Saudari-saudaraku yang terkasih, Sabda Tuhan yang kita renungkan Minggu ini bicara tentang Roti Hidup. Dikisahkan juga pengalaman iman, yaitu perjumpaan Tuhan dengan Nabi Elia. Menarik untuk disimak, karena baik bacaan pertama maupun Injil mengisahkan perjumpaan Tuhan dengan umat, dan itu merupakan pengalaman hidup yang sungguh berarti.
Bagaimana perjumpaan Nabi Elia dengan Allah terjadi di Gunung Horeb (Gunung Sinai), yaitu gunung Allah, tempat Tuhan berbicara dengan Musa dalam semak bernyala, kemudian memberikan Sepuluh Perintah kepada Musa.
Nabi Elia melarikan diri ke dalam hutan/Gunung Horeb karena terancam oleh Israel. Sebelum bertemu dengan Tuhan, Nabi Elia merasa lebih kecil hati dan hampir putus asa, tanah gersang, raja jahat, para nabi pun mati. Elia pun berharap lebih baik mati saja ; dia mengalami krisis hidup! Tetapi kemudian Elia mendapatkan makanan pada waktu kekeringan dan kelaparan. Dia mendapatkan perlindungan Tuhan melalui malaikat.
Perlindungan Tuhan itu datang dua kali. Pertama, malaikat membangunkan Elia agar makan. Kedua, malaikat memberitahukan bahwa dengan kekuatan makanan tersebut ia berjalan selama 40 hari 40 malam untuk sampai di Gunung Allah (Gunung Horeb).
Dalam Injil diceritakan perjumpaan dan dialog Yesus dengan orang Yahudi. Menariknya, karena dalam perjumpaan itu Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga, yang memberi hidup kepada dunia. Yesus mempersonifikasikan diri-Nya dengan Roti Hidup. Orang Yahudi merasa risih kalau mendengar personifikasi ini, karena mereka anggap sebagai hujatan terhadap Allah. Akan tetapi, Ia tetap menekankan ajaran-Nya itu.
Dalam personifikasi Injil ini, Yesus mengambil bahan dari kehidupan sehari-hari yang sangat umum di kalangan masyarakat di tempat itu, yaitu roti. Inilah makanan pokok sehari-hari masyarakat di mana Yesus tinggal. Setiap keluarga, kaya maupun miskin, pasti memiliki roti dirumahnya sebagai makanan pokok. Jika dibandingkan dengan sebagian besar negara kita Indonesia, bisa diibaratkan dengan nasi.
Sebagai makanan pokok, roti berfungsi untuk memberi hidup, karena orang yang memakannya bisa beroleh kekuatan baru untuk hidupnya. Dengan roti, orang juga bisa melanjutkan pekerjaan, perjalanan seperti kita dengarkan dalam bacaan pertama.
Personifikasi Yesus akan makanan pokok menunjukkan peran penting hubungan setiap orang dengan-Nya. Diharapkan, kita semua umat beriman melihat nilai ini dalam hidup kita. Kita akan melihat Yesus bukan hanya sekadar pemberi makan, akan tetapi lebih jauh dari itu, Yesus sendiri adalah “makanan”.
Dengan demikian, Ia menjadi “nutrisi” yang menganugerahkan dan memperpanjang hidup setiap umat beriman. Roti Hidup yang sesungguhnya ialah Tubuh Yesus Kristus yang memberi hidup kekal. Dan inilah jaminan bagi orang yang percaya akan memperoleh hidup kekal.
Penulis : Rm. Antara, Pr
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa