Dalam Hidupmu Bersama, Hendaklah Kamu Bersikap seperti Yesus

Pada Minggu ini kita mendengar perumpamaan dari Yesus tentang dua anak yang menanggapi perintah bapaknya (Matius 21:28-32). Kisah ini menggiring opini kita pada sikap anak kedua yang menjawab tidak namun akhirnya menyesal dan melakukan perintah bapaknya. Keselamatan yang ingin disampaikan secara sederhana oleh Yesus adalah perbuatan dalam hidup yang membantu orang mencapai keselamatan lebih utama daripada ucapan.

Lalu apakah hidup kita harus menjadi seperti anak kedua untuk mendapat jaminan keselamatan? Pengulangan peristiwa iman Katolik yang dilakukan setiap kali upacara malam Paskah adalah pembaruan janji baptis. Dalam pembaruan janji baptis ini kita mengulang kembali iman kepercayaan kita dan menyatakan kesanggupan untuk hidup benar. Kesadaran untuk kita mengulang peristiwa demikian memang membantu untuk meneguhkan kembali di saat upacara malam Paskah namun untuk kelanjutannya sangat bergantung pada kesungguhan hati kita.

Bisakah saudara membayangkan bila dalam perayaan demikian, ada yang menjawab TIDAK? Bisa dibayangkan mata seluruh umat, petugas liturgi, bahkan imam sendiri akan mengarah pada penjawab demikian. Tentunya momen seperti ini tidak diharapkan.

Saudara/i terkasih, permenenungan yang ingin saya tekankan adalah untuk kita lebih membangun kesadaran untuk hidup sebagai anak Allah. Iblis tidak akan menghabiskan tenaga untuk menjatuhkan kita dalam dosa saat kita berdoa bersama. Iblis akan mudah menggoda untuk di saat kita sendiri dan lemah. Maka dari itu kesadaran akan membantu kita lebih peka saat godaan itu datang. Sikap anak kedua yang menyesal kemudian melakukan kehendak bapaknya merupakan contoh dari kesadaran.

Kesadaran terjadi beruntun dari ketaatan kita akan perintah Tuhan. Sebagaimana yang saya sampaikan sebelumnya tentang pembaruan janji baptis menjadi kesempatan kita untuk mengingat kembali apa yang menjadi kehendak Tuhan.

"Ya, Kami Percaya akan Allah" dan "Ya, Kami Sanggup untuk mengikuti perintah-Nya",  menjadi kata-kata yang tidak hanya terjadi di mulut tetapi terukir di hati dan nyata dalam tindakan seperti pesan Paulus kepada jemaat di Filipi : Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. (Filipi 2:2)

Berikutnya adalah penerapan yang bisa kita lakukan dalam hidup, khususnya dalam keadaan pandemi ini adalah tetap menjaga persekutuan dengan doa bersama keluarga, mengikuti kegiatan lingkungan secara daring, dan sigap bilamana tahu ada dari sesama kita mengalami kesulitan. Beban yang ditanggung bersama akan terasa lebih ringan dan kebahagiaan yang dibagikan bersama akan menjadi berlipat.

Penulis : Rm. Camel, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments