Asketisme Tubuh dan Jiwa di masa Pandemik

Buletin Warta Teresa, khususnya rubrik katekese turut serta dalam semangat dan angin segar Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (Ardas KAJ). Ada empat pilar besar yang diangkat untuk mengusung Ardas dan mewujudkan kepedulian, sikap bela rasa dan cinta tanah air. Seputar kesehatan di masa pandemik, Menghidupi semangat Ibu Teresa dari Kalkuta, Seputar dunia kerja, Seputar Ekologi menjadi tematema besar yang mewarnai profil rubrik katekese sepanjang tahun ini.

“Memelihara Tubuh-Jiwa yang sehat di tengah pandemik” menjadi tema pertama yang diturunkan dari pilar Seputar kesehatan di masa pandemik. Kita mulai dengan mengatakan lagi bahwa Gereja Katolik mengajarkan tentang keberadaan manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa yang bersifat rohani, meski pembicaraan tentang hakikat manusia telah ada sejak lama dalam sejarah manusia dalam beragam penjelasannya. Gereja Katolik mengajarkan dikotomi, bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, dimana tubuh itu bersifat fana dan dapat mati, sedangkan jiwa manusia bersifat rohani, dan merupakan prinsip utama kehidupan manusia. Itulah sebabnya, Kitab Suci kita mengajarkan bahwa tujuan iman kita adalah “keselamatan jiwa” (1Ptr. 1:9), dan Bunda Gereja bertanggung jawab atas “jiwa-jiwa” umat beriman (Ibr.13:17). Kiranya jelas bahwa jiwa tidak hanya sebatas perasaan dan kehendak, pikiran, akal budi manusia. Gereja Katolik memandang bahwa pada manusia, jiwa dan roh itu adalah satu entitas atau satu kesatuan yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Baik tubuh dan jiwa kerohanian menyatu dan membentuk satu pribadi manusiawi untuk sebuah kehidupan manusiawi yang utuh kepada diri sendiri maupun kehidupan bersama yang lain, manusiawi maupun alami (horizontal) ataupun kehidupan relasional secara vertikal bersama Prinsip Ilahi, transcendental atau Adikodrati. Tubuh dan jiwa yang hidup adalah tubuh dan jiwa dinamis, ia
mengalami peluang ataupun tantangan, kesesuaian ataupun ketegangan antara keduanya di satu pihak, dan sekligus tubuh dan jiwa dalam ‘ada
relasional’-nya dengan realitas ataupun entitas lainnya.

Pandemik berkepanjangan, yang lebih dikenal dengan virus corona 19 atau Covid-19, menjadi kenyataan sosialglobal yang harus dihadapi manusia individual ataupun masyarakat manusia, dari unit keluarga, lingkungan sosial masyarakat tingkatannya yang paling rendah atau terbatas sampai, pada tingkatan masyarakat sebuah bangsa atau negara, regional taupun masyarakat global-universal. Pandemik ini mengajarkan banyak hal untuk setiap orang dalam praktik relasionalnya dengan orang lain. “Melindungi orang lain dengan melindungi diri sendiri”, misalnya telah menjadi kesadaran baru (new awareness) sekaligus kebiasaan baru (new habit) untuk menjadi ‘hidup normal baru (new normal of life).

Asketisme dalam kekristenan lebih dikenal sebagai ajaran-ajaran, olahraga atau latihan, praktik pengndalian diri, bentuk-bentuk latihan terhadap tubuh dan jiwa untuk mencapai posisi atau kondisi tertentu dengan hasil yang kita namakan sehat, baik, kebugaran, lahiriah ataupun batiniah yang dikenal semua orang. Sebagai sebuah ajaran kristiani misalnya, ada ajaran dari Kitab Suci, “Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan” (Pengkhotbah 11:10). Manusia kristiani memelihara tubuh-jiwa untuk memuliakan Tuhan. “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mazmur 73: 26). Asketisme tubuh yang baik dan menyehatikan misalnya, dengan membiasakan untuk merawat dan memfungsikan anggota tubuh kita secara tepat dan benar. Anggota tubuh untuk melakukan perbuatan yang tepat, bermanfaat bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Kita patut bersyukur atas anggota tubuh yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk menunjang gerakan dan aktivitas serta kreativitas kita. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:13-14).

Tiga Asketisme dari Tubuh untuk Kepentingan Jiwa

Asketisme tubuh untuk menunjang kebutuhan jiwa. Pertama adalah Doa. Tubuh melakukan praktik dan kebiasaan berdoa misalnya, meruapakan aktivitas lahiriah/fisik untuk memenuhi kebutuhan jiwa yakni, ketenangan, kedamaian, kepatuhan dan hormat kepada Yang Ilahi, menjadi rendah hati, tidak angkuh dan sombong, rasa percaya diri (tentang kehadiran Tuhan), dan lain sebagainya.

Kedua adalah Puasa, merupakan bentuk latihan untuk menahan tubuh untuk tidak melakukan sesuatu secara berlebihan, bahkan bisa membatasinya. Asketisme bentuk ini membantu jiwa untuk bisa mengendalikan diri, menjadi pribadi yang tidak tamak, menyukuri apa yang ada, hidup apa adanya, bisa berbela rasa, bersikap adil, mengusahakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, jiwa memiiki keutamaan keugaharian, menjadi pribadi yang sabar, matiraga, dan lain sebagainya.

Akhirnya, “bersedekah” atau tidakan berbagi kepada orang lain khususnya kepada orang-orang yang membutuhkan, merupakan kebiasaan-kebiasaan dari tubuh untuk meningkatkan jiwa kita dalam berbela rasa, kepedulian, murah hati, suka tersenyum dan solider, berempati dengan orang lain, tidak hidup mewah dan foya-foya, memiliki hidup yang inklusif atau terbuka kepada semua pihak, kehadiran orang lain dan situaslinya menjadi bagian dari hidup kita, berpegang pada azas hidup ‘ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.

Singkatnya, semakin kita giat melakukan ketiga asketisme tubuh di atas, maka semakin kita membantu jiwa kita berada pada posisi yang ideal. Sebaliknya, keberadaan jiwa yang ideal dan hidup akan mendorong tubuh semakin terlibat dalam bentuk/kegiatan asketis yang mulia pula. Kesatuan tubuh dan jiwa digambarkan sangat bagus dalam Kitab Suci, bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam diri kita (bdk. 1Kor 6:19-20; “Jika ada orang yang membinasakan bait Allah maka Allah akan membinasakan dia, sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1Kor.3:17); “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” (Efesus 5:29); “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa semoga engkau baik-baik dan sehatsehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja” (3 Yohanes 1:2); “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments