Adven, Natal dan Yesus Tunawisma - Allah yang Hadir dalam Diri Sesama

Saat saya makan di Food Court Mal Lippo Cikarang, merasakan suasana yang lain. Iringan instrumen Natal mengiringi makan malam saya. Rasa hati jadi mengharu-biru walaupun yang dimakan hanya tempe penyet hehehe, seakan saya dibawa pada suasana malam Natal padahal masih masa Adven lho. Hati ini dibawa loncat dan lupa bahwa masih masa Adven.

Tapi itulah logika pasar yang kadang meniadakan masa Adven (reflektif) dimana kita masih mempersiapkan diri untuk kehadiran Sang Imanuel. Kita perlu menyadari suasana ambiguitas (tarikan pasar dan masa Adven) saat ini agar kita tidak terjebak untuk loncat ke Natal dan meniadakan masa Adven kita

Lalu bagaimana kita menyikapi ambiguitas (suasana pasar dan adven)? Baik kita belajar dari Timothy Schmalz; seorang pematung, yang membuat patung Yesus Tuna Wisma. Kita masih ingatkan! Semoga bisa membawa kita  mempersiapkan diri dalam masa Adven dan Natal kita menjadi semakin bermakna.

*****

Awalnya, mendengar kata Yesus Tuna Wisma, urat dahi kita jadi berkerut dan tidak terima; mengatakan iki opo tho, neko-neko wae; ayak-ayak wae? Apalagi seandainya kalo mendengarkan kata Yesus Gelandangan, makin menjadikan kita emosi dan bisa jadi demo bergelombang-gelombang nanti hehehe. Sabar dan tenang dulu ya. Dua kata itu sama sekali tidak bermaksud untuk melecehkan dan merendahkan Yesus, Sang Ilahi. Sama sekali tidak. Karena kita tahu bahwa menghujat Allah dosanya tidak diampuni.

Mari kita duduk bareng. Melihat latar depan dari Yesus Tuna Wisma. Aslinya, Patung Yesus Tunawisma (Jesus Homeless) dibuat oleh seniman patung; Timothy Schmalz, kebangsaan Kanada. Beliau terkesan dengan seorang gelandangan yang terbaring di kursi taman dengan selimut atau mantol yang hampir membungkus seluruh tubuhnya. Dan ironisnya saat itu adalah masa Natal. Dimana orang “hiruk-pikuk” dengan pesta; makan dan minuman yang berlimpah, dan dendang lagu “silent night” dinyanyikan dengan berbagai genre, tetapi gelandangan itu menderita, tanpa makan, tempat yang layak dan mungkin hanya dendang silent night yang sungguh mendaging-pilu dalam dirinya. Timothy sangat terkesan dengan situasi yang kontras ini. Dengan kontemplasi tingkat “dewa” Timothy kemudian membuat patung Jesus Homeless. Timothy ingin mengatakan “inilah rupa Allah yang hadir pada masa ini”, Jesus Homeless, dituliskan menjadi Yesus Tunawisma; diksi yang paling sopan daripada Yesus Gelandangan.

Perdebatan tentang nama ini juga pernah terjadi. Setidaknya tahun 2013, ketika si pematung bertemu dengan Paus Fransiskus dalam sebuah audiensi di Vatikan. Si pematung ingin bertemu langsung dengan Paus Fransikus dan memberikan patung Jesus Homeless. Si pematung sangat adore pada Paus terkait dengan preferential options for the poor. Dalam benak si pematung Yesus tunawisma sangat sesuai dengan cara bertindak Paus terhadap orang miskin. Alhasil Paus menerima patung itu; mencium dan memberkatinya.

Muncullah Jesus Homeless dan perdebatan selesai. Jesus Homeless mau menjadi pengiring kita untuk melihat makna Natal sesungguhnya. Apa makna Natal ? Adalah Immanuel, Tuhan menyertai; Allah yang hadir. Allah yang hadir bukan hanya menyertai melainkan Allah yang berbelarasa terhadap kemanusiaan. Allah membela kemanusiaan kita; yang porak poranda ditata kembali, yang bertikai didamaikannya dan yang hidup dalam dosa diangkatnya menjadi anak Allah. Belarasa itu sangat kuat dalam diri Allah sehingga Beliau yang mahakuasa menjadi terbatas; pencipta menjadi ciptaan dan Raja menjadi hamba. Beliau mau hadir di dunia. Sungguh luar biasa Allah kita.

Allah yang hadir dan berbelarasa untuk kemanusiaan. Dengan tajam, diungkapkan pada bacaan Minggu Adven ke tiga kita saat ini; Matius 11: 2-11: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”. Semakin diperkuat siapakah Allah itu dalam Matius 25:35-40 “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”Semakin tampak Allah yang hadir dalam diri orang yang membutuhkan.”.

Konon kabarnya, ayat kitab suci ini juga menjadi inspirasi Kardinal Hummes yang kemudian membisiki Kardinal Bergoglio beberapa saat setelah konklaf memutuskan dia menjadi Paus. “Jangan melupakan orang miskin”, itu yang dibisikan lirih oleh Kardinal Claudio Hummes dari Brasil kepada Paus terpilih. Akhirnya beliau memilih Fransiskus sebagai “nama baptis” dan menjadi spiritualitas pelayanannya. Paus terpilih sangat memahami konsekuensi dari pilihan nama santo “Fransiskus Asisi” itu. Kata kunci yang kuat dari Fransiskus Asisi itu adalah miskin dan damai. Dan kita bisa melihat dari tinda kan dan pernyataan Paus Fransiskus, gereja seperti rumah sakit di tengah medan perang; gereja harus terbuka siapa pun. Membuang makanan berarti kita merampas yang menjadi hak orang miskin. Dan ketika di depan 5000 media Paus Fransiskus mengatakan “Betapa saya mendambakan gereja yang miskin dan yang diperuntukan bagi orang miskin” (16 Maret 2013) Paus Fransiskus mau mengundang kita untuk melihat Allah yang hadir dan berbelarsa. Inilah Natal saat ini.

Natal adalah Allah yang hadir. Allah yang hadir untuk semua orang; memberi damai dan suka cita. Perjumpaan Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Azhar Ahmad Al-Tayyib di Abu Dhabi, (4 Februari 2019), menghasilkan Dokumen Persaudaran Abu Dhabi. Perjumpaan ini ingin mengulang yang telah pernah dimulai oleh Santo Fransiskus Assisi bertemu Malik Al kamil; untuk membicarakan hidup damai bersama (agustus 1219). Dokumen Abu Dhabi tidak berbicara tentang agama; melainkan tentang damai dan kemanusiaan. Yang menarik dari pertemuan itu mengatasnamakan; atas nama orang-orang miskin, atas nama korban kekerasan, atas nama kebebasan beragama, atas nama keadilan dan belas kasih dan lainnya.

Bagaimana Allah yang hadir dalam pandemi ini. Kita mungkin akan sedikit berkerut dan menjadi tawar dan kecut hati mana kala memikirkan situasi pandemik ini. Tidak mudah melihat Natal dalam situasi pandemi ini. Tetapi, Allah tetap hadir saudara-saudariku; sesamaku; gusti mboten sare; Allah tidak tidur. Yang tidur itu kita.

Kembali lagi Natal adalah Allah yang hadir, berbelarasa pada kemanusiaan. Kehadiran Allah mau mengajak kita untuk “U-turn”; ditikungan pertama itu berbaliklah. Berbalik untuk semakin melihat Allah yang hadir dalam diri orang-orang yang kecil, lemah, miskin, tertindas dan disabilitas dan tentunya bersama dengan Allah memperjuangkan untuk hidup yang lebih baik. Hal itu yang diharapkan oleh Timothy pematung Jesus Homeless, mau mengatakan “yang terbaring di kursi taman saat Natal, itulah Yesus, mari kita bantu mereka karena membantu mereka yang membutuhkan ”.

Semoga logika pasar tidak membelokan masa adven kita untuk mempersiapkan diri melihat sesama seperti Allah memandang dan untuk itu Allah hadir ke dunia

Penulis : Ch Kristiono Puspo SJ - Koord Campus Ministry ATMI Cikarang

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments