Halal Bihalal Mewujudkan Perdamaian dan Kasih Sayang Lintas Agama

Kata “halal” berasal dari bahasa Arab yang sudah diserap menjadi bahasa Indonesia, yaitu lawan dari kata haram sedangkan kata “bi” adalah huruf yang biasa diartikan “dengan”. Secara lughawi(makna bahasa) halal bi halal diartikan “boleh dengan boleh”. Tetapi kata halal bi halal tidak bisa diter - jemahkan secara bahasa, karena pendefinisian halal bi halal lahir dari kultur masyarakat Indonesia yaitu budaya saling memaafkan atau dengan saling berkunjung ke rumah saudara (silaturrahim). Penggagas istilah halal bi halal adalah KH Abdul Wahab Chasbullah bersama Bung Karno pada tahun 1948, istilah tersebut lahir ditengah kondisi politik yang tidak sehat dimana semua orang saling menyalahkan, hingga dibuatlah sebuah pertemuan yang bertajuk halal bi halal di istana negara di mana semua partai politik dan tokoh masyarakat dari seluruh penjuru indonesia diajak saling berkumpul untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan sebagai saudara sebangsa dan setanah air dan akhirnya mereka bisa duduk satu meja sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejumlah tokoh dan masyarakat lintas agama kabupaten bekasi bergotong royong mengulang tradisi yang ada sejak 70 tahun lalu dengan mengada - kan halal bi halal lintas agama dengan mengambil tema “Merawat Indonesia Dari Berbagai Perbedaan Menuju Perdamaian Dan Kasih Sayang” di kecamatan Serang Baru kabupaten Bekasi pada hari minggu 22 July 2018.

Kegiatan yang dihadiri lebih kurang 500 peserta ini baru pertama kali di adakan di Jawa Barat dengan peng - umpulan dana secara sukarela dari masyarakat. Ditekankan oleh Bapak Nasrul selaku ketua panitia sekaligus wakil ketua Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Barat, tidak ada kepentingan poilitik dalam kegiatan ini selain menja - lin komunikasi dan silaturahmi “Sebetul - nya yang lebih inti dari kegiatan ini menjalin komunikasi, jadi setiap kesuli - tan yang dihadapi bisa diatasi (bersa - ma) entah itu (masalah) gereja yang disegel, kita jangan sampai ada (kelompok) minoritas atau mayoritas”.

Diketahui tokoh agama dan masyarakat yang terlibat dalam acara ini dari Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Barat, Paroki Ibu Teresa Cikarang, tokoh agama Budha, Hindu dan Kristen serta pejabat daerah dan kepolisian dengan penjagaan ketat dari banser NU. Umat paroki Ibu Teresa Cikarang yang diwakili oleh umat dari lingkungan Agustinus, Veronika, Yohanes 23, Bernadeth, dan Vincentius sangat antusias mengikuti serangkaian kegiatan mulai dari tahap persiapan (sebagai panitia) hingga saat kegiatan berlangsung dengan menampilkan nyanyian lagu tahun persatuan “Kita Bhineka Kita Indonesia” dan Mars Ibu Teresa

Puncak kegiatan di isi oleh ceramah kebangsaan oleh KH. Arifin Husein, Mba. dalam ceramahnya, tokoh agama pendiri banser Nahdlatul Ulama (NU) yang biasa disapa Gus Nuril ini berpesan, bahwa beragama itu jangan menjadi Tuhan atau mengajari Tuhan kalo agama itu satu, beragama itu untuk mewakili DIA menebarkan cinta dan kasih sayang pada sesamamu sepenuh jiwa ragamu.

Kegiatan halal bi halal diakhiri dengan menyanyi bersama lagu “Damai.. Damai.. Indonesia Penuh Damai” dan semua umat beragama di kabupaten bekasi diajak untuk mentaati deklarasi komunitas lintas agama Indonesia yang berbunyi :

1. Bersedia untuk menjaga kerukunan dalama kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, serta bermasyarakat di kabupaten Bekasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

2. Bersedia untuk menciptakan suasana damai dan menghargai perbedaan keyakinan serta ajaran agama masing-masing dalam kerangka menjaga persatuan dan keutuhan negara Republik Indonesia.

3. Menolak semua bentuk paham radikalisme yang mengatas namakan agama yang dapat mengancam serta menimbulkan perpecahan di masyarakat.

4. Menolak berbagai bentuk ujaran kebencian dan provokasi yang dapat memecah belah persatuan bangsa Indonesia.

5. Bersedia mengedepankan persatuan, perdamaian, cinta dan kasih sayang serta saling menolong antar umat beragama.

Diharapkan kesuksesan acara halal bi halal ini berlanjut dengan suksesnya kita sebagai warga kabupaten Bekasi membangun kerukunan umat beragama yang bisa duduk bersama membangun kerangka persatuan bangsa.

Febri Mantika - KOMSOS


Post Terkait

Comments