Apa yang Dipersatukan Allah, Janganlah Diceraikan Manusia

Saudari-saudaraku yang terkasih, dalam Sabda Tuhan hari ini kita mendengar Yesus mengecam dengan keras orang-orang Farisi yang datang kepada-Nya untuk mencobai Dia, “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu!” Apa sebenarnya yang terjadi? Orang-orang Farisi tahu dengan baik apa yang mereka maksud. Mereka merujuk kepada cerita dalam Kitab Ulangan (24:1-4). Musa memang menyebut soal surat cerai. Tetapi harus diperhatikan dengan baik bahwa Musa menyebutkan hal itu bukan sebagai peraturan atau hukum yang melegalkan perceraian!

Dalam arti tertentu, Musa “terpaksa” bicara tentang hal itu karena ketegaran hati bangsa Yahudi sudah sedemikian buruk. Meski tidak sesuai kehendak Allah, praktik perceraian tetap marak dalam bangsa Yahudi.

Musa terpaksa mengambil “jalan tengah” untuk melindungi kaum perempuan sebagai pihak yang lemah dan kalah dalam masyarakat Yahudi. Merekalah yang menjadi korban dalam perceraian. Surat cerai itu untuk melindungi mereka dengan cara melarang suami-suami untuk menikahi kembali istri yang diceraikannya, kalau istri itu sudah nikah dengan laki-laki lain.

Yesus dengan keras juga menyatakan hal yang sebenarnya. Musa tidak memberikan aturan yang melegalkan perceraian, tapi ia terpaksa mengambil jalan tengah karena didesak oleh kaum laki-laki yang berdosa, untuk membatasi dan membendung akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh para suami yang tidak bertanggungjawab. Sejak awal manusia menyepelekan tata tertib yang ditetapkan oleh Allah (bdk. Kej. 1:27, 2:24). Itulah sebabnya Yesus berbicara tentang ketegaran hati!

Saudari-saudaraku, apa yang bisa kita pelajari dari Sabda Tuhan hari ini? Pertama, bahwa perceraian tidak pernah dikehendaki oleh Allah. Sejak awal dunia Allah menghendaki laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan. Perceraian hanya merupakan salah satu tanda ketegaran hati manusia!

Yang kedua lebih mendasar, jika kita ingin sungguh mengimani Yesus, kita mesti hidup mengikuti-Nya secara konsekuen di jalan-Nya. Hanya dengan iman dapat menangkap bahwa pada jalan itu ada Allah, bahwa melalui jalan itu ada Allah, bahwa melalui jalan itu Allah mewujudkan Kerajaan-Nya, dan dengan sendirinya kebahagiaan kita, manusia. Tetapi jalan itu harus ditempuh dengan sikap penyerahan diri total dan hanya mengandalkan Allah saja. Dengan kata lain, sangat jelas bahwa kunci kepada kebahagiaan adalah iman dan keterbukaan kepada kehendak Allah, bukan sikap tegar hati! Karena itu, janganlah bertegar hati!

Marilah kita mohon kepada Tuhan sumber cinta kasih, agar kita dijauhkan dari sikap ketegaran dan kesombongan hati, yang menjauhkan kita semua sebagai suami dan istri dalam keluarga. Dan semoga rahmat kesetiaan selalu ada dalam diri semua pasangan suami istri dalam membangun keluarga-keluarga Katolik di mana pun berani. Tuhan memberkati.

Penulis : Rm. Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments