Guyub Rukun Ibu-ibu Lingkungan St. Laurentius

Minggu sore, 30 Oktober 2022, Ibu-ibu Lingkungan St. Laurentius kembali berkumpul bersama. Kali ini bertempat di rumah Ibu Santi di Citaville. Selain untuk membangun keakraban antar ibu-ibu, pertemuan kali ini juga diisi dengan sharing mengenai doa Rosario. Ibu Yohana Ima Mukanasari, selaku Prodiakon Lingkungan menjelaskan tema, “Apakah berdoa Rosario berarti menyembah Bunda Maria ?”

Sharing diawali dengan doa pembukaan oleh Ibu Dewi Stanis, selaku ketua Sub Lingkungan Garden Ville. Selanjutnya Ibu Ima menjelaskan istilah Rosario berasal dari bahasa Latin rosarium, yang berarti rangkaian bunga mawar. Dalam budaya Eropa, bunga mawar memiliki arti yang sangat penting, yaitu sebagai tanda cinta atau hormat. Pada abad pertengahan, umat Kristen merangkai bunga mawar untuk dipersembahkan kepada Bunda Maria. Mereka merangkai bunga-bunga itu sambil mengucapkan litani pujian kepada Bunda Maria. Bertahun-tahun kemudian rangkaian bunga mawar ini digantikan dengan butir-butir Rosario.

Ada dua tradisi mengenai asal usul doa rosario ini. Tradisi pertama bersumber dari pengalaman Santo Dominikus, pendiri Ordo Dominikan, pada awal abad ke-12. Menurut tradisi ini, Bunda Maria menampakkan diri kepada Santo Dominikus, memberikan Rosario dan meminta Santo Dominikus untuk mewartakan doa Rosario. Bunda Maria berjanji, jika Santo Dominikus dengan setia mewartakan dan mendoakan  doa Rosario, maka karya kerasulannya akan berhasil. Memang benar, pada masa itu, Santo Dominikus dan para pengikutnya berhasil ‘mematikan’ suatu aliran sesat (bidaah Albigensian) dengan jalan menggalakkan doa Rosario.

Doa Rosario mulai terkenal di masyarakat saat ada perang salib di Timur Tengah. Pada masa itu, negara-negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, yang mengancam akan memusnahkan agama Kristen di Eropa. Saat itu jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa, dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V meminta umat Katolik untuk berdoa Rosario agar pasukan Kristen memperoleh kemenangan. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa Rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto.

 

Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut. Jadi secara umum, orang menerima bahwa kemenangan pasukan Katolik atas pasukan Turki dalam pertempuran tanggal 7 Oktober 1571, merupakan berkat/kekuatan dari doa Rosario.

Doa Rosario ini kemudian berkembang di kalangan umat beriman dan mendapat tempat istimewa dalam Gereja. Paus Gregorius XIII menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Pesta Maria Ratu Rosario. Kemudian pada tahun 1884, Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario.

Permenungan dalam Doa Rosario sendiri merupakan ringkasan dari Injil, dari peristiwa gembira, dimana Yesus dilahirkan di dunia, hingga Yesus naik  ke surga dan Roh Kudus turun ke atas para Rasul. Sehingga bila dikatakan bahwa berdoa Rosario merupakan penyembahan kepada Bunda Maria sangatlah tidak benar, karena di dalam doa Rosario, kita diajak untuk
merenungkan kisah hidup Yesus sendiri. Bunda Maria hanyalah perantara dalam menuju kepada Yesus Sang Putra Allah.

Sharing dari Ibu Ima ini dilanjutkan dengan diskusi mengenai pengalaman dan pemahaman ibu-ibu Laurentius dengan Bunda Maria. Ibu-Ibu ada yang menghayati pesan Tuhan Yesus saat disalibkan di Golgota, untuk menerima Bunda Maria sebagai ibu kita semua yang diwakili oleh Rasul Yohanes kala itu. Kita juga bisa melihat betapa Bunda Maria sangat peduli
kepada sesamanya dalam kisah perjamuan di Kana, dimana pada saat itu Yesus awalnya menolak untuk melakukan mukjizat karena waktunya belum tiba, namun berkat Bunda Maria, akhirnya Yesus mengubah air menjadi anggur untuk menolong tuan rumah yang sedang kehabisan anggur. 
Disini kita bisa melihat betapa Yesus sangat menghormati Ibunya dan mau menurutinya, maka berdoa melalui Bunda Maria menjadi jalan menuju Yesus sendiri.

Pada kesempatan ini, Ibu Ima juga sharing pengalaman pribadinya, disaat ia sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan dalam kondisi kelelahan, tetapi harus pergi ke Wisma Samadi untuk suatu tugas. Walaupun sudah terlambat, Ibu Ima tetap berangkat seorang diri ke Wisma Samadi tanpa tahu arah jalannya. Namun berkat doa kepada Bunda Maria, secara tak terduga ada teman yang menghubungi Ibu Ima dan akhirnya mengantarkan Ibu Ima ke Wisma Samadi, walaupun tujuan temannya bukan ke Wisma Samadi itu.

Usai diskusi bersama, tim ibu-ibu melakukan pengecekan persiapan tugas koor dan tata tertib di Gereja, sosialisasi dan penjualan kupon pembangunan gereja serta pengocokan arisan. Akhirnya kegiatan untuk membangun keguyuban antar ibu-ibu ini ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ibu Enny.

Liputan dan Foto : Maria Magdalena Inawati


Post Terkait

Comments