Kondisi sulit saat pandemi tidak menghalangi beberapa paroki di Keuskupan Agung Jakarta untuk melaksanakan kegiatan penerimaan Sakramen Krisma. Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa (PCGIT) adalah salah satunya. Tanggal 28 Mei 2022 pukul 17.30 WIB lalu, PCGIT berhasil menerimakan sakramen Krisma kepada ratusan peserta Krisma.
Berikut 4 hal menarik di balik pelaksanaanya.
1. Durasi Pembelajaran Krisma singkat tapi padat.Pembelajaran Krisma sebelum pandemi biasanya berlangsung 6 bulan. Karena pandemi, durasipersiapan Krisma dilakukan secara online dan dipersingkat menjadi 3 bulan namun tidak mengurangi esensi dari pembelajaran tersebut.
“Yang menarik adalah pembelajarannya singkat namun tetap materi tersampaikan dengan baik”, kata salah satu peserta. Hal ini tidak terlepas dari kemasan materi yang kreatif dan sistematis. “Materi yang dipersiapkan menarik dan mendalam,” ungkap seorang pengajar. Selain pembelajaran, peserta Krisma wajib mengikuti Ibadat tobat dan absolusi umum secara online. Rangkaian persiapan Krisma ini diakhiri dengan kegiatan rekoleksi secara hybrid pada tanggal 22 Mei.
2. Jumlah dan antusiasme pesertaWalaupun pembelajaran dilakukan secara online di masa pandemi ini, jumlah peserta banyak seperti terlihat di grafik berikut: 358 calon peserta Krisma mengikuti kegiatan pembelajaran Krisma dari awal sampai akhir. kebanyakan berasal dari sekolah sekitar Cikarang. Sementara 10 orang berasal dari sekolah di luar kota seperti Jogjakarta dan Klaten bahkan ada yang mengikuti dari luar negeri.
Karena 1 orang sakit dan 1 lainnya mengalami kecelakaan menjelang hari H, 356 peserta pada akhirnya berhasil menerima sakramen Krisma yang diberikan langsung oleh Bapak Uskup Ignatius Suharyo. Jumlah ini termasuk tinggi dalam situasi yang tidak mudah ini. Selainitu, peserta antusias mengikuti pembelajaran. ”Anak-anak antusias belajar untuk masuk jenjang Krisma.”, imbuh seorang pengajar.
3. Sekolah penyelenggara dan pengajarBerbeda dari kegiatan pembelajaran Krisma sebelum pandemi, pembelajaran Krisma ini melibatkan 28 pengajar dari 3 sekolah: Don Bosco (6), Pangudi Luhur (12) dan St. Leo (10). Pilihan ini sangat tepat karena para pengajar tersebut sudah terbiasa mengajar secara online sejak pandemi. Tidak heran kalau salah satu peserta mengungkapkan, “Pembelajarannya menarik”.
4. Misa offline dengan umat terbanyak sejak pandemiJumlah yang hadir Misa penerimaan Krisma yang dilakukan secara offline ini memecah rekor jumlah umat misa offline sejak pandemi. Total 1059 tiket Belarasa dikeluarkan untuk peserta Krisma, pendamping, petugas dan umat. Karena tempat terbatas, 267 umat yang sudah mendaftar di Belarasa tidak disetujui.
5. Kotbah Bapak UskupYang tidak kalah menarik adalah khotbah Bapak Uskup Ignatius Suharyo. Beliau mengungkapkan bahwa “Menerima sakramen Krisma adalah sebuah keputusan Iman. Keputusan untuk memberikan ruang, waktu dan tempat yang lebih besar kepada Roh Kudus di dalam peziarahan iman. Dengan demikian keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan kita yang sederhana maupun yang besar tidak hanya sekedar keputusan dan pilihan kita sendiri tetapi merupakan wujud kehendak Tuhan di dalam diri kita masing-masing.” Selanjutnya, melalui cerita 4 orang anak yang masingmasing berjuang untuk bersaing dan pada akhirnya hancur, Beliau mengingatkan kita bahwa oleh kuasa Roh Kudus, umat yang menjalankan peran berbeda-beda dipersatukan dalam satu Tubuh Kristus.
Walaupun pandemi, kegiatan Penerimaan Krisma berjalan lancar. Banyak hal menarik yang meneguhkan iman. Mudah-mudahan Roh Kudus yang telah dicurahkan mendapat ruang, waktu dan tempat dalam peziarahan iman 356 peserta Krisma sehingga berani menjadi saksi-Nya dalam mewartakan kabar gembira di tengah dunia.
Penulis : Emilius German
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa