Hari Komunikasi Sedunia ke 53

Ibu, bapak, saudari dan saudara terkasih dalam Kristus, pada minggu ini, kita memasuki Hari Minggu Paskah VII Tahun C. Pada minggu ini, Gereja juga memperingati Hari Komunikasi Sedunia ke-53. Dalam rangka peringatan ini, Paus Fransiskus memberikan pesan yang berju- dul “Kita adalah Sesama Anggota (Ef 4:25)”. Dalam pengantar, beliau mengakui bahwa jejaring sosial sungguh membantu kita untuk lebih mudah terhubung, bertemu kembali, dan membantu satu sama lain. Namun sayangnya, jejaring sosial juga dimanfaatkan secara keliru untuk memanipulasi data demi men- dapatkan keuntungan politik atau ekonomi. Maka, lewat pesan ini, beliau ingin mengajak kita untuk merenungkan pemanfaatan jejaring sosial demi melayani perjumpaan, membangun solidaritas antarpribadi, dan membentuk komunitas persekutuan sejati. 

Istilah “jejaring” mengingatkan kita akan istilah “komunitas”. Namun, menurut Bapa Suci, berbagai kelompok jejaring sosial tidak secara otomatis identik dengan komunitas. Memang bisa dikatakan bahwa kelompok dalam dunia maya mampu menunjukkan hubungan erat dan solidaritas. Akan tetapi, kelompok tersebut seringkali tidak lebih dari sekadar kelompok individu yang saling mengenal karena memiliki minat atau kepedulian yang sama, yang dicirikan oleh ikatan antarpribadi yang lemah. Bahkan, identitas dalam jejaring sosial sering hanya didasari oleh adanya perten- tangan dengan pihak kelompok lain, yang alih-alih menyatukan, tetapi memunculkan prasangka SARA, menolak keberagaman, menebar kebencian, dan memamerkan narsisisme pribadi.

Beliau juga berpandangan bahwa di satu sisi internet membuka peluang untuk memajukan perjumpaan dengan orang lain, tetapi di sisi lain juga dapat memperparah keterasingan diri. Kaum muda adalah kelompok yang paling terkena ilusi bahwa jejaring sosial dapat sepenuhnya memuaskan mereka dalam hal relasi. Menurut beliau, kaum muda lambat laun dapat menjadi seperti “pertapa sosial”, yang mengasingkan diri mereka sepenuhnya dari ma- syarakat. Lalu, bagaimana suatu komunitas dalam jejaring sosial yang diharapkan Paus Fransiskus?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Bapa Suci mengajak kita untuk melihat gambaran “tubuh dan anggota-anggotanya” dari Santo Paulus. “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota” (Ef 4:25). Pertama, dari ayat tersebut, beliau mau menekankan bahwa kita adalah tubuh yang satu dan sama dengan Kristus sebagai Kepala. 

Maka, walaupun berbeda-beda dengan orang lain, kita tetap anggota tubuh yang satu dan sama. Bapa Suci mengajak kita untuk melihat sesama, bukan sebagai pesaing, apalagi musuh. Ingat bahwa kita tidak membutuhkan musuh untuk mendefinisikan siapa diri kita. Kedua, dusta/kebohongan merupakan penolakan yang egois terhadap orang lain yang berbeda, padahal merekapun adalah anggota tubuh yang satu dan sama. Maka dalam membangun komunitas sejati dalam berjejaring sosial, kita diajak untuk membuang dusta dan berkata benar. Hendaknya kita juga menatap, merangkul, dan berdialog dalam kasih kepada semua orang walaupun berbeda, seperti Kristus sendiri lakukan, dalam usaha mengungkapkan kebenaran dan kebhinekaan. 

Diakhir pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-53, Paus menghimbau agar kita memanfaatkan jejaring sosial atau internet secara positif. Beliau menegaskan pula bahwa penggunaan jejaring sosial merupakan pelengkap bagi sebuah perjumpaan secara fisik – tidak menggantikan perjumpaan tatap muka. Jika internet digunakan sebagai perpanjangan kerinduan tentang perjumpaan tatap muka, maka konsep tentang jejaring sosial atau internet tidak dikhianati dan tetap berdaya guna bagi komunitas persekutuan sejati. 

Paus memberi contoh : jika suatu keluarga menggunakan internet agar semakin terhubung sehingga kemudian berkumpul di meja makan dan saling bertatap muka, maka internet menjadi berdaya guna. Jika suatu lingkungan mengatur kegiatannya melalui internet sehingga berkumpul dan merayakan Ekaristi bersama, maka internet menjadi berdaya guna. Jika internet menjadi sarana untuk berbagi kisah dan pengalaman suka duka dari pribadi-pribadi yang secara fisik jauh dari kita, sehingga bersama-sama berdoa dan mencari kebaikan, maka internet menjadi berdaya guna.

Apabila situasi demikian yang tercipta, jejaring sosial atau internet dapat membuka jalan bagi terjadinya dialog, perjumpaan, “tersenyum”, dan mengungkapkan kelemahlembutan. Demikianlah jejaring sosial yang kita idamkan. Harapannya menurut Paus Fransiskus, Gereja adalah sebuah jejaring yang dijalin bersama melalui persekutuan Ekaristi, dimana persatuan dan persekutuannya tidak berdasarkan “like”, tetapi didasarkan pada kebenaran dan “Amin”, yang dengan kedua hal itu masing-masing anggota melekat erat pada Tubuh Kristus dan sekaligus terbuka menyambut orang lain.

Sumber: Rm. Vinsensius Rosihan Arifin, Pr.

Sumber gambar: Dokumen Pribadi Warta Teresa

 

 

 


Post Terkait

Comments