Dibantu oleh Allah

Bapak, ibu, saudara/i sekalian, ada satu operator yang bisa memenuhi semua yang kita inginkan. Proses mendaftarnya mudah, akses layanan juga mudah, dan melayani segala keluhan kita dengan baik bahkan memberi jalan keluar atas masalah kita tanpa perlu kita ungkapkan secara detil.

Model komunikasi yang ditawarkan bahkan lebih keren dibanding operator-operator yang kita tahu yaitu model komunikasi dari hati ke hati sehingga bisa dilakukan di mana saja, kapan saja. Sayangnya operator ini jarang menggunakan jasa promosi di TV, Majalah atau media massa komersil lainnya secara konvensional melainkan dengan media-media tertentu.

Apakah bapak, ibu, saudara, saudara/i sekalian sudah tahu siapa operator yang dijelaskan diatas?

Operator itu tidak lain adalah Tuhan ALLAH.

Bila operatornya adalah Tuhan bagaimana dengan kita? Bila dianalogikan, maka kita adalah HP-nya. Apakah kita sudah mengikuti gerak jaman dengan mengikuti perkembangan HP terbaru? Lalu bagaimana kita meng-update HP kita untuk menggunakan operator.

Keadaannya bisa saja seperti HP yang 'jadul' sehingga penggunaan layanan terhadap operator itu terbatas atau HP-nya keren tetapi tidak punya koneksi yang baik dengan operatornya. Analogi HP 'jadul’ memperlihatkan seseorang yang jarang aktif ke Gereja dan berdoa hanya sesekali. Sedangkan untuk orang dengan HP keren seperti orang yang aktif untuk Gereja tetapi tidak banyak berkomunikasi (aktif dalam pelayanan tapi misa kurang serius, doa dengan seadanya).

Saudara/i sekalian saya mau mengingatkan tentang operator kita yang luar biasa yaitu Tuhan Allah dan kita perlu terus menjalin komunikasi dengannya melalui segala cara yang bisa kita lakukan (contohnya mengikuti misa mingguan secara rutin, pengakuan dosa, Doa harian, dan lain-lain). Ingat untuk layanan komunikasi antara kita dengan Tuhan itu tidak perlu ada rupiah yang perlu dikeluarkan, tetapi dorongan untuk berani menjalin komunikasi dengan-Nya.

Salah satu pesan dari Santo Yohanes XIII menyatakan:
"Janganlah membiarkan diri anda dipengaruhi oleh mentalitas dunia ini yang tidak menemukan kedamaian karena telah lupa bagaimana harus berdoa, tetapi belajarlah mengharumkan semua tindakan anda dengan napas doa yang memberi kehidupan. Dengan cara ini kami yakin bahwa hidup anda akan penuh dengan ketenangan dan kedamaian, penuh dengan berkat surgawi dan duniawi, dan anda akan mampu untuk meneruskan kepada orang lain kekuatan dari semua cita-cita luhur ini, cita-cita yang menguatkan hati anda".

Komunikasi antara kita dan Dia menjadi baik bila kita lakukan secara konsisten. Konsekuensi dari komunikasi yang baik adalah terbangun pengertian antara kita dengan-Nya. Pengertian ini tidak seperti mengandaikan Tuhan yang mengerti kita tetapi juga Tuhan yang mengerti kita.

Minggu ini kita merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Dalam kesempatan ini saya mengingatkan kepada Bapak Ibu sekalian tentang pentingnya komunikasi itu. Sebelumnya saya menggunakan analogi relasi antara operator telepon dengan handphone sebagai komunikasi kita dengan Tuhan.

Dalam Surat Pertama Rasul Yohanes (lih. 1 Yoh. 4:11-16), kita ketahui bahwa Allah di dalam diri kita. Kesaksian untuk menyatakan kita berada di dalam Allah adalah dengan yang bertekun dalam doa. Bertekun dalam doa menjadi contoh tentang upaya yang diusahakan para murid untuk tetap berkomunikasi dengan Tuhan. Komunikasi ini tidak berarti berhadapan langsung tetapi juga komunikasi dari hati ke hati.

Hati yang mengarah kepada Tuhan yang membuat kita kuat dalam menjalani hidup. Para murid bisa saja merasa kehilangan pegangan oleh karena Tuhan sudah pergi. Tetapi oleh karena mereka menetapkan hati mereka maka merekapun tetap percaya. Percaya ini juga bertahan oleh karena ada perasaan tidak sendiri melainkan selalu disertai oleh Tuhan. Penyertaan Tuhan akan membuat jalan hidup kita tetap teguh dalam segala kondisi.

Apalagi bila di saat kita sedang sulit, menunggu hasil ujian, menunggu kepastian promosi jabatan, dan lainnya. Di saat seperti inilah kita bisa merasakan sungguh-sungguh tentang keberadaan Tuhan. Keberadaan yang bisa terjadi selama kita berkomunikasi dengan-Nya. Komunikasi yang tidak dibatasi dengan daya baterai tetapi kemauan untuk menyerahkan permasalahan kita.

Baiklah kita juga untuk memahami doa Yesus bagi para murid-Nya (lih. Yoh. 17:11b-12), ”Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku. Aku telah menjaga mereka, dan tidak ada seorangpun yang binasa supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.”

Pada akhirnya saya kembali mengingatkan tentang peran komunikasi dalam membangun relasi kita dengan Tuhan akan membantu kita menghadapi masalah-masalah hidup. Masalah yang kita anggap sebagai salib kita. Salah satunya adalah dengan DOA. Prinsip DOA adalah Dibantu oleh Allah. Jadi berdoa berarti membuka diri terhadap Allah.

Penulis : Rm. Camellus Delelis da Cunha, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments