Allah Meraja dalam Dunia

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam merupakan minggu terakhir dari penanggalan liturgi tahun A/II. Oleh karena minggu terakhir dalam penanggalan liturgi, bacaan yang digunakan adalah gambaran akhir dunia dengan Injil dari Matius yang membukanya dengan :

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia,
maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing; Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya, dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya…”

Bacaan ini mau mengingatkan manusia tentang harapan akhir zaman akan keselamatan. Pada saat akhir zaman, Yesus tampil sebagai raja yang memerintah. Praktek dalam hidup keseharian, kita selalu dihadapkan pada otoritas yang lebih tinggi, baik itu atasan, guru, Uskup, pimpinan komunitas, dan sebagainya. Otoritas ini akan mengevaluasi kinerja dengan ukuran yang jelas dan sistematis sehingga muncul kategori gagal atau berhasil.

Apakah kita juga akan dikategorikan sebagai umat yang gagal atau berhasil dengan kategori kambing atau domba melalui penggambaran Kristus sebagai Raja yang akan memerintah pada akhir zaman? Jawaban ini sangat bergantung pada refleksi pengalaman iman kita selama hidup. Pada saat penghakiman yang menjadi ukuran adalah bagaimana hidup manusia sebagai kesempatan untuk memperlakukan sesama kita seperti kepada Tuhan sendiri.

Salah seorang seniman pada suatu kali bermimpi tentang Tuhan yang akan mengunjungi seniman ini pada hari berikutnya. Seniman ini terbangun dan menyakini mimpinya adalah tanda bahwa memang Tuhan akan datang di hari itu. Dia kemudian membereskan rumah dan
bersiap menyambut Tuhan bilamana Ia datang. Saat membereskan rumah, ia kedatangan tamu yang sudah dikenalnya. Tamu ini adalah gadis yang dikenal sejak kecil dan terjerat hutang. Dia membantu gadis ini dengan memberinya sejumlah uang untuk meringankan hutang si gadis. Selesai membereskan, tamu berikutnya datang. Seniman ini berpikir bahwa inilah Tuhan, namun ternyata seorang  pengemis tua yang kelaparan. Dia mengeluarkan makanan yang dia miliki untuk memberi makan pengemis ini. Seniman ini masih berharap Tuhan datang walau hari sudah siang. Tamu berikutnya datang dan dia mengenalnya sebagai tetangga yang berkebutuhan khusus. Tetangga tersebut membutuhkan bantuan untuk menemaninya berobat ke rumah sakit. Dia sebenarnya berat untuk meninggalkan rumah karena dia takut bila Tuhan tidak mendapati dirinya di rumah. Namun akhirnya dia memutuskan untuk menemani tetangganya dan meninggalkan pesan untuk Tuhan bahwa ia sedang pergi sebentar.

Saat dia sudah selesai dengan urusan tetangganya, hari sudah malam. Seniman ini sedih karena ternyata Tuhan tidak kunjung datang. Malamnya, ia bermimpi bertemu Tuhan. Tuhan berterima kasih oleh karena sudah disambut dengan baik selama hari itu. Seniman ini heran. Tuhan menjelaskan bahwa Ia hadir sebagai gadis yang terjerat hutang, pengemis yang kelaparan dan tetangga berkebutuhan khusus yang ditolongnya sepanjang hari itu. Dia baru paham ternyata cara Tuhan hadir tidak sesuai dengan gambarannya. Seniman ini bersyukur bahwa dorongannya untuk berbuat baik membantunya untuk memahami Tuhan.

Bapak, ibu, saudara/i terkasih,
Seniman tersebut beruntung bahwa dirinya masih diselamatkan oleh kehendak baik yang ditunjukkan pada sesamanya. Bila kita melihat dalam hidup, kehendak baik ini seringkali dibenturkan pada konflik kepentingan. Seniman ini menyediakan makanan untuk pengemis,
sementara bisa saja ia menolak pengemis itu karena makanan tersebut disiapkan untuk menjamu Tuhan. Keadaan pandemi yang memberi batas untuk kita, bisa menjadi pembenaran
untuk kita berbuat baik. Sikap seniman ini menjadi teladan yaitu mengutamakan orang lain.
Maka dari itu marilah untuk kita lebih melihat sesama kita seperti Tuhan.

Santo Agustinus menulis karya Civitas Dei (Kota Allah) yang menggambarkan bagaimana kita sepatutnya bersikap sebagai anak-anak Allah dalam Yerusalem Surgawi. Kota Allah bukan sebagai gambaran yang berbeda dari dunia tapi bagaimana kita sebagai anak-anak Allah menyatakan Kota Allah dalam dunia.

Kita memperi perlakuan yang pantas untuk sesama seperti kita berlaku kepada Allah. Pada akhirnya keselamatan dari Allah menjadi nyata bukan saja di akhir dunia melainkan pada masa sekarang. Masa di mana kita bisa mewujudkan kasih Allah bagi sesama.

Penulis : Rm. Camellus Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments