Bangkit dan Bersaksilah

Sore yang indah. Matahari mulai meredupkan sinarnya ketika Tere dikagetkan oleh seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di depan rumah mengendarai sepeda motor. “Ada Mas Santo?”, tanyanya kepada Tere seperti terburu-buru.

“Ada Mas, tetapi ada apa ya? Eh ternyata Mas Eki, ada apa atau mau kemana? Sepertinya Mas Santo lagi asyik baca buku dari tadi padi”.

“Oh pantas dari tadi kita WA dan telepon, tetapi sepertinya handphone dia lagi mati. Tolong bilangin dong, ada teman kami masuk rumah sakit. Dia sebetulnya sudah kerja, tetapi entah kenapa katanya belum terdaftar di BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Dia di sini tinggal kos dengan teman-teman. Kami mau ajak Mas Santo untuk lihat kondisinya seperti apa. Terus mau nanya ke perusahaan juga kira-kira teman ini bisa dapat fasilitas apa dari perusahaan. Mas Santo khan jagonya untuk jurus nego-nego atau tanya-tanya”.

Tanpa banyak tanya, Tere cepat mengayunkan langkah hendak memanggil Mas Santo. Namun tiba-tiba Mas Eki menghentikan langkahnya. “Gini, saya mau lanjut info teman yang lain, siapa tahu kami semua bisa memberikan bantuan yang maksimal. Jadi tolong  info Mas Santo aja, sekitar sejam lagi saya balik jemput. Saya mau balik ke rumah dulu, lupa bawa hp”, jelas Mas Eki diikuti ayunan kaki menghidupkan kembali sepeda motornya, lalu meninggalkan rumah Tere.

Tere masuk kamar Mas Santo. Mas Santo yang dicari, ternyata sedang asyik membaca di layar laptop di depan meja kecil samping tempat tidur. “Mas Eki barusan datang tetapi buruburu langsung pergi, sebentar lagi mau balik jemput. Katanya dia telepon dan WA Mas Santo tetapi tidak nyambung. Ada yang sakit bilangnya. Apa Mas Santo tahu siapa? Lagi baca apa sih Mas, sejak makan siang, asyiik sendiri di kamar? Jangan lupa hidupkan hp”, kata Tere memberikan rentetan pernyataan diselingi pertanyaan.

Santo diam seribu bahasa. Dihidupkannya hp kesayangannya. Benar saja, ada banyak panggilan tak terjawab dan wa yang masuk. “Oh teman baik Mas Santo. Semoga dia baik-baik saja. Masalahnya memang dia tidak punya keluarga di sini. Kami perlu informasikan ke perusahaannya, semoga dapat bantuan. Waduh, kalau belum punya BPJS gimana ya. Pinjam duit beberapa ratus ribu dulu dong Ter, takutnya memang diperlukan”.

Tere keluar sebentar lalu kembali menyodorkan amplop. “Ini bawa saja dulu. Apakah banyak teman Mas Santo yang sudah kerja mengalami nasib seperti ini ya? Bukankah harusnya semua punya BPJS?” tanya Tere lagi.

“Harusnya Ter”, Jawab Santo. “Apakah Mas Luki sudah ikut atau belum, Santo belum tahu. Beberapa tahun belakangan, ada beberapa kasus yang serupa. Sebelumnya, ada keluarga teman yang diberhentikan dari perusahaan. Ternyata dia tidak lagi membayar premi BPJS. Jadinya habis-habisan untuk pengobatannya ketika sakit. Sepertinya kesadaran akan pentingnya BPJS perlu ditumbuhkan di tengah masyarakat. Tiap orang harus menyisihkan sebagian pendapatan untuk BPJS kesehatan. Harus disejajarkan dengan kebutuhan harian”.

“Betul Mas Santo. Banyak orang melihat BPJS sebagai beban semata. Padahal di saat kita sakit, BPJS sangat membantu. Dengar-dengar ada rencana BPJS tidak lagi mengenal sistem kelas-kelas. Artinya, semua warga akan mendapat perlakuan yang sama. Harusnya dengan demikian layanan BPJS akan memberi banyak manfaat untuk banyak keluarga. Apa perlu kita sosialisasikan juga di Gereja ya?” tanya Tere.

“Kak Santo juga berpikir tentang itu Ter. Bahkan kalau perlu kita sampaikan ke masyarakat kita, di sekitar Bekasi ini. Lihat juga nih Ter ‘Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI’, buku hasil buah  tangan dari Yulius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Mengutip dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja, yakni Lumen Gentium, beliau menegaskan bawah ciri khas dan istimewa kaum awam adalah sifat keduniaannya (LG 16). Keterlibatan dalam bidang sosial, ekonomi, politik adalah sebuah keharusan yang tak dapat dipisahkan dari penghayatan iman”.

“Sangat setuju Kak Santo. Masalahnya adalah bagaimana memulai dan apa yang bisa kita lakukan?” Tere balik bertanya.

Sambil menarik nafas panjang Santo menunjuk laptop dan berkata “Dalam link https://diskes.jabarprov.go.id ini, ada sejumlah paparan Dinkes Kabupaten Bekasi. Ternyata penduduk dari Kabupaten yang memiliki 23 kecamatan dan 180 desa + 7 kelurahan ini mencapai 3.147.268 jiwa di tahun 2022. Mayoritas penduduknya adalah lakilaki (50,55 %), paling banyak menggunakan sumur bor untuk kebutuhan air (1.865.800 penduduk). Angka kesakitan didominasi oleh penyakit yang dipengaruhi lingkungan yakni infeksi pernafasan, diare dan penyakit kulit. Penyakit menular yang banyak dijumpai adalah TB paru (tahun 2022 ada 8.263 penderita). Di tahun yang sama tercatat ada 611 kasus HIV, 3.071 balita gizi kurang, 635 gizi buruk. Angka melek huruf Penduduk yang berumur 10 tahun ke atas adalah 75,54%, artinya masih terdapat 24,46% penduduk yang masih buta aksara. Akses sanitasi belum layak 23.751, BABS (Buang Air Besar Sembarangan) tertutup sebesar 38.983, BABS terbuka sebesar 12.260 KK dengan SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) sebesar 961.439”.

“Pertanyaannya adalah: apa yang bisa kita lakukan?” tanya Tere seperti sebelumnya.

“Ter, bersyukur atas hidup kita, melakukan apa yang kita bisa, dan mendiskusikan hal-hal lain dengan mereka yang punya potensi. Paroki sudah membuat Balkesmas. Kedua, mari kita gaungkan dan coba lakukan tema Indonesia Youth Day Palembang 26-30 Juni 2023 ‘Orang Muda Katolik, Bangkit dan Bersaksilah’. Saatnya kita orang muda untuk bangkit dan bergerak, bersaksi, bekerjasama dengan semua yang berkehendak baik dan melakukan apa yang bisa kita lakukan pada sesama di sekitar kita. Sore ini kami sedapat mungkin memberi bantuan kepada Mas Luki. Eh itu Mas Eki sudah datang, Kak Santo jalan dulu ya. Tolong info Ayah dan Ibu”.

“Hati-hati di jalan Mas” kata Tere sambil memperhatikan Santo dan Eki naik sepeda motor.

Penulis : Salvinus Mellese - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments