Allah Selalu Hadir

Pernah dalam suatu kelas Kristologi, dosen melontarkan pernyataan dan pertanyaan pada para mahasiswanya. “Sebagai umat beriman, kita percaya bahwa Kristus datang untuk menebus dan menyelamatkan manusia. Secara tidak langsung, diasumsikan bahwa manusia itu berdosa maka perlu seorang manusia yang murni tak bercela, berkorban untuk menghapus hutang dosa sehingga manusia bisa bersatu dengan Allah – setidaknya ini adalah pandangan Anselmus dari Canterbury. Akan tetapi, – mengkritisi pandangan Anselmus – jika dahulu Adam dan Hawa tidak memakan buah terlarang sehingga dosa tidak pernah ada, apakah Allah akan tetap turun ke dunia? Toh, dosa tidak ada dan Allah tidak perlu bersusah-susah menebus manusia, jadi Allah tidak perlu turun ke dunia.” Singkat cerita, terjadilah diskusi menarik antara dosen dan para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang menyampaikan pendapatnya, adapun mahasiswa lain yang berusaha kritis  dengan menyampaikan argumen balasan. Kelas menjadi ramai dan menarik untuk diikuti.

Jawaban dari pertanyaan di atas dapat ditemukan dalam bacaan Injil Minggu ini. Dengan tegas Yesus mengatakan alasan mengapa Allah turun ke dunia. Dikatakan-Nya demikian, “Karena begitu besar Kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Dari kutipan ini Yesus menegaskan, Ia turun ke dunia pertama-tama bukan karena dosa manusia, tetapi karena kasih Allah yang begitu melimpah. Saking melimpah kasih-Nya pada dunia, mau manusia berdosa atau tidak, Yesus akan tetap datang ke dunia. Ia ingin menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya dan bergaul dengan mereka untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya (bdk. Dei Verbum Art. 2).

Sudah sepatutnya manusia memandang kehadiran Allah ke dunia sebagai rahmat cuma-cuma yang sampai saat ini masih bisa dinikmati setiap hari. Kedatangan-Nya bukan sebagai hukuman atau hakim seperti polisi yang mengintai para pengguna jalan yang melanggar hukum, tetapi sebagai kasih dan sahabat yang begitu sayang pada kita. Temukan kehadiran-Nya baik dalam setiap pengalaman dan peristiwa harian, serta secara nyata tampak pada Perayaan Ekaristi. Bahan sederhana dalam wujud roti dan anggur – yang karena kasih-Nya – diubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang menjadi sumber kelegaan atas dahaga rohani kita. Semoga kita semua diberi iman yang tulus sehingga mampu merasakan kehadiran Allah yang begitu mengasihi kita. Tuhan memberkati.

Penulis : Fr. Marcellino Mario Amput

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments