Banyak yang Dipanggil, Sedikit yang Dipilih

Saudari-saudara yang terkasih, menyimak perumpamaan yang disampaikan Yesus, mungkin kita sampai pada pemikiran bahwa, awalnya Tuhan mengundang orang-orang tertentu untuk berbahagia bersama-Nya. Tentu ada yang diundang dan tidak. Yang menarik lagi bahwa undangan itu disampaikan secara berulang dan dengan mengingatkan kembali. Tetapi juga menarik bahwa mereka yang mendapat undangan justru orang-orang yang tidak tertarik untuk menghadiri undangan tersebut. Ada orang yang dianggap pantas untuk diundang tapi tidak menjawab undangan tersebut. Ada yang sebenarnya tidak diundang tapi dengan tanpa persiapan ikut masuk ke ruang perjamuan tersebut. Atau dalam bahasa Kitab Suci datang tanpa pakaian pesta. Tentu pakaian pesta yang dimaksud bukanlah pakaian jas, batik, gaun atau sejenisnya, ini hanyalah gambaran/simbol. Kiranya yang dimaksud pakaian pesta itu adalah bahwa kita harus “mengenakan semangat seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri”, semangat hidup dalam iman, harapan dan kasih akan Tuhan Allah dan sesama.

Saudari-saudara, sebagai orang Katolik yang merasa telah mendapat kartu undangan dari Tuhan, kadang kita berpikir bahwa bukankah kita sudah memiliki kartu tanda masuk? Kadang kita sudah merasa cukup puas bila termasuk sebagai seorang yang sudah memegang kartu undangan itu. Saudari-saudari, menarik juga ketika undangan itu disebarkan dan ada yang tidak mengindahkan undangan tersebut. Perlakuan terhadap mereka yang tidak menjawab undangan itu sungguh di luar dugaan. Bagaimana seseorang bisa memaksa orang lain untuk hadir bila itu adalah sebuah undangan? Bukankah undangan artinya memberi kebebasan kepada setiap orang, entah untuk menjawab atau mengabaikan undangan itu karena berbagai alasan yang mungkin lebih penting? Sikap tuan pesta terhadap mereka yang tidak menjawab undangannya mungkin terlalu berlebihan. Tetapi hal demikian pun bisa menjadi fakta dalam kehidupan kita. Ada orang yang diundang, tidak pernah menjawab undangan, akhirnya tidak pernah diberi undangan lagi dan dianggap tidak ada lagi.

Dalam kegiatan basis/lingkungan, mungkin sering dijumpai hal seperti itu. Ada orang yang berkali-kali diingatkan entah melalui surat undangan, ditelpon, diinfo melalui SMS atau pun WAG, tetapi tetap saja menjadi domba hilang yang tak pernah menjawab undangan itu. Akibatnya, yang mengundang juga menjadi bosan/malas bahkan marah seperti tuan pesta itu. Mengundang dan diundang memanggil kita juga untuk bersikap arif dan bijaksana. Bagaimana ketika kita berhadapan dengan undangan Tuhan sendiri? Bukankah sudah berulangkali undangannya diedarkan untuk kita? Sadarkah kita bahwa kadang kita juga terlalu repot mengurusi hal-hal yang membuat kita tak menjawab undangan keselamatan yang ditawarkan Tuhan? Atau mungkin kita justru bersikap meremehkan undangan Tuhan dengan cara menyibukkan diri dengan berbagai hal?

Marilah saudari-saudara, kita tanggapi undangan keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing agar kita ikut serta dalam kebahagiaan Tuhan. Amin.

Penulis : Rm. Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments