Surat Gembala Tahun Keadilan Sosial 2020 - Amalkan Pancasila : Kita Adil Bangsa Sejahtera

Surat Gembala Tahun Keadilan Sosial 2020 - Amalkan Pancasila : Kita Adil Bangsa Sejahtera

Para Ibu dan Bapak,
Para Suster dan Bruder, Frater dan Para Imam, Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Yesus Kristus,

1. Kita baru saja meninggalkan tahun 2019 dan memasuki Tahun Baru 2020 dengan penuh harapan dengan bekal Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia. Pesan itu mendorong kita untuk hidup sebagai sahabat bagi semua orang. Dengan bekal itu pula kita umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta memasuki Tahun Keadilan Sosial, dengan semboyan : Amalkan Pancasila: Kita Adil Bangsa Sejahtera.

2. Dengan sengaja Tahun Keadilan Sosial ini kita mulai pada Hari Raya Penampakan Tuhan. Harapannya, ketika kita menjadi pribadi-pribadi yang semakin adil dan ketika bangsa kita semakin sejahtera, wajah Tuhan Sang Kasih akan semakin nyata. Untuk menggali makna Hari Raya Penampakan Tuhan ini, kita diajak merenungkan kisah orang majus dari Timur (Mat 2:1-12). Kisah ini berakhir dengan kata-kata ini, “... mereka pun pulang ke negerinya lewat jalan lain”. Menurut kisah, mereka pulang lewat jalan lain untuk menghindarkan diri dari Herodes. Tetapi secara simbolis, kata-kata itu dapat diartikan secara lain: siapa pun yang benar-benar mengalami penampakan Tuhan – artinya mengalami kasih dan kerahiman-Nya -, dia tidak akan lagi hanya menapaki jalan hidup yang sama. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan selalu mengubah dan membarui serta membuahkan sukacita (Mat 2:10). Ini berlaku baik untuk kita masing-masing sebagai pribadi, keluarga, paroki maupun keuskupan, bahkan Gereja semesta. Itulah sebabnya Gereja semesta, dan tentu saja Keuskupan Agung Jakarta, berusaha untuk terus-menerus membarui diri.

3. Kesadaran bahwa Gereja harus terus menerus memurnikan dan membarui diri diungkapkan dengan sangat jelas dalam ajaran resmi Gereja: ”Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja no 8.). Arah pertobatan dan pembaruan Gereja itu juga amat jelas diungkapkan dalam ajaran resmi Gereja yang lain: ”Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” (Konstitusi Pastoral Tentang Gereja Di Dunia no 1).

4. Dasar dan arah pembaruan ini ditegaskan dengan lebih jelas oleh Paus Fransiskus. Pembaruan yang kreatif akan muncul ketika kita hidup atas dasar nilai-nilai Injili. Paus Fransiskus menyatakan, “Kapan pun kita berusaha kembali kepada sumber dan memulihkan kesegaran asli Injil, jalan-jalan baru muncul, lorong-lorong kreativitas baru terbuka, dengan berbagai bentuk ungkapan, tanda-tanda dan kata-kata yang lebih fasih dengan makna baru bagi dunia dewasa ini...” (Seruan Apostolik Sukacita Injil no 11). Atas dasar itu Paus menyatakan: “Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri.” (Idem, no.49). Sebelumnya Paus menyatakan, “Sukacita dalam mewartakan Yesus Kristus diungkapkan baik dengan kepeduliannya untuk mewartakan-Nya ke wilayah-wilayah yang lebih membutuhkan bantuan maupun dengan senantiasa bergerak keluar ke daerah-daerah pinggiran dari wilayahnya sendiri atau ke lingkungan sosial budaya yang baru.” (Idem, no. 30).

5. Di Keuskupan Agung Jakarta, dinamika pertobatan dan pembaruan yang diharapkan terus-menerus berjalan, sejak beberapa tahun lalu kita rumuskan dalam rangkaian tiga kata ini: semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa. Kita ingin bertumbuh menjadi pribadi yang semakin beriman. Tanda bahwa seseorang beriman secara benar – bukan sekedar beragama – ialah kalau iman itu berbuah persaudaraan. Kalau seseorang mengaku dirinya beriman tetapi hidupnya tidak berbuah persaudaraan yang sejati, imannya bisa diberi tanda tanya besar. Selanjutnya kalau seseorang mengaku dirinya berjiwa persaudaraan, tetapi hidupnya tidak berbuah semangat bela rasa, mutu persaudaraannya juga bisa diberi tanda tanya yang besar. Dinamika seperti itu akan membawa kita kepada keyakinan, bahwa sebagai umat Tuhan kita semua diutus untk melibatkan diri dalam setiap usaha untuk mewujudkan kebaikan bersama, dengan memberi perhatian lebih kepada saudara-saudari kita yang kurang beruntung.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

6. Seperti sudah saya sampaikan pada awal Surat Gembala ini, pada tahun ini kita umat Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta ingin mendalami, menghayati dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam sila ke-lima Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dengan semboyan Amalkan Pancasila: Kita Adil Bangsa Sejahtera. Usaha ini mesti kita tempatkan juga dalam usaha kita untuk membarui diri dalam dinamika Semakin Beriman, Semakin Bersaudara, Semakin Berbelarasa.

7. Dalam rangka bertumbuh dalam semangat belarasa itu, Paus Fransiskus mendorong kita untuk berani pergi ke wilayah-wilayah pinggiran kepada saudari-saudara kita yang terpinggirkan pada zaman kita sekarang ini. Mereka itu misalnya adalah saudari-saudara kita yang tidak mempunyai Akte Kelahiran atau Kartu Tanda Penduduk, sehingga tidak bisa memperoleh hak-hak mereka sebagai warga negara; atau yang lebih kasat mata, saudari-saudara kita, anak-anak kita yang tinggal di jalanan, di bawah jembatan layang atau di gerobak-gerobak sampah; mereka adalah saudari-saudara kita yang menjadi korban perdagangan manusia, dan mereka yang secara umum bisa disebut kecil, lemah, miskin dan tersingkir; mereka adalah saudari dan saudara kita, anak-anak kita yang belum menikmati keadilan sosial. Kepada saudari-saudara kita itu, Paus Fransiskus mendorong kita untuk “bergerak keluar ... mengambil langkah pertama dan terlibat ... siap menemani .... dengan kesabaran dan daya tahan kerasulan” (Sukacita Injil No. 24).

8. Kita boleh bersyukur karena di keuskupan kita perutusan untuk pergi ke “pinggiran” semakin dikembangkan secara kreatif dalam berbagai macam gerakan belarasa. Kita yakin, sekecil apapun yang kita lakukan, itu adalah sebentuk keterlibatan kita dalam pembaruan keuskupan kita dan tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan untuk bertumbuh menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup Kristiani. Panitia Penggerak Tahun Keadilan Sosial Keuskupan Agung Jakarta sudah menyiapkan pedoman dan berbagai inspirasi untuk membantu kita menghayati dan mewujudkan Tahun Keadilan Sosial.

9. Satu hal amat penting yang tidak pernah boleh kita lupakan adalah tugas kita untuk merawat dan mengembangkan kesadaran akan keadilan iklim. Sikap adil tidak hanya tertuju bagi sesama manusia, tetapi juga bagi alam semesta, bagi lingkungan hidup kita. Perubahan iklim, menurut banyak ahli, sudah mencapai tingkat darurat yang dapat berdampak semakin buruk untuk kehidupan manusia. Kita dituntut untuk terus membarui kepeduliaan kita terhadap lingkungan hidup kita. Tanpa kepedulian itu, saudari-saudara kita yang secara sosial ekonomi sudah terpinggirkan, akan semakin terpinggirkan dan makin menderita. Bangsa yang sejahtera mengandaikan tanah, air serta udara yang terpelihara dan bersih. Bapa Suci Fransiskus dengan tegas menyatakan keprihatinan ini dalam Ensiklik Laudato Si yang sangat kaya akan gagasan dan pesan. Oleh karena itu, gerakan peduli lingkungan hidup, yang tentu saja berkaitan dengan masalah pemanasan global, perlu terus diusahakan tanpa kenal lelah

10. Akhirnya, marilah kita saling mendoakan, agar kita masing-masing, keluargakeluarga dan komunitas kita serta seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta terus bertumbuh dalam dinamika semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbelarasa. Terima kasih atas berbagai peran Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater dan rekan-rekan imam, kaum muda, remaja serta anak-anak dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai bersama. Terima kasih secara khusus atas keterlibatan seluruh umat yang telah menanggapi ajakan untuk berbelarasa bagi Keuskupan Agats, Asmat, Papua. Dukungan kita amat berarti bagi Keuskupan Agats. Berkat Tuhan selalu menyertai kita semua, keluarga-keluarga dan komunitas kita.

Jakarta, Desember 2019

† Ignatius Kardinal Suharyo

Dipost Oleh David

Post Terkait