Pada akhir pekan ini, Paroki kita mengadakan Camp Anak Misioner dalam rangka Hari Anak Misioner Sedunia ke-177. Hari Anak Misioner Sedunia dirayakan Gereja bertepatan dengan Hari Raya Epifani (Penampakan Tuhan). Dalam tulisan ini, kita diajak untuk memahami semangat dasar Hari Anak Misioner Sedunia.
Kesadaran untuk menumbuhkan semangat misioner dalam diri anak-anak dan remaja berawal dari sosok Mgr. Charles de Forbin-Janson, Uskup Nancy, Perancis pada pertengahan abad ke-19. Mgr. Charles sadar bahwa ia tidak bisa pergi menjadi misionaris secara pribadi. Maka, ia meminta saran dari Pauline Jaricot, pendiri Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman.
Dari perbincangan itu, Mgr. Charles mendapatkan ide untuk melibatkan anak-anak di Perancis dalam membantu anak-anak di Tiongkok dari bencana kelaparan. Ia menggagas gerakan “Satu Salam Maria Setiap Hari, Satu Koin Kecil Setiap Bulan” sebagai gerakan awal dari Serikat Anak/Remaja Misioner yang didirikan pada tanggal 19 Mei 1843.
Tujuan utama Serikat ini tampak dalam semboyan Mgr. Charles, “Children Helping Children”, yang artinya “Anak membantu Anak”. Semangat dasar anak dan remaja misioner adalah doa, derma, kurban, dan kesaksian. Anak-anak ditumbuhkan kesadarannya untuk menjadi misionaris dengan membantu kebutuhan teman-temannya di belahan dunia yang lain.
Gerakan Mgr. Charles merupakan hal yang revolusioner. Serikat ini pun menyebar di Belgia, Spanyol, Italia, dan berbagai negara lainnya. Pada tanggal 3 Mei 1922, Paus Pius XI mengangkat serikat ini menjadi Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner. Lalu, pada tanggal 4 Desember 1950, Paus Pius XII menetapkan Hari Anak Misioner Sedunia dirayakan pada Hari Raya Epifani. Pada saat ini, Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner telah menyebar ke lebih dari 150 negara.
Tahun 2020 adalah Hari Anak Misioner Sedunia ke-177 yang mengangkat tema “Aku Bintang Misioner, Aku Mewartakan Injil”. Dalam pesannya pada Hari Raya Epifani, Paus Fransiskus mengingatkan undangan Nabi Yesaya dalam merayakan kelahiran Yesus, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yes 60:1). Nabi Yesaya mendorong kita untuk bertemu dengan Yesus yang dilahirkan di Betlehem. Meskipun ada banyak tantangan untuk sampai kepada-Nya, kita harus berusaha terus-menerus sampai bisa bertemu dan bersujud menyembah Bayi Yesus seperti yang dilakukan para Majus dari Timur. Hal ini dipandang Bapa Suci sebagai bentuk iman yang sejati, yang membuka hati dan membiarkan diri dibimbing oleh kehendak Tuhan.
Paus Fransiskus berpesan bahwa perjumpaan dengan Yesus senantiasa melahirkan transformasi hidup dari yang lama ke yang baru. Bapa Suci mengajak kita untuk memiliki keberanian untuk membuka diri terhadap cahaya Yesus yang datang dari Betlehem. Paus Fransiskus juga mengundang anak dan remaja misioner untuk menjadi laskar Yesus dan menjadi saksi Injil di keluarga, di sekolah, dan di tempat-tempat mana pun mereka berada.
Penulis : Fr. Carolus Budhi P
Sumber:“History,” dari Pontifical Mission Societies: http://www.ppoomm.va/ index.php? mnu=opere& opera=POSI&lang=EN; Paus Fransiskus, “Aku Bintang Misioner. Aku Mewartakan Injil” Pesan Paus dalam Hari Anak MIsioner ke 177, Missio KKI Edisi 56, Tahun XXIV, Januari 2020, 3-5.
Foto : Dokumentasi pribadi Warta Teresa