Biji Sesawi Bisa Tidak Tumbuh Ketika …

(Biji) Sesawi tidak sama dengan daun hijau yang ada di mangkuk mie ayam kita lho; itu sawi hijau. Sama sekali berbeda. Apakah anda tahu wijen yang nempel pada onde-onde, nah biji sesawi kecilnya seperti itu. Setelah ditanam di lahan yang subur, kemudian bisa mencapai tiga meter lebih tingginya. Menjadi rindang. Burung-burung hinggap di sana sambil bernyanyi trilili… tralala; orang-orang berteduh dan angin sepoi-sepoi menerpa tubuhnya. Bisa membuat hati tentrem ayem. Itulah biji sesawi. Lalu refleksi apa yang bisa diambil? Saya menawarkan pokok yang bisa menjadi renungan kita; iman itu bertumbuh pasti lewat pencobaan atau tantangan yang ada dalam diri kita; yaitu pengalamanpengalaman pahit yang membuat kita tidak berkembang.

Bagaimana iman (biji sesawi) kita bertumbuh, menjadi semakin lebih baik? Lihatlah biji sesawi yang kecil pastinya tidak ditanam terlalu dalam awalnya. Biji dimasukan sedikit lebih dalam dari permukaan tanah. Setelah itu pelan-pelan bertumbuh; akar yang semakin tumbuh kedalam, batang mulai menaik dan daun-daun kecil mulai tumbuh dan seterusnya. Gambaran yang kita harapkan; biji tumbuh menjadi pohon yang rindang tanpa gangguan apa pun. Padahal dalam kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. Ketika biji ditanam pun sudah harus dirawat atau dijaga dengan sungguh; bila tidak dijaga maka bisa jadi digondol semut, atau hama lainnya. Semakin besar, tidak kurang juga tantangan dan hambatannya. Sampai akhirnya menjadi pohon yang rindang. Pararel dengan biji sesawi, iman kita pun sering menghadapi tantangan dan godaan. Tantangan bukan dari luar diri kita tapi dari dalam diri kita; mungkin itu adalah masa lalu yang pahit hidup kita, yang kemudian memunculkan amarah dan kebencian pada saat-saat ini. Mungkin juga ketakutan dan putus asa kita yang memunculkan sikap apatis dalam diri kita. Mungkin juga kepentingan-kepentingan diri yang berlebih sehingga membuat rancu tujuan hidup manusia diciptakan di dunia ini.

Pengalaman masa lalu manusia tidak semuanya bahagia, pasti juga ada kepahitan dalam hidupnya. Pengalaman kepahitan (duka, luka dan kesedihan) bisa terjadi karena relasi orangorang yang kita cintai (dekat) dengan kita; orang tua, saudara (adik dan kakak), teman-teman atau “mantan terindah” - hihihi. Pengalaman ini bisa menjadi “batu sandungan” bagi iman kita untuk bertumbuh dan berbuah. Semakin runyam mana kala pengalaman pahit itu saat ini menjadi kemarahan dan kebencian; ketakutan dan putus asa; kepentingan diri dan kekacauan tujuan (aku) diciptakan. Pastinya membuat iman kita semakin tidak “teduh” dan meniadakan panggilan hakiki iman kita; yang diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan begitu menyelamatkan jiwanya.

Pengalaman pahit ini sangat berpengaruh dan menjadikan iman dan panggilan hidup kita tidak berbuah. Lalu bagaimana? Padahal semua manusia pasti punya pengalaman-pengalaman hidupnya. Apalagi pengalaman pahit; punya pengaruh kuat dalam diri manusia.
Kira-kira begini. Bagaimana bila kita melihat pengalaman tidak dari kaca mata pengalaman baik – buruk, sakit – sehat, usia pendek – usia panjang, untung – malang dan manis – pahit.

Tapi kita melihat dari kacamata yang lain; pengalaman hidup aku itu adalah pengalaman perjalanan cinta Allah pada diriku. Entah dalam manis atau pahit pengalamanku. Jadi pengalaman hidupku itu bisa diberi judul: Pengalaman Allah Mengasihi Aku. Yang menjadikan kita merasa terus dikasihi oleh Allah. Tidak ada pengalaman yang tanpa campur tangan Allah; membuat hati kita lembut sehingga kita dengan mudah melihat Allah dalam hidup kita.

Kacamata yang baru membawa kita bisa semakin “Merdeka Menjadi Anak Allah”. Dan dengan demikian iman kita bisa bertumbuh dan berbuah dalam hidup ini. Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak berduri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat(Mat. 13: 4-8).

Semoga Iman kita “jatuh” ditempat yang baik; yaitu yang selalu melihat diri kita dicintai Allah. Oleh karena itu kita berani berbagi cinta Allah kepada semua orang.

Penulis : Ch Kristiono Puspo SJ - Koord Campus Ministry ATMI Cikarang

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments