Selamat memasuki masa Adven dalam lingkaran tahun liturgi yang baru, tahun B dalam bimbingan Bunda Gereja yang kudus. Hirarki di Wilayah Gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) telah berupaya mengkonkritkan bimbingan dan penggembalaan Tuhan di tengah umat-Nya secara tematik, berkesinambungan serta kontekstual, serta menjadi target/prioitas dalam kurun waktu lima tahunan. Itulah Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (ARDAS KAJ) 2022 – 2026.
Keuskupan Agung Jakarta sebagai Persekutuan dan Gerakan umat Allah yang berlandaskan Spiritualitas Ekaristis berjuang untuk semakin mengasihi, semakin peduli dan semakin bersaksi demi cinta pada Tanah Air, dengan melaksanakan nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja dalam setiap sendi kehidupan. Sekedar mengingatkan bahwa kita (Gereja KAJ) telah ‘berjalan’ bersama mengikuti ARDAS yang ada, sesuai tema dan prioritas tahunan berikut : Penghormatan Martabat manusia (2022), Kesejahteraan Bersama (2023), Solidaritas – Subsidiaritas (2024), Kepedulian lebih pada yang Lemah dan Miskin (2025), dan Keutuhan Alam Ciptaan (2026).
Bersama segenap umat di wilayah gerejawi KAJ, kita baru saja menyelesaikan tematik paket tahunan melaksanakan nilai-nilai ajaran sosial Gereja di tahun 2023 yang bertema ‘Kesejahteraan Bersama’. Tahun liturgi yang baru telah menghantar Bunda Gereja KAJ memasuki reksa kehidupan gerejawi-sosial-kontekstual sepanjang tahun liturgi 2024 dengan konsentrasi target/ prioritas yang bertajuk Solidaritas – Subsidiaritas.
Seksi Pewartaan di Paroki Cikarang dengan tim istimewa yang membidangi warta mingguan Warta Teresa, kreatif untuk menindak-lanjuti ARDAS KAJ tahunan itu dan berupaya mengkontekstualisasikannya dalam tematik mingguannya. Juga secara berkesinambungan mulai dari minggu pertama Seputar Ibu Teresa, minggu kedua Seputar Kesehatan, minggu ketiga Seputar Dunia Kerja, dan Minggu keempat Seputar Ekologi.
Tema Allah-ku Solider – Hidup Teresian dari Kalkuta, menjadi tema minggu pertama bulan Desember 2023 mengawali perjalanan panjang sepanjang tahun gereja 2024. Ada banyak perspektif yang telah berbicara banyak tentang tema besar Solidaritas Allah dan Seputar Ibu Teresa.
Beberapa hal berikut kiranya menjadi refreshing pemahaman dan penghayatan iman kita, bersama orang kudus pelindung kita, Santa Teresa dari Kalkuta.
Allah-ku Solider – Allah-ku BAPA-PENEBUSKata ‘solider’ bersinonim dengan ‘empati’ (Inggris: emphatic, empathize), atau compassion, bela-rasa, kasih-sayang. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “sifat (perasaan) solider; peduli, sifat satu rasa (senasib dan sebagainya)”. Adanya sifat mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu (senasib, sehina, semalu, dan sebagainya) terhadap keberadaan yang lain. Allah-ku solider, Allah-ku peduli; Allah-ku tidak tinggal tersembunyi dalam ke-Allah-an-Nya, tetapi meninggalkan ke-Ilahi-an-Nya untuk mendatangi manusia. Allah-ku soilider karena DIA adalah “Bapa kami yang ada di Surga” sebagaimana diajarkan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya dalam khotbah di bukit (Mat.6:5-13). Kita semua mengambil bagian dalam relasi Yesus dengan Bapa di surga karena percaya bahwa Yesus adalah Allah-ku solider, menjadi Penebus dosa umat manusia.
Allah-ku Solider: Omnipotent, Omniscient, OmnipresentAllah-ku solider, Omnipotent (maha kuasa), Omniscient (Maha tahu), Omnipresent (hadir dimana-mana. Ketiga atribut dari Allah mewartakan Allah yang “MAHA” dalam keberadaan-Nya, sekaligus mau mewartakan bahwa masing-masing atribut tidak terpisahkan; masing-masing mewartakan ke-Tuhan-an yang Esa.
Allah omnipotent menunjukkan Allah yang memegang kendali penuh atas diri-Nya dan ciptaan-Nya. Alkitab menegaskan kemahakuasaan Allah dengan mengatakan bahwa Allah melakukan apa pun yang Ia kehendaki (baca: Mzr 115:3; Yes 55:11 dan Yer 32:17). Tidak ada yang mustahil baginya (Kejadian 18:14). Firman-Nya tidak pernah kosong dari kuasa, jadi ketika Dia berbicara, segala sesuatu dalam ciptaan menaati-Nya (Yes 55:11. Allah kita maha bisa. Seringkali kita menyimpulkan dari ayat-ayat ini bahwa Allah "dapat melakukan apa saja, termasuk melakukan yang jahat dan tidak benar." Kitab Bilangan mencatat, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.
Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (23:19). Allah kita tidak dapat melakukan tindakan amoral. Karena Tuhan itu kudus dan baik secara sempurna, Dia tidak dapat melakukan sesuatu yang jahat. Kebenaran-Nya adalah konsistensi pikiran dan tindakan yang sempurna. Yesus berkata kepada, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup: tidak ada manusia yang datang kepada Bapa, tanpa melalui Aku” (Yohanes 14:6). Allah Omnipotent berarti, "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Luk.18:27). Tuhan tidak hanya mengatur peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah manusia tetapi juga kehidupan orang-orang secara individu. Dia merajut kita bersama dalam rahim ibu kita (Mzm. 139: 13-16). Dia memutuskan apakah kita akan bepergian atau tinggal di rumah (Yak. 4: 13-17). Dia bahkan mengendalikan keputusan orang-orang jahat, seperti yang kita lihat di atas. Tetapi Ia juga menggunakan kuasa-Nya untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, untuk membawa pengampunan dan hidup baru (Efesus 2:8-10). Keselamatan kita sepenuhnya adalah karya kuasa Allah, sama sekali bukan karya kita sendiri. Kita percaya kepada Kristus karena Ia telah menetapkan kita untuk hidup kekal (Kis. 13:48) dan karena Dia telah membuka hati kita untuk percaya (Kis. 16:14-15; Yoh.6:44, 65; Flp. 1:29). Jadi kuasa-Nya bersifat universal, Allah mengendalikan segala sesuatu di alam semesta (bdk. Rom. 8:28; 11:33-36; Ef. 1:11).
Allah omniscient berarti mengenal segala sesuatu, karena kuasa dan pengetahuan Allah meluas seantero ciptaan-Nya. Kuasa Tuhan bukanlah kuasa buta. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan memiliki tujuan yang cerdas, tujuan yang pasti. Dan karena, seperti yang telah kita lihat, kuasa Tuhan bersifat universal, demikian juga pengetahuan-Nya. Dengan mengetahui niat-Nya sendiri, Allah mengetahui segala sesuatu dalam diri-Nya, dalam ciptaan-Nya, dan sepanjang sejarah. Alkitab sering menunjuk kepada universalitas pengetahuan Allah (Mzm. 147:5, Yoh. 21:17, Ibr 4:12-13, 1Yoh 3:20). Sering disebutkan bahwa Allah mengetahui kejadian-kejadian terperinci di bumi, bahkan di masa depan (1Sam 10:2, 1Raj. 13:1-4, 2Raj. 8:12, Mzm. 139:4, Kis. 2:23, 4:27-28). Memang, kemahatahuan Tuhan didasarkan pada otoritas-Nya, karena Dia adalah hakim tertinggi atas segala sesuatu, dan Dia adalah standar tertinggi dari apa yang benar dan salah. Tuhan tidak hanya tahu apa yang benar, tetapi Dia adalah kebenaran itu sendiri (Yoh. 14:6). Jadi tidak dapat dibayangkan bahwa Tuhan bisa salah tentang apa pun. Pengetahuan Allah adalah berkat yang berharga bagi manusia. Kitab Mazmur 139 menekankan betapa dalamnya Allah mengenal kita, di mana pun kita berada. "Pengetahuan seperti itu terlalu luar biasa bagi saya; itu tinggi; Aku tidak dapat memperolehnya" (ay. 6). Pengetahuan Tuhan tentang kita mengejar kita ke mana saja kita pergi: ke surga, ke kuburan, ke tempat yang jauh, ke tempat- tempat gelap (ayat 7-12). Dia mengenal kita apabila dia membentuk kita dalam rahim ibu kita (ayat 13-16), dan Allah tahu, keadaan masa kecil, setiap hari dalam kehidupan kita di bumi (ayat 16). Manusia pendosa seharusnya menjadi malu dan takut; tetapi bagi sang pemazmur pengetahuan Tuhan tentang kita adalah indah dan baik (ay. 17-18); akhirnya pemazmur berdoa agar Tuhan akan memanfaatkan pengetahuan ini untuk menuntunnya kepada pertobatan dan pengampunan dosa (ayat 23-24).
Allah omnipresent, kehadiran-Nya di setiap tempat dan waktu. Allah-ku solider omnipresent, berarti Allah "hadir" di sini bersama kita, benar-benar di sini, bukan absen. Kehadiran Allah tidak bisa dibayangkan secara fisik, manusiawi. Allah tidak memiliki tubuh; Dia tidak material. Jadi bagaimana kita bisa tahu kapan Tuhan hadir atau tidak ada? Jawaban
Alkitab adalah bahwa Allah hadir dimana-mana, karena seperti yang telah kita lihat, kuasa dan pengetahuan-Nya ada di mana-mana. Jika setiap peristiwa, di mana-mana, terjadi oleh kuasa-Nya, dan jika Allah memiliki pengetahuan yang mendalam tentang segala sesuatu yang telah diwujudkan oleh kuasa-Nya, maka tentu saja DIA tidak absen, tetapi hadir dalam setiap peristiwa, meskipun kehadiran-Nya tidak persis sama dengan kehadiran makhluk-makhluk fisik. Jadi kemahakuasaan dan kemahatahuan Tuhan menyiratkan kemahahadiranNya. Kemahahadiran-Nya adalah kehadiran baik di tempat maupun di waktu.
Mazmur 139 menunjukkan bahwa Allah hadir di setiap tempat. Allah adalah Pencipta langit dan bumi, jadi DIA ada di setiap lokasi. DIA juga Pencipta waktu maka Allah mengatasi – berada di luar waktu, alias yang tanpa awal atau akhir. Jadi dia telah hadir di dunia sejak penciptaannya, dan tidak akan pernah ada waktu di mana dia absen. Maka konsep Allah adalah “Alpha – Omega” (Awal-Akhir) harus dibaca dalam artian bahwa DIA mengawali dan menggenapi semua. Jadi Allah Omnipresent bukan hanya kesimpulan teoritis. Itu adalah kebenaran penebusan yang berharga. Meskipun kita telah berdosa dan layak menerima penghakiman Allah, Allah datang kepada umat-Nya yang setia dan menyatakan kepada mereka "Aku akan menyertai kamu." Ini berarti bahwa Tuhan ada di sini, di mana pun kita berada, tetapi juga bahwa Tuhan ada di pihak kita. Dia bersama kita, bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk mengampuni dan menyelamatkan kita dari dosa. Jadi kehadiran Allah adalah penyertaan-Nya, seperti kata-Nya kepada Ishak, "Aku akan menyertai engkau dan akan memberkati engkau" (Kej. 26:3); kehadiran yang merangkul menjadi satu, sebagai perjanjian penebusan kita,
"Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu akan menjadi umat-Ku" (Kel. 6:7, 2Kor. 6:16; Yer 7:23, 11:4, 24:7, 30:22, Yeh. 11:20, 14:11, 36:28, 37:27, Ibr 11:16, Why. 21:3). Kelak Yesus meyakinkan para murid yang diutus-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19-20).
Hidup Teresian Kalkuta: Kristiani, Altruis, Dedikatif, Inklusif-UnitatifAllah-ku solider atas cara yang khas nyata dalam diri Santa Teresa dari Kalkuta. Orang kudus ini menghayati benar tema kita “Allah-ku solider” dalam keseluruhan hidup dan karyanya beserta kelompok religiusnya, “Misionaris Cinta Kasih”.
Hidup Teresian dari Kalkuta pada dasarnya adalah ciri hidup kristiani sejati, atau hidup yang berpusat pada Kristus sendiri. Bunda Teresa menemukan Kristus dalam diri orang kecil, yang terbuang dan hidup sekarat. Orang kudus ini mempraktikkan kata-kata Yesus, “…ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Matius 25:34–36). Cinta Allah telah dia terima dengan cuma-cuma maka dia pun dengan hati tulus membagi kepada yang lain cinta. Bunda Teresa pernah menulis, “Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.” (Spink, Kathryn,1997,hal. 37).
Hidup yang berpusat kepada Kristus mendorong Santa Teresa dan para penerus semangatnya menjadi ‘lupa diri’ (selfless) dan memilih lebih mengu tamakan orang lain, altruis. Relasi sosial menjadi relasi pribadi; orang lain bukan menjadi obyek yang bisa diperalat untuk mengejar kepentingan dan kepuasan diri sendiri. Hidup Teresian mempraktikkan kata-kata Yesus, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 10:43-45).
Hdup kristiani merupakan corak hidup untuk melaksanakan pesan Kitab Suci, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran… Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol. 13:12,14). Cinta kasih sejati adalah pemberian diri dan hidup, dedikatif, rela berkorban seperti Kristus sendiri, rela mengorbankan hidupnya untuk keselamatan umat manusia. Hidup Teresian mencontoh hidup Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filp. 2:6-8).
Akhirnya, hidup Teresian bersifat inklusif, terbuka kepada semua orang, tanpa sikap diskriminatif atau membeda-bedakan pihak lain. Menghayati semangat ‘Allah-ku solider’ menjadi pilihan tanpa reserve, bersifat total dan universal serta unitatif atau mempersatukan semua pihak sebagai ‘satu keluarga’. Ciri dan tujuan hidup Teresian mau melaksanakan doa Yesus sendiri, ut omnes unum sint, seperti dicatat (lengkap) oleh Penginjil Yohanes, “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu” (Yohanes 17:20–23).
Penulis : Bruno Rumyaru - Tim Kontributor Kolom Katakese
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa