Damai Sejahtera Bagi Rumah Ini

Judul di atas kembali mengingatkan kita pada Ensilik Paus Fransiskus, Laudato si (LS), Terpujilah Engkau, (24 Mei 2015). Ensiklik ini berbicara tentang bumi sebagai “Rumah Kita” – yang harus dijaga bersama. Paus Fransiskus sangat prihatin dengan “Rumah Kita” yang semakin rusak. “Laudato Si, mi’ Signore” (“Terpujilah Engkau, Tuhanku”) .

Dalam madah yang indah ini, Santo Fransiskus dari Asisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama adalah seperti seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita dan seperti seorang ibu rupawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami, Ibu Pertiwi, yang memelihara dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, berserta bunga warna warni dan rumput-rumputan (LS art. 1). Betapa indah bumi sebagai rumah kita ini.

Tetapi, saudari ini (bumi) sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakan Allah didalamnya. Kita berpikir bahwa kita adalah tuan dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, di dalam air, di udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu, bumi terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling kita abaikan dan lecehkan. Ia “mengeluh dalam rasa sakit bersalin” (Roma 8:22). Kita telah melupakan bahwa kita sendiri berasal dari debu tanah (Kejadian 2:7); tubuh kita sendiri tersusun dari unsur-unsur yang sama dari bumi, dan udaranya
memberi kita nafas serta airnya menghidupkan dan menyegarkan kita (LS 
Art. 2).

Bagaimana sesungguhnya kualitas “Rumah Kita”?. Mari kita lihat bersama; kualitas udara, air dan tanah yang kita hidupi.

Udara
Akhir-akhir ini kita mendengar bahwa kualitas udara sangat tidak baik-baik saja. Dikatakan dalam Liputan6.com, Jakarta - Kualitas udara DKI Jakarta memburuk belakangan ini. Bahkan
pada 15 Juni dan 17 Juni 2022, kualitas udara Jakarta dilaporkan sebagai salah satu yang terburuk di dunia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan buruknya kualitas udara di Jakarta berasal dari dua sumber pencemar yaitu sumber bergerak dan sumber tidak bergerak. "Terhadap isu udara yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan oleh masyarakat, dapat saya sampaikan bahwa sumber pencemar udara di Jakarta tidak terlepas dari dua sumber yaitu sumber bergerak dan sumber tidak bergerak," kata Asep kepada Liputan6.com, Kamis (23/6/2022). Asep mengatakan sumber bergerak berasal dari kendaraan bermotor baik roda dua, roda empat, maupun dari transportasi yang ada saat ini. Sementara untuk sumber tidak bergerak berasal dari industri, kegiatan konstruksi, dan sebagainya. Asep menyampaikan sumber bergerak menjadi sumber pencemar utama yang menyebabkan polusi udara. Kontribusinya dalam menyebabkan polusi udara bahkan mencapai 75 persen. "Sehingga memang kami harapkan ke depannya masyarakat dapat memakai transportasi publik yang saat ini sudah ada, kondisi sudah sangat baik, mulai dari transportasi kendaraan angkot hingga terintegrasi dengan busway maupun kereta api dan MRT," kata Asep. Selain itu, menurut Asep, kondisi cuaca yang sejuk dan lembab di DKI Jakarta pada Juni ini, juga berpengaruh terhadap tingginya polusi udara. Sebab, mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan pribadi menjadi lebih tinggi.

Air
Kualitas air pun tidak baik-baik saja. Dunia (juga Indonesia) sedang mengalami krisis air bersih. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan dampak serius perubahan iklim terhadap ketersediaan air bersih. Perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, kenaikan muka air, dan kejadian iklim ekstrem dapat menyebabkan krisis air di Indonesia jika perubahan iklim tidak ditangani secara serius. Kemudian menurut data World Wide Fund for Nature Indonesia pada tahun 2019 menunjukan bahwa 82 persen dari 550 sungai yang tersebar di seluruh Indonesia kondisinya tercemar dan kritis. Misalnya di Pulau Jawa, Sungai Citarum dan Sungai Ciliwung merupakan dua sungai sumber air 
minum terbesar sekaligus menjadi  sungai paling tercemar. Tambah ruyam manakala air hujan tidak lagi terserap ke tanah. Sebagian besar tanah sudah ditutup dengan beton-beton; rumah perkantoran, gedung-gedung komersil. Tempat-tempat itu pun menggunakan banyak air tanah untuk hidup sehari-harinya. Ironis, di satu sisi, kita begitu rentan terancam kekeringan ketika musim kemarau, tetapi juga rawan banjir saat memasuki musim hujan. Ini disebabkan oleh curah hujan tinggi, penyerapan air ke tanah dan drainase yang buruk. Dari tahun ke tahun, banjir selalu menjadi masalah besar dan berisiko semakin parah. Bahkan, Jakarta diprediksi akan tenggelam pada tahun 2050.

Sejalan dengan itu Paus Frasiskus mengingatkan bahwa kelangkaan air yang makin besar akan menyebabkan peningkatan biaya pangan dan berbagai produk yang tergantung pada penggunaannya. Beberapa studi memperingatkan bahwa kekurangan air yang akut dapat terjadi dalam beberapa dekade jika tidak segera diambil tindakan. Dampaknya pada lingkungan dapat mempengaruhi milyaran orang; juga bisa diprediksi bahwa penguasaan air oleh perusahaan multinasional besar dapat menjadi salah satu sumber utama konflik pada abad ini (LS art. 31).

Tanah
Tanah pun telah mengalami penurunan kualitas atau degradasi tanah. Faktor yang membuat kualitas tanah menurun adalah manusia dan alam; perilaku manusia dan perubahan iklim global. Dampak dari penurunan kualitas tanah itu - Paus Fransiskus – mengatakan hilangnya keanekaragaman hayati. Lebih jauh beliau mengatakan bahwa tidak cukup untuk memikirkan
pelbagai species hanya sebagai “sumber daya” potensial untuk dieksploitasi, sementara masing-masing mempunyai nilai dalam dirinya sendiri. Setiap tahun hilanglah ribuan spesies tanaman dan hewan yang tidak akan pernah kita kenal dan tidak akan pernah dilihat oleh anak-anak kita, karena telah hilang untuk selamanya. Sebagian besar punah karena alasan yang terkait dengan aktifitas manusia. Karena kita, ribuan spesies tidak akan lagi memuliakan Allah dengan keberadaan mereka, atau menyampaikan pesan mereka kepada kita (LS art. 33).

Lalu mau apa? Harus terjadi PERTOBATAN EKOLOGIS
Unsur-unsur (udara, air, tanah dan lainnya) yang melingkupi hidup manusia semakin rusak. Tentunya niscaya kualitas hidup manusia pun menjadi menurun (sadar atau tidak). Bagaimana mengembalikan kualitas hidup  manusia itu? Paus Fransiskus mengajak serius untuk mengadakan “PERTOBATAN EKOLOGIS”. Beliau menyatakan bahwa pertobatan ekologis sangat berakar pada iman kita. Karena apa yang diajarkan oleh Injil memiliki konsekuensi riil terhadap cara kita berpikir, merasa dan hidup. Bukan berbicara tentang ide-ide tetapi semangat untuk menumbuhkan perjuangan pada pelestarian dunia.

Pertobatan ini menyiratkan berbagai sikap yang bersama-sama menumbuhkan semangat perlindungan yang murah hati dan penuh kelembutan. Pertama menyiratkan rasa syukur dan
kemurahan hati, artinya, pengakuan bahwa dunia merupakan anugrah yang diterima dari kasih Bapa, yang menimbulkan sikap pengingkaran diri dan kemurahan hati tanpa pamrih, bahkan jika tidak ada yang melihat atau mengetahuinya. Pertobatan ini menyiratkan kesadaran penuh kasih bahwa kita tidak terpisahkan dari makhluk lainnya, tapi dengan seluruh jagat raya tergabung dalam suatu persekutuan universal yang indah.

Sebagai orang beriman kita tidak melihat dunia dari luar tetapi dari dalam. Selain itu, dengan meningkatkan kemampuan khusus yang telah diberikan Allah, pertobatan ekologis mendorong orang beriman untuk mengembangkan antusiasme dan kreatifitasnya, untuk menghadapi masalah dunia dengan mempersembahkan diri kepada Allah. kita tidak menganggap kelebihan kita sebagai alasan untuk bermegah diri dan mendominasi secara tak bertanggungjawab, tetapi sebagai kemampuan berbeda yang pada gilirannya meletakan pada kita tanggungjawab besar yang lahir dari iman (LS Art. 220)

Akhirnya Paus Fransiskus mengajak semua umat Kristiani untuk mengungkapkan dengan jelas dimensi pertobatan mereka ini, dengan membiarkan kekuatan dan terang rahmat yang telah diterima meluas sampai pada hubungan dengan dunia sekitar mereka. Dengan demikian kita membangkitkan persaudaraan mulia dengan seluruh ciptaan, seperti yang dihayati oleh Fransiskus Asisi dengan begitu cemerlang (LS Art. 221).

Dengan demikian “Damai Sejahtera Bagi Rumah (Bumi) Ini”

Penulis : Rm. Ch Kristiono Puspo SJ - Koord Campus Ministry ATMI Cikarang

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments