Aku akan Mengikuti Engkau, Kemanapun Engkau Pergi

Bruder, Suster, Ibu, Bapak, dan Saudara terkasih,

Seorang frater menerima perutusan untuk menjalani tahun pastoral di tempat yang terpencil. Saat bertemu dengan pembesarnya, frater ini mendapat informasi seputar tempat perutusannya. Di tempat yang akan didatanginya nanti adalah tempat yang belum dijangkau dengan listrik dan air yang layak. Listrik dihasilkan dari penggunaan genset pada sore sampai malam dan air harus menimba dari sumur. Frater tersebut menerima informasi dan saat diberi kesempatan oleh pembesarnya untuk bertanya, maka pertanyaan dari frater itu adalah, “Apakah di sana ada internet?”

Dihadapkan pada cerita di atas, saya tertarik dengan frater ini untuk menerima perutusan dari pembesarnya dengan hidup dalam keterbatasan. Frater ini tidak menolak perutusan yang diterimanya. Hal yang menarik dari frater ini adalah pertanyaan tentang adanya internet di tempat perutusannya nanti. Menandakan bahwa internet lebih penting daripada kenyamanan dengan adanya listrik dan air bersih.

Frater ini bisa jadi memiliki keterikatan dengan media sosial dan mengganggu totalitas pelayanannya bersama umat di daerah pedalaman. Perutusan yang diterima oleh frater ini sebenarnya ditujukan agar ia merasakan kehidupan umat yang sederhana dan bisa ikut andil dalam pelayanan nyata bersama umat.

Bacaan Injil yang kita dengar pada hari ini mengisahkan tentang murid yang akan mengikuti Yesus (lih. Luk 9:51-62), namun mereka mengajukan syarat yang mereka hendak penuhi dari mereka sendiri, diantaranya hendak menguburkan ayahnya dahulu dan izin untuk berpamitan dengan keluarganya. Pengantar kisah dari frater yang hendak dikirim ke tempat perutusan memiliki kesamaan, yaitu mereka masih menoleh ke belakang.

Apakah dengan demikian Yesus hendak mengutus murid-Nya dengan masa lalu murid seperti dengan keluarganya? Apakah kesalahan frater tersebut untuk menanyakan kondisi yang ia belum mengerti, terkait dengan kehadiran internet di tempat perutusannya kelak?

Ajakan permenungan dalam kesempatan ini adalah soal totalitas dalam mengikuti Yesus. Menerima perutusan sebagai langkah maju dan lepas bebas. Seperti saat kita berkendara maka arah pandangan ke depan lebih luas daripada kaca spion, melihat ke belakang. Hal ini menandakan bahwa panggilan kemuridan mengantarkan pada kemajuan nilai kehidupan. Sementara lepas bebas berarti menandakan kita sebagai anak-anak Allah, bebas dari memakai sarana yang ada tanpa terikat akan sarana. Keterikatan ini membuat kita bergantung dan sulit untuk beradaptasi dengan tempat yang baru.

Bruder, suster, ibu, bapak dan saudara sekalian, bacaan kedua yang diambil dari Surat Paulus kepada jemaat di Galatia (lih. Gal. 5:1.13-18) menjadi pegangan untuk kita memahami akan totalitas dalam mengikuti Yesus. Paulus menulisnya sebagai berikut; “Saudara-saudari, Kristus telah memerdekaan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau tunduk lagi di bawah perhambaan.” Galatia 5:1 Surat Paulus mendorong kita untuk menjalani hidup dalam perutusan dengan bersikap sebagai orang dengan bebas, tanpa terikat dengan beban dan masa lalu. Paulus menegaskan dengan kebebasan ini kita dibimbing oleh Roh sehingga dapat memahami rencana Allah.

Mengikuti Roh menjadikan kita pribadi yang bebas sehingga bisa dengan total memahami rencana Allah. Marilah kita memahami dan melepaskan kesenangan yang menghalangi perjalanan kita dalam mengikut Tuhan.

Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments