Gerakan Ekologis - Satu Langkah dalam Keberagaman

Perhatian dan tendensi pewartaan iman memang tidak hanya terbatas dan seputar altar di Gereja. Kehidupan liturgis sakramental ataupun devosional memang tidak hanya berakhir di dalam gereja. Maka ada ungkapan, tidak hanya ‘ekaristi adalah hidupku’ tetapi juga ‘hidupku yang ekaristis’, atau ‘liturgi menjadi sumber dan tujuan hidup’ tetpi juga ada paradigma ‘hidup yang liturgis’, ‘kehidupan konkrit sebagai liturgi yang hidup’. Gerakan Ekologis dan Budaya Kehidupan, Contemplatio in actione, domestica ecclesiale nel mondo salute menjadi pokok-pokok refleksi kita melalui media ini.

Gerakan Ekologis dan Budaya Kehidupan
‘Gerakan’ dimaknai sebagai perbuatan atau keadaan bergerak, pergerakan, usaha, pergerakan, kegiatan dengan tujuan tertentu (gerakan - Wiktionary bahasa Indonesia). Gerakan Ekologis merupakan aktivitas atau usaha manusia dari dirinya untuk dirinya dan berdampak kepada yang lain; juga menyangkut kegiatan orang atau kelompok dan hasilnya.

Gerakan dan usaha yang dilakukan pertama-tama untuk melestarikan keberadaanya yang relasional, misalnya air yang mengalir sesuai arus, lautan dan gelombang laut bergerak searah tiupan angin, kelompok politik mempunyai usaha dan gerakan mengejar tujuannya, dan lain sebagainya.

Lain halnya dengan gerakan ekologis, yang dimaknai sebagai gerakan atau usaha dan aktivitas kehidupan kita, personal atau komunal, interaktif, konstruktif, internal ataupun eksternal dengan siapa saja, dan konstruktif.

Gerakan atau usaha dan aktivitas yang membangun suatu budaya kehidupan. Kita mulai dari kehidupan keluarga batih, suami dan istri, orang tua dan anak-anak. Kehidupan keluarga yang berbasis budaya kehidupan yang ekologis diwarnai saling tanggungjawab dan relasi yang baik satu sama lain. Masing-masing menjalankan fungsi dan tanggung jawab yang ada secara baik dan benar itu sudah bernuansa ekologis dan berbudaya (kehidupan). Sikap dan kebiasaan rumahan untuk memilah dan membuang sampah yang benar pada tempatnya tentu saja sudash termasuk gerakan ekologis karena demi kehidupan yang lebih luas atau menyangkut
kepentingan orang banyak. Kebiasaan untuk mengambil makan tidak lebih dari hak dan kebutuhan sendiri sehingga tidak meninggalkan sisa yang terbuang juga menjadi gerakan ekologis dan membangun tanggung jawab untuk kehidupan orang lain.

Kebiasaan untuk tidak merugikan orang lain, misalnya menjaga ketentraman pihak lain. Singkatnya, kewajiban kita adalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menikmati apa yang menjadi haknya sebagai seorang pribadi manusiawi.

Dengan kata lain tidak memperalat orang lain untuk kepuasaan diri kita sendiri. Kewajiban kita lainnya adalah memperlakukan habitat lainnya, makhluk hidup seperti hewan dan tetumbuhan, hutan, bahkan sumber daya alami seperti bumi, tanah air dan udara secara proporsional dan tidak mengeksploitasinya secsara berlebihan. Gerakan ekologis berbasis budaya kehidupan ini ini sekaligus mengimplementasi ketakwaan dan kepatuhan kita dengan Prinsip Ilahi, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita melaksanakan hukum dan kehendak-Nya untuk ‘meng uasai’ bumi dan segala isinya demi kehidupan yang layak manusiawi (bdk. Kej. 1:28).

Contemplatio in actione, domestica ecclesiale
Ungkapan asing (Bahasa Italia) mengandung pengertian bebas berikut, “sikap refleksif dalam aksi-karya, menjadikan keluarga sebagai gereja rumahan” dalam dunia yang telah tertebus. Setiap aktivitas dan gerakan manusia harus menjadi gerakan aktualisasi hidup refleksif, dalam kesadaran, di bawah kontrol dan tidak terbawa oleh perasaan semata apalagi hanya berupa upaya mememnuhi keinginan biologis semata. Kontemplasi dalam aksi atau hidup yang refleksif menyangkut 3 hal, yakni “belajar bagaimana menjadi pribadi manusiawi”, “belajar melihat” dan “belajar untuk mencintai”. Sikap refleksi yang pertama membawa kita pada kesadaran diri di hadapan Tuhan, “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (Mzm. 46:10). Hidup refleksif ini menghantar kita untuk, “belajar melihat” bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, apa yang benar dan apa yang salah”. Maka sebelum bertindak
kita perlu tahu bahwa adalah baik untuk menjadi seorang pribadi di hadapan Tuhan. Sikap refleksif ini membuat kita menjadi pribadi ekologis yang integrative dengan kehidupan bersama, baik kepada sesama maupun kepada alam semesta.

Ecclesia domestica, menunjuk tidak hanya kepada Gereja lokal, gereja domisili, gereja setempat tetap sekaligus menunjuk kepada keluarga sebagai gereja (St. Agustinus). Masing-masing keluarga menjadi ‘gereja yang hidup’ melaksanakan ritualitas agamawi-kristiani-katolik, tetapi sekaligus melaksanakan apa yang menjadi pokok ajaran dan iman gerejawi di tengah masyarakat dan dunia yang telah ditebus oleh Yesus Kristus, Tuhan yang menjadi manusia. Kristuslah pokok keselamatan bagi semua orang, baik di dunia fana ini maupun untuk dunia akhirat (Bdk. Kis.4:12).

Penulis : Bruno Rumyaru - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments