tuhan, dan ketaatan sebagai jalan kesucian. Keluarga-keluarga memberikan kesaksian akan kegembiraan dan kesetiaan cinta, mengenalkan pilihan hidup membiara kepada putra-putrinya, sebagai salah satu pilihan hidup yang mulia.

Dalam keragaman dan keunikan setiap panggilan, baik yang personal maupun eklesial, ada kebutuhan untuk mendengarkan, menegaskan dan menghidupi Sabda yang memanggil kita, yang memampukan kita untuk mengembangkan bakat-bakat, dan menjadikan kita sarana-sarana keselamatan di dunia serta membimbing kita kepada kebahagiaan sejati.

Mendengarkan, menegaskan, dan menghidupi – juga sudah ada pada awal misi Yesus sendiri, ketika, setelah hari-hari doa dan pergumulan di padang gurun, Ia mengunjungi sinagoga-Nya Nazaret. Di sana, Ia mendengarkan Sabda, menegaskan isi misi yang dipercayakan pada-Nya oleh Bapa, dan mewartakan bahwa Ia datang menyempurnakannya “hari ini” (Luk :16-21).

Sekarang ini, mendengarkan menjadi semakin sulit, kita seperti terbenam di tengah-tengah masyarakat yang bising, yang dipenuhi dan dibanjiri oleh berbagai informasi. Kebisingan yang terjadi di kota-kota dan lingkungan sekitar kita sering disertai oleh dispersi dan kebingungan batin kita sendiri. Hal ini menghambat kita untuk berhenti sejenak, berkontemplasi, dengan tenang merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita, dan dengan mantab menjalankan pekerjaan kita dalam rencana kasih Allah, serta membuat penegasan diri yang berbuah melimpah.

Panggilan Tuhan – sejak permulaan – tidak sejelas seperti apa yang kita dengar, lihat atau sentuh dalam pengalaman kita sehari-hari. Allah datang diam-diam tanpa suara, tanpa memaksakan kebebasan kita. Oleh karena itu, kita perlu belajar bagaimana mendengarkan sabda dan kisah hidup-Nya dengan baik, tetapi juga memperhatikan detail-detail hidup kita sehari-hari, belajar melihat berbagai hal dengan mata iman, dan terbuka pada bimbingan Roh Kudus.

Ketika Yesus membaca kutipan nabi Yesaya di Sinagoga Nazareth, Ia menegaskan isi perutusan yang dipercayakan kepada-Nya dan menyatakannya kepada mereka yang menanti kedatangan Mesias: “Roh Tuhan ada pada-KU, karena Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku mewartakan pembebasan kepada para tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk mewartakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19).

Dengan cara yang sama, kita masing-masing dapat menemukan panggilan kita sendiri hanya melalui penegasan roh. Penegasan roh merupakan “sebuah proses yang dilalui seseorang untuk membuat pilihan-pilihan dasar, dalam dialog dengan Tuhan dan sambil mendengarkan suara Roh, mulai dengan pilihan status hidupnya” (Sinode Para Uskup, Sidang Umum Biasa XV, Kaum Muda, Iman dan Penegasan Panggilan, II, 2).

Akhirnya, Yesus mewartakan kebaruan masa sekarang, yang akan menumbuhkan dan menguatkan hati banyak orang. Kepenuhan waktu telah datang. Dialah Mesias yang dinubuatkan Nabi Yesaya dan diurapi untuk membebaskan para tawanan, menyembuhkan yang buta dan mewartakan belas kasih Tuhan kepada setiap ciptaan. Sungguh, Yesus menyatakan bahwa “hari ini Kitab Suci telah terpenuhi saat kamu mendengarkannya” (Luk 4:21).

Kita masing-masing dipanggil – entah hidup awam dalam perkawinan, hidup imamat dalam pelayanan tertahbis, maupun hidup membiara – untuk menjadi saksi Tuhan, di sini dan sekarang.

Tuhan kita terus memanggil setiap orang untuk melayani-Nya secara langsung. Jika Dia membuat kita menyadari bahwa Dia sedang memanggil kita untuk menguduskan diri seutuhnya bagi Kerajaan-Nya, janganlah takut! Ini indah – dan merupakan suatu rahmat besar.

Kita jangan menunggu menjadi sempurna untuk menjawab “ya” dengan ikhlas hati, atau jangan takut akan keterbatasan-keterbatasan dan dosa-dosa kita, tetapi mari buka hati kita bagi panggilan Tuhan.

Tuhan maharahim telah dan tetap memberikan anugerah-Nya penuh kasih secara cuma-cuma kepada kita. Ia sekaligus memanggil kita untuk ikut mengambil bagian dalam kerahiman-Nya kepada sesama kita, khususnya untuk melayani kebutuhan Gereja, yang telah didirikan-Nya. Jangan sampai kita sendiri pun lupa akan kebutuhan paroki kita ini, yakni adanya kaum muda yang sadar, rela dan siap untuk menjawab panggilan Yesus, Sang Gembala, untuk menjadi imam sebagai gembala bagi umat-Nya, dan juga untuk merelakan diri hidup sebagai biarawan/bruder atau biarawati/suster untuk ikut melayani sesama umat Allah tanpa pamrih dan secara lebih total!

Penulis : Br. Paulus FIC

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments