Barangsiapa Merendahkan Diri akan Ditinggikan

Saudara-saudari yang terkasih dalam minggu biasa yang ke XXII ini ada dua poin yang ingin Yesus sampaikan kepada kita yaitu “Diundang dan mengundang”. Dalam injil ini Yesus berpesan ketika diundang untuk menghadiri perjamuan janganlah duduk paling depan, karena mungkin tempat itu telah disediakan bagi tamu yang lain yang lebih terhormat dan menyuruh memberi tempat itu kepadanya dan dengan malu berjalan ke belakang, tetapi duduklah ditempat yang lebih rendah, dan disaat disuruh menduduki tempat yang terhormat semua orang akan memandang penuh hormat.

Semua diantara kita pasti pernah diundang dan menghadiri undangan tersebut adakalanya menjadi tamu terhormat yang dilayani sedemikian rupa dan juga pasti pernah hanya sebagai tamu undangan biasa namun kita tetap datang dengan penuh sukacita. Poin yang kedua mengundang. Ketika kita ingin mengadakan acara kita akan mengundang semua keluarga, kaum kerabat, teman kantor, tetangga dan semua orang yang kita kenal agar ikut bergembira bersama, namun dalam injil hari ini Yesus berbicara lain Ia menghendaki agar kita tidak mengundang yang biasa diundang tetapi mengundang orang miskin, orang cacat, orang lumpuh, orang buta dan orang yang terlantar agar kita memperoleh kebahagiaan. Merenungkan perkataan Yesus ini bagaimana kita menghadiri undangan Tuhan?

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan untuk melakukan apa yang dikehendaki Yesus seperti yang diatas kita harus merendahkan diri. Sebagai umat Tuhan kita harus belajar untuk merendahkan diri. Kita harus mengakui dan menyadari bahwa kita tidak sanggup untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatan kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa ada begitu banyak keterbatasan dan kemustahilan yang kita hadapi. Namun kita juga harus ingat dan mengakui bahwa ada Tuhan yang sanggup untuk menyelesaikan masalah kita, yang sanggup untuk memberikan pertolongan, yang sanggup untuk mengatasi dan menerobos segala kemustahilan yang ada di depan kita. Merendahkan diri berarti SADAR POSISI. Menyadari posisi  kita yang terbatas dan posisi Tuhan yang tidak terbatas. Dengan menyadari posisi kita dalam undangan Tuhan kita tidak akan pernah salah tempat. Merendahkan diri juga adalah wujud nyata iman.

Seberapa rendah kita memposisikan diri kita akan merefleksikan seberapa tinggi kita memposisikan Tuhan dan hal itu harus dilakukan dengan iman, bukan hanya dengan perkataan mulut. Di dalam kerendahan hati kita Tuhan akan melihat seberapa besar iman yang kita miliki.

Karena iman kita merendahkan diri, karena iman kita percaya bahwa Dia Maha Kuasa, karena iman kita menjunjung dan mengagungkan Tuhan setinggitingginya, dan karena iman kita akan diberkati dan ditinggikan Tuhan, semakin kita merendahkan diri di bawah tangan Tuhan (dengan iman, penuh pengertian, dan penuh kesungguhan), maka semakin besar dan semakin limpah Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya dan meninggikan kita.

Saudara-saudari yang terkasih, Yesus adalah teladan sempurna dalam merendahkan diri, Dia mengosongkan diri-Nya dan taat sampai wafat di kayu salib. Kita juga harus menaruh pikiran dan perasaan yang sama yaitu merendahkan diri dihadapan Tuhan. Tetapi yang sering terjadi dalam kehidupan ini saat kita merasa hebat mampu melakukan segala hal kita memandang rendah terhadap yang lain, kita tidak peduli dengan yang ada disekitar kita tanpa kita sadari siapapun kita entah itu presiden, pejabat tinggi, pemilik perusahaan, pegawai negeri/swasta, petani, pedagang, anak jalanan, orang miskin atau papa atau apapun profesi yang kita lakukan, kita semua sama di mata Tuhan tidak ada bedanya semua berharga bagi-Nya, jadi tidak ada gunanya kita sombong dan tinggi hati.

Saudara-suadari yang dikasihi oleh Tuhan, mari kita senantiasa peka dengan undangan Tuhan yang selalu mengharapkan kehadiran kita dengan sikap rendah hati dengan demikian kita akan menghasilkan buah yang berlimpah yaitu kita akan melakukan pekerjaan dengan sopan dan setia, Memiliki hati yang lembut dan menjadi pendengar yang baik, Selalu siap sedia menolong dan membantu sesama, dan penuh dengan syukur. Kita sebagai milik Tuhan tidak akan merasa berat dan sulit untuk memberikan diri, meskipun tidak mendapatkan penghargaan dan pengakuan, bahkan ketika kita tidak melihat sekalipun akan menjadi sesuatu yang biasa bagi kita – karena orientasi kita bukan lagi kenyamanan atau kepuasan diri, melainkan Tuhan yang semakin dikenal dan dirasakan dalam kehidupan.

“Jadilah seperti bunga kecil diladang Tuhan yang tidak dilihat orang
tetapi mampu menyenangkan Tuhan”.

Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments