Adven - Mengubah Gue Sentris ke Allah Sentris

Aroma Natal sudah dirasakan dimana-mana. Apalagi di mal-mal. Walaupun makan pecel lele sekalipun serasa sedang makan babi kecap hahaha. Seorang teman mengatakan “serasa sudah Natal ya Romo!”. Teman lain berkata “Natal itu adalah bulan Desember, masuk bulan Desember itulah Natal”. Inilah logika “pasar”; agar menarik orang untuk mempersiapkan Natal dengan membeli barang-barang yang baru. Tentunya rasa itu tidak kita temukan saat prapaskah (Paskah). Padahal Paskah lebih punya arti penting bagi kita orang Katolik. Yo wes piye meneh.

Bagaimana kita menyikapi situasi ini? kita patut bersyukur bahwa Gereja Katolik punya masa persiapan; yaitu Masa Adven (ada empat minggu sekurangnya masa itu). Dan saat ini kita memasuki masa Adven ke empat. Sosok Yohanes dalam Injil Minggu Adven ke dua ini memandu kita untuk “Bertobatlah dan berikan dirimu untuk dibaptis dan Allah akan mengampunimu”. (Mrk. 1: 4). Panduan (seruan) Yohanes jelas. Kita diajak untuk mempersiapkan diri dengan bertobat. Menurut refleksi saya, bertobat merupakan usaha perubahan dari gue sentris menjadi Allah sentris. Lebih Allah yang menjadi aroma dalam seluruh pikiran, perasaan dan perbuatanku daripada kepentingan gue. Hal ini, tentunya perlu usaha kuat dan jujur untuk itu secara pribadi. Paus Fransiskus terkait dengan usaha pertobatan ini mengatakan: “Adven adalah sebuah momen penuh rahmat untuk melepas topeng-topeng kita – setiap kita memilikinya – dan bersama dengan mereka yang rendah hati, dibebaskan dari anggapan keyakinan akan kecukupan diri, pergi ke pengakuan dosa demi “dosa-dosa kita, yang tersembunyi, dan menyambut pengampunan Tuhan, meminta pengampunan dari orang-orang yang telah kita sakiti”, “Inilah cara memulai hidup baru (Allah sentris),” kata Paus Fransiskus (Vatikan, 7 Des, 2022).

Dalam diri Yohanes sangat tampak hal tersebut “sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku. Membungkuk dan membuka tali  kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”. (Mrk. 1: 7-8). Yohanes sangat paham siapa dirinya, walaupun (mungkin) dia viral dan famous pada saat itu. Dia banyak dicari orang untuk minta dibaptis (orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem), mungkin minta foto selfie setelah dibaptis dan bisa jadi dianggap “setengah dewa”. Tapi Yohanes tidak terpukau masuk dalam tarikan “logika pasar”. Dia tidak “menjual diri” dengan mengaku-ngaku dirinya adalah Mesias atau sejenisnya. Yohanes tidak tergoda itu semua; cukup dengan “memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan”. Inilah tanda kuat bahwa Yohanes sosok yang (selalu) Allah sentris bukan gue sentris. Kita mesti belajar dari Yohanes.

Bagaimana dalam hidup sehari, perubahan dari gue sentris menjadi Allah sentris? Kita bisa belajar dari Film “Life is Beautiful” bukan versi Korea ya! Tetapi versi Italia. Sebuah film yang dirilis 1997, berkisah seorang Yahudi, seorang ayah Guido dalam masa kekejaman Nazi ingin selalu menyelamatkan keluarganya. Inti film itu, akhirnya Guido tewas oleh Nazi. Dia adalah sosok individu yang proaktif dan tidak pernah melihat suatu kejadian dari sisi negatif dan berusaha menghadapinya dengan senyuman dan candaan. Bahkan dia juga berusaha sekuat tenaga membuat orang di sekitarnya tidak larut dalam kesedihan dan ikut tertawa dengannya. Allah sentris ketika kita tidak lagi melihat negatif persoalan-persoalan dan terus menghadapi dengan terang kasih Allah (senyum) maka symptom Allah sentris ada dalam diri kita. Tapi sebaliknya, bila persoalan-persoalan selalu ditanggapi dengan negatif (tidak jernih, emosi, dan dengan kaca mata kuasa) maka gue sentris sangat tampak. Bila situasi gue sentris terjadi – tidak ada gunanya – Allah lahir berulang-ulang kali. Natal hanya ritual saja.

Adven mengajak kita untuk bergeser (berubah) dari gue sentris ke Allah sentris. Dan mempersiapkan kita menjadi palungan yang nyaman bagi Allah yang lahir ke dunia. Allah tidak usah mencari penginapan. Diri kita tempat Allah bersemayam.

Selamat menekuni Masa Adven.

Penulis : Ch. Kristiono Puspo SJ

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments