Bersaksi tentang Yesus yang Sudah Bangkit

Saya membuka catatan toper sebagai sub pamong Seminari Menengah Wacana Bhakti (SMWB) pada Kamis, 5 November 2015. Saat itu komunitas SMWB dihadapi pada keputusan pemulangan bagi satu angkatan XXVIII. Angkatan yang berjumlah 27 orang akan menjalani masa pemulangan dengan waktu minimal satu minggu dan maksimal 10 hari. Kepulangan mereka akan dimulai pada Jumat (6/11). Keputusan ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan karena mereka sudah mendengar kabar pemulangan mereka sejak awal bulan. Pemulangan bukan berarti tanpa resiko karena ini berarti mengundang pertanyaan dari berbagai pihak seperti orang tua seminaris, pemerhati seminari, dan rekan imam lainnya.

Tidak sampai lima tahun, peristiwa menarik terjadi sehingga mengingatkan saya pada kejadian “ekstra domus”. Beberapa dari mereka yang merasakan dipulangkan atau dalam bahasa pamong adalah ‘formasi bersama keluarga’ sebagai bonus. Mereka menyebut bonus karena pada kesempatan itu mereka merasakan kehidupan seperti pada siswa umumnya seperti jam diatur pribadi masing-masing, boleh membawa handphone, bebas dari waktu doa komunal.

Memang tidak sepenuhnya keadaan dipulangkan terasa manis seperti yang disampaikan tadi karena mereka yang lokasi rumahnya jauh maka akan kesulitan untuk pulang pergi sekolah. Tak jarang untuk seminaris yang rumahnya jauh malah habis biaya besar untuk ongkos dan waktu perjalanan yang lama.

Sebenarnya yang saya tangkap dari mereka adalah kesempatan untuk tetap menikmati keadaan ini walau sebenarnya mereka tidak menghendakinya. Beberapa dari mereka yang dipulangkan saat itu sudah menjadi teman dan tinggal bersama di Seminari Tinggi. Peristiwa pemulangan ini masih membekas di hati mereka dan (mungkin) ada yang merasa kurang nyaman baik dengan pamong atau temannya sendiri.

Kembali ke peristiwa yang kita alami saat ini juga merupakan masa yang ‘istimewa’. Masa dimana kedewasaan pribadi menentukan hidup panggilannya. Masa karantina diri menjadi cobaan atau batasan individu berkomunikasi satu sama lain secara bebas dan berkumpul. Doa, misa, dan makan bersama dilakukan personal. Handphone dipegang masing-masing sehingga memudahkan untuk tetap berkomunikasi secara tidak langsung. Kesamaan peristiwa yang kita alami sekarang dengan peristiwa yang menjadi pengantar renungan ini adalah momen untuk belajar menikmati keadaan walau sebenarnya kita tidak menghendakinya.

Lalu apa yang menjadi punctum di Paskah ini?

Momen Kebangkitan Yesus dilihat dari teologi sebagai peristiwa penyelamatan Allah atas manusia sebagai penggenapan janji Allah atas umat-Nya. Momen yang sedianya diwarnai dengan kemeriahan bergeser menjadi dingin dan sepi. Dingin tidak selalu bermakna negatif tetapi bila dilihat dari pandangan lain memiliki makna menyejukkan seperti saat minum minuman dingin di saat panas terik. Betul momen Paskah tahun ini dingin, setiap dari kita merayakan di kamar masing-masing dengan cara masing-masing pula (seperti: mendengar misa melalui radio, menonton siaran langsung via Youtube, atau memimpin ibadat sendiri). Dingin karena perayaan Paskah tidak dirayakan ramai-ramai dan sederhana (beberapa bagian dari liturgi Tri Hari Suci yang sedianya dinyanyikan disesuaikan dengan dibaca saja). Dingin, karena partisipasi umat sangat terbatas apalagi dalam beberapa bagian yang sifatnya dialog, seperti dalam doa umat, dan sebagainya. Dari situasi dingin inilah memunculkan kerinduan dari umat untuk bisa lagi merayakan Ekaristi secara bersama-sama dan kita juga termasuk di antaranya.

Sedangkan untuk sepi adalah gambaran untuk gereja yang tidak dipenuhi umat. Gereja yang sesungguhnya kembali dihidupkan dalam keluarga sebagai persekutuan orang beriman. Gereja yang megah dan mewah menjadi hambar namun tetap memiliki arti akan harapan agar umat bisa segera berkumpul lagi. Punctum untuk Paskah ini adalah melihat peristiwa penampakan Yesus kepada murid-murid. Para murid tidak begitu saja percaya dengan cerita akan Yesus yang sudah bangkit sampai pada akhirnya Yesus hadir di tengah-tengah mereka. Kehadiran Yesus bersama para murid menyakinkan iman karena Yesus menyakinkan mereka
dengan menunjukkan luka di kaki dan tangannya serta makan bersama.

Mari kita belajar dari situasi pada murid yang mengalami keheranan akan Yesus yang hadir di tengah mereka setelah kebangkitan-Nya. Kita belajar untuk melihat situasi saat ini sebagai momentum untuk orang mengingat kembali bahwa perlu ada jarak dengan dunia ini namun tidak demikian dengan Tuhan. Tuhan selalu menyertai umat-Nya, pengalaman Maria membuktikan bahwa dikata Tuhan wafatpun ternyata ia bangkit dalam kemuliaan. Jadi dalam masa pandemi ternyata Tuhan sudah bangkit dari kubur dan kita diutus untuk mewartakan kebenaran ini.

Penulis : Rm. Camellus Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments