Bermegah dalam Tuhan

Saudara-saudari yang terkasih dalam minggu biasa yang ke IV ini Yesus menyampaikan Sabda Bahagia kepada kita dan pastinya Setiap orang menginginkan hidupnya Bahagia tentunya kebahagiaan itu selalu dicari dan dikejar orang sebab mendatangkan sukacita damai sejahtera di dalam hidup. Yang menjadi pertanyaan adalah: Kebahagiaan seperti apa yang kita inginkan agar kita mengalami dan merasakan sukacita damai sejahtera? Disinilah letak persoalannya, sebab ada begitu banyak bentuk kebahagiaan yang diinginkan setiap orang sehingga terjadi perbedaan antara seseorang dengan orang lain dan juga terjadi perselisihan memperebutkan kebahagiaan tersebut. Persepsi kebahagian berbeda-beda menurut tolok ukur perpribadi. Kebanyakan orang menempatkan uang dan harta dunia sebagai sumber bahagia yang diinginkan, sehingga saat memiliki harta kekayaan yang melimpah akan merasa Bahagia. Tetapi Bahagia itu juga termasuk perasaan atau keadaan. Jika bahagia adalah perasaan maka tidak tergantung pada berapa banyak uang dan harta dimiliki sebab perasaan bahagia bisa terjadi tanpa harus banyak harta. Ada orang merasa bahagia bisa kumpul bersama anggota keluarga meski yang dimakan bukan makanan mahal namun gembira dapat berkumpul dan makan bersama. Jauh berbeda jika seseorang mengejar kebahagiaan itu dengan tolok ukur materi dengan banyaknya uang dan harta yang ada pada dirinya. Keadaan dirinya banyak harta membuat ia bahagia tetapi sebaliknya berkurangnya harta membuat ia cemas dan khawatir sehingga ia menjadi tidak bahagia. 

Dalam Injil hari ini mengenai pengajaran Yesus kepada murid-murid-Nya dan pada orang banyak tentang berbahagialah. Ada beberapa penafsiran tentang kata berbahagialah tetapi sesungguhnya berbahagialah yang dimaksud Yesus adalah berbahagialah yang dikehendaki Tuhan dan bukan berbahagialah menurut manusia. Sebab menurut pandangan manusia bahwa berbahagialah menyatakan suatu perasaan bahagia dalam diri manusia. Tuhan pasti memberikan segala sesuatu lebih baik dan lebih  sempurna daripada manusia inginkan. Seperti dalam ayat 3 berbahagialah orang miskin dihadapan Tuhan, karena merekalah empuya kerajaan surga, disini kita mampu menyerahkan secara total diri kita dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi namun hal yang terjadi saat kita tidak memiliki apa-apa kita kuatir akan hidup ini, dan bahkan pengaruh ekonomi banyak keluarga yang broken home sehingga saya dulu berpikir betapa bahagianya orang kaya. Namun setelah saya memahami kebahagian itu bukan hanya soal materi tetapi bagaimana cara mensyukuri dengan hal-hal apa yang dialami dan di rasakan.

Saudara-saudari yang terkasih dalam rasa bahagia kita tidak perlu bermegah diri, karena kita semua sama di hadapan Tuhan. Apa yang kita miliki saat ini semua karena kemurahan-Nya. Tetapi secara manusiawi kita selalu bangga dengan apa yang kita miliki sehingga seringkali pamer dan sombong. Saat kita bermegah di dalam Tuhan, itu juga berarti bahwa kita mau menjadikan Tuhan sebagai fokus hidup kita. Sikap dan perbuatan harus mencerminkan kasih dan kemuliaan-Nya. Pujian yang kita terima bukan untuk memegahkan diri, namun memegahkan Allah. Kehormatan yang kita terima juga harus kita teruskan kepada Allah, karena Dia yang paling pantas menerimanya. Bukan karena kuat dan hebatnya kita, melainkan karena kasih dan kebaikan Tuhan maka kita bisa sampai pada hari ini dengan banyak pencapaian berharga, sehingga sangat layak untuk kita bermegah di dalam Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih, hendaknya kita berusaha menghidupi 8 Sabda Bahagia yang Yesus sampaikan dan merefleksikan manakah yang kita inginkan: berbahagialah menurut Tuhan ataukah berbahagialah menurut dunia? St. Fransiskus menuliskan arti dari kebahagiaan sejati itu bukan karena hebatnya sehingga semua orang yang terpandang masuk ordo, dan juga bukan seberapa banyak orang yang telah ditobatkan tetapi kebahagiaan sejati itu ketika dapat menerima penolakan, penganiayaan dari saudara dengan sabar dan tidak tersinggung. “Derita singkat tetapi kebahagiaan kekal abadi”.

Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments