Anak Manusia Datang untuk Melayani

Saat saya diminta untuk menulis renungan ini, beberapa kali saya didesak oleh editor agar menulis sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. Sayangnya saya sadar agak molor dalam pengumpulan tulisan dari batas waktu yang diberikan. Dengan penyerahan yang molor maka akan mempengaruhi kinerja bidang yang lainnya seperti urusan tata letak halaman, editorial, dan lainnya. Menyadari kekurangan saya maka saya memberanikan untuk meminta editor agar rajin mengingatkan saya sehingga pengumpulan tulisan saya ini sesuai dengan batas waktu yang ditentukan.

Dalam satukesempatan, editor saya lupa untuk mengingatkan dan saya pun menjadi lupa untuk menulis sehingga pengumpulan tuilisan renungan saya lewat dari batas pengumpulan. Dalam keadaan demikian, saya tergoda untuk marah pada editor saya untuk lalai dalam mengingatkan saya. Namun dalam refleksi, saya menemukan orang yang bertangung jawab adalah diri saya sendiri. Editor di awal sudah menjelaskan tentang batas pengumpulan dan saya malah terlena oleh karena diingatkan.

Suster, Bruder, Ibu, Bapak dan Saudara-saudari terkasih. Pengalaman yang saya ceritakan merupakan kisah sederhana yang layak direnungkan berdasar dalam bacaan Injil yang kita dengar pada hari ini, khususnya untuk “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani” (Markus 10:45). Pesan yang ingin disampaikan Yesus dimaksudkan untuk para murid mau melayani dengan tulus, bukan sekedar mencari pengakuan atau perlakuan khusus dari orang banyak.

Pengalaman saya sebagai penulis lebih ingin diingatkan agar menulis dan menyerahkan sesuai tepat, bisa jadi ada godaan untuk ingin dilayani daripada mendorong diri agar bertanggung jawab dalam mengumpulkan tulisan sebelum tenggat waktu. Tentunya pengalaman ini bisa terjadi dalam kehidupan kita dengan nuansa yang berbeda. Hal yang menggelikan adalah tingkat kesadaran kita untuk mengenal apakah kita pribadi yang memang mau melayani atau dilayani?

Dalam Injil yang kita dengar adalah keterbukaan dari Yakobus dan Yohanes yang menginginkan agar mereka mendapat tempat yang istimewa, yaitu duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus. Tempat yang istimewa untuk duduk di sebelah Yesus ternyata juga diinginkan oleh para murid lainnya. Mereka merasa lebih utama daripada yang lain sehingga layak untuk mendapat tempat yang istimewa. Yesus membalik gambaran itu dengan menekankan pada pelayanan daripada kedudukan. Pelayanan dimaksudkan dengan para murid yang mau memberi perhatian, mendengarkan, dan mau mengalahkan kepentingan sendiri untuk kebaikan bersama. Sementara penekanan pada kedudukan berlaku untuk mencari perhatian, minta untuk didengarkan, dan kepentingan diri di atas kepentingan bersama. Yesus secara langsung mengkritik sikap penguasa yang mencari kedudukan dengan mengajarkan para murid agar mencapai keutamaan panggila dengan pelayanan.

Bruder, Suster, Bapak, Ibu dan Saudara-saudari terkasih. Semoga permenungan yang kita dalam minggu ini menyadarkan kita agar kita bisa menangkap maksud Yesus dalam memurnikan pelayanan. Pelayanan yang kita lakukan bisa jadi seperti para murid untuk mendapat pengakuan dan penghormatan dari orang lain sehingga lupa untuk mengejar kemuliaan Tuhan. Setidaknya kita bisa belajar bersama dari Ignatius Loyola yang membantu kita untuk setia dalam pelayanan yang rendah hati dengan motto Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG). “Untuk Keagungan Allah Yang Lebih Besar."

Penulis : Rm. Camellus, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments