Saudara-saudari yang terkasih, kita tidak asing lagi dengan Devosi Kerahiman Ilahi yang dipesankan Yesus kepada St. Faustina yang dirayakan pada hari Minggu setelah Hari RayaPaskah atau tepatnya Paskah kedua.
Dalam hari Minggu Kerahiman Ilahi ini setiap orang Katolik dapat memperoleh indulgensi penuh. Devosi Kerahiman Ilahi adalah devosi kepada cinta belas kasih Allah yang tak terbatas kepada umat-Nya. Melalui devosi ini kita menjadi bejana kerahiman-Nya, yang berarti kita bersedia untuk membiarkan belas kasih Allah mengalir melalui diri kita bagi orang-orang yang membutuhkan, kita bersedia membantu siapa saja yang berada dalam kesulitan dan menjadi saudara bagi semua orang. Dalam melakukan Devosi, dengan tujuan untuk meminta dan mendapatkan kerahiman Allah, percaya kepada rahmat Kristus yang berlimpah dan untuk mewujudkan kerahiman kepada sesama dan bertindak sebagai saluran kemurahan Allah.
Saudara-saudari yang terkasih, Devosi Kerahiman Ilahi tidak pernah dipisahkan dari penghormatan lukisan kerahiman ilahi karena lukisan tersebut memancarkan kerahiman Allah yang dilambangkan dengan dua warna yaitu warna merah dan warna pucat yang memancar dari hati Yesus Yang Mahakudus.
Warna merah melambangkan darah yang adalah hidup bagi jiwa-jiwa, dan warna pucat melambangkan air yang menguduskan jiwa-jiwa. Rahmat belas kasih Allah berlimpah dan disediakan bagi jiwa-jiwa dan tidak ada jiwa yang hancur yang tidak dibentuk oleh Allah. Seberdosa apapun kita Allah tetap mengasihi kita dan merangkul kita seperti anak domba dan meletakkannya di pundak-Nya.
Saudara-saudari yang terkasih, Devosi Kerahiman Ilahi bukan hanya sekedar doa, tetapi harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan melakukan devosi ini kita menyadari bahwa Allah sebagai pemimpin dalam langkah kita. Jadi kita harus memiliki persatuan yang erat dengan Dia, memuliakan Tuhan dan menyangkal diri dengan menolak melakukan kejahatan dan mengasihi siapa saja, berpikiran positif, sering menyambut komuni, mencintai sakramen tobat, dan setia kepada gereja Katolik (St. Faustina menuliskan : O Yesus, aku percaya akan semua kebenaran yang diajarkan oleh Gereja kudus-Mu untuk diimani), kita tidak mudah untuk mengingkari iman dan kepercayaan kita.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita percaya akan kerahiman Allah yang tiada batasnya atau apakah kita seperti Tomas dalam injil hari ini yang tidak percaya kepada para murid melihat Yesus yang telah bangkit? Ayat 25 kata Tomas “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jariku kedalam bekas paku itu, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
Tomas yang senantiasa bersama dengan para murid itu tidak mempercayai mereka, sebelum melihat Yesus secara langsung. Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan, kita sering seperti Tomas walaupun dikatakan bahwa Tuhan itu baik, pengasih dan penyayang, panjang sabar dan penuh kasih setia namun ada keraguan dalam hati apalagi pada saat kita mengalami hal-hal yang buruk, dalam keadaan terpuruk atau dalam keadaan sakit.
Tomas setelah melihat Tuhan dan meletakkan tangannya pada luka Yesus, ia yang awalnya tidak percaya namun setelah melihat dia sangat percaya dan dengan penuh iman berkata “Ya Tuhanku dan Allahku”
Saudara-saudari yang terkasih, untuk percaya akan suatu kebenaran butuh proses dan penerimaan. Marilah belajar dari St. Faustina dan Rasul Tomas yang percaya dan mengimani Yesus yang maharahim, percaya walaupun tidak melihat. Mari senantiasa meluangkan waktu walaupun dalam kesibukan kerja tepat jam tiga sore melakukan devosi kerahiman Ilahi, jik tidak ada waktu mendaraskan koronka kerahiman ilahi cukup katakan “Yesus Engkau andalanku”.
Penulis : Sr. Sisnawati, SFMA
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa